Cerita Sore

Jalan Pendaki Itu… Speechless!

Sehari setelah terkapar dikarenakan Hazelnut Chocolate Milk Tea (yang enak banget rasanya tapi bikin sekarat beberapa jam kemudian) serta sakit yang datang tiba-tiba, akhirnya aku dapat ide untuk menulis. Iya, menulis di blog baru yang belum ada isinya karena blog yang lama lupa password.

Bersama beberapa tugas dan aroma kopi yang bikin ngiler. Serta ditemani hujan yang mengguyur Jakarta dari pagi buta sampai sekarang.

Sore ini, aku persembahkan sebuah tulisan untuk Jalan Pendaki. Ini bukan tentang seberapa intimnya kami, ini tentang… Hemn… apa ya. Intinya mah ini semacam curhatan aku tentang gunung dan aku yang setelah baca semua tulisan di Jalan Pendaki.

Oke, tabah ya baca tulisan yang agak nggak jelas ini.

***

acen-kartu-nama-blkg (1)

Berawal dari Bulan Oktober 2014, bulan dimana aku yang selama ini jadi anak rumahan yang biasanya main ke Mall atau jalan-jalan keluarga (semacam ke Ancol, Dufan, Taman Mini, dll) berubah arah jadi anak gunung. Ide awal sih mau liburan kece ke Bromo, tapi apa daya katanya ke Bromo itu biayanya mahal. Sebagai Karyawan biasa yang masih tinggal sama Ortu, akhirnya aku dan bayi gajah Sheila (bercanda kok sheila) memutuskan untuk belok ke Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo doangan? Iya… Kita berdua sadar diri kok. Da kita berdua mah apa atuh, lari di Senayan aja sengklek apalagi naik gunung.

Dengan segala persiapan yang cukup komplit (sepatu beli karena ukuran kaki yang kecil, keril pinjeman, sleeping bag pinjeman, headlamp pinjeman, matras pinjeman) aku semakin gencar untuk Searching dan mau tahu kayak apa sih Ranu Kumbolo itu.

Nah… saat itulah aku nggak sengaja lihat Artikel Aneh ini. Yang dibuat oleh seorang bernama Acen Trisusanto atau dia membahasakan dirinya sendiri Babang Acen. Seketika aku melongo, terkejut, dan SPEECHLESS! Aku pikir, ini artikel kok nggak sesuai ya? Itu judulnya Tips (Tetap) Kece Ketika Mendaki Gunung, tapi yang nulis kok nggak kece. Gggrrr!

Yah, namanya juga kesan pertama yekan.

Lalu aku mulai pendakian ke Semeru dengan suka cita. Tanggal 25-28 Oktober yang paling Amazing sepanjang sejarah. Biarpun cuma naik sampai Jambangan dan nggak summit, tapi itu adalah prestasi luar biasa buat aku dan Sheila. Bagaimana kita debu-debuan bareng, kedinginan bareng, nangis bareng waktu lihat SDA diperjalanan menuju Pos 3 dari Pos 4, terharu bareng waktu dengar doa-doa yang terlantun di tengah Ranu Kumbolo ketika Sumpah Pemuda (ini bonus yang nggak disengaja). Semuanya terekam begitu indahnya dan yah… sampai kapanpun nggak akan bisa aku lupain 🙂

***

Selesai liburan, dengan muka merah terkelupas dan tatapan mata yang seolah nggak bisa move on dari Ranu kumbolo. Aku kembali lagi ke kehidupan normal. Hari dimana 8 jam kerja terasa lama dan jalan di aspal lebih menyakitkan daripada jalan di pasir.

Namanya juga hidup, kadang kita selalu ingin kenyamanan. Tapi, kita juga punya tanggung jawab yang bikin kita mau nggak mau harus jalanin hidup sebagai makhluk sosial pencari nafkah (uhuk).

Kangennya itu sampai berminggu-minggu lho. Rasanya beberapa jam sekali mau ganti DP dan status di bbm dengan sesuatu yang berhubungan sama gunung. Temen aku yang lebih dulu kecebur bisa maklum, dia bilang itu semacem CANDU. DAN AKU UDAH KECANDUAN!

Disaat bete itulah, aku kembali ingat sama Jalan Pendaki. Mulai baca-baca tulisannya. Mulai ikutan komen sesuai sama permintaan Babang diakhir tulisan. Rasa kesal itu perlahan berubah jadi suatu ketabahan. Dan tulisan Babang asli menghibur luka lara, apalagi edisi Gunung Raung. Bagaimana Babang bisa menceritakan sebuah Gunung yang super extreme dengan gaya yang kocak abis. Thanks Bang Acen.

Salah satu impian terpendam selain jadi pendaki gunung, aku juga mauuu banget jadi Penulis. Bukan karena lagi tren atau apa. Tapi tentang bagaimana sebuah tulisan bisa mengubah cara berpikir dan hidup seseorang. Akhirnya aku sadar, hidup ya seperti ini. Semua pendaki gunung, pasti juga punya pekerjaan masing-masing. Dan ketika kita selesai dengan gunung, kita juga harus menyelesaikan pekerjaan kita. Hidup harus seimbang bukan?

Lalu, kapan gabung sama Jalan Pendaki?

Begini lho… Sebenarnya dari awal aku mau banget gabung sama Japen. Tapi aku ini anaknya agak sok sibuk. Pulang kantor ya langsung pulang, kalau main besokannya bisa langsung kena flu. Pulang malam dikit jadi masuk angin. Pokoknya agak ribet deh.

Dibilang pengen ya, kepengen banget!

Entahlah kapan bisa ikut berpetualang sama Japen. Ada rasa ingin memiliki, cuma sadar diri juga. Yah, semacem kayak naksir Nicholas Saputra gitu deh (halah).

Untuk keluarga Japen, khusunya Babang Acen. Terima kasih udah menghibur sekaligus bikin aku jadi orang kepo yang setiap hari nungguin postingan terbaru Japen. Semoga aku bisa berjodoh sama Jalan Pendaki. Bisa dapat keluarga dan teman-teman baru yang seru seperti cerita kalian. Bisa ikut merasakan bagaimana sampai puncak gunung, main drama di gunung. Segala hal indah atau pengalaman pahit (yang justru membuat keindahan tersendiri).

Biarpun kita nggak pernah tatap muka langsung, tapi kita sering kok tatap-tatapan di Instagram atau komen Japen. Dan semoga suatu saat aku bisa bertatapan langsung sama keluarga Japen. Amin 🙂

“Setelah puas berlari ditengah kabut dan awan, ada saatnya kita HARUS kembali ke Daratan” – Dini

 

Advertisements

26 thoughts on “Jalan Pendaki Itu… Speechless!

  1. YaAmpuuuuun, gak nyangka artikel kadin keren. I’m proud of you, Kaks! Kapan lagi kita buat cerita? Kemana lagi tempat yang bisa dijadiin cerita?

    Like

    1. Boleh buat pengakuan nggak mas kalau aku itu gaptek, hahaha
      Jadi ribet kalau mesti nulis di blog. Apalagi blog aku itu kosong melompong nggak ngerti harus diedit kayak apa. Atau, ada media lain dimana gitu nggak yang menerima cerita aku? Aku mending kirim ke blog lain, hehehe 😀

      Like

      1. Emangnya bisa ya Mas? Seriusan? Boleh kalau gitu. Aku orangnya bisa menyesuaikan gaya bahasa apapun kok (entah gaya bahasa santai/serius). Caranya gimana ya mas?

        Like

      2. Tapi blogku ya gitu-gitu saja sih, gak istimewa, trafficnya belum rame kayak jalanpendaki yang udah kondang 🙂

        Kalau gaya bahasa jadi diri sendiri aja, nanti saya bisa bantu editing. Ga ada syarat khusus, kan belum pernah nyoba kasih space buat penulis tamu di blogku hahahaha.

        Like

    1. Maaak, gimana ceritanya ngegelundung ditanjakan? 😂
      Tapi waktu ke papandayan, aku liat anak kecil umur 2 tahun diajak sama orang tuanya. Jadi bertanya2, apakah dulu waktu anak emak masih unyu juga diajak naik gunung?

      Like

      1. Nggak ngajak karena di lergi dingin. Emaknya tetep nanjak sama teman teman. Tapi ada teman yang teteup hobi nanajak sama anak2nya. jadi pingin.

        kalau mbolang, sering kuajak si kecil

        Like

  2. haii salam kenal pendaki

    ini juga sebuah resolusi tahun 2015 yang ngga kecapai, pengen ndaki..
    tp nggak ada yang ajak *eh
    *ini kode
    *semoga peka kamu yaaa

    haha slaam kenal btw yaa
    akujuga tinggal di jakarta kok

    Tapi asal malang, dekat dengan cerita kamu tentang ranukumbolo.. meskipun orang malang… aku belum pernah mendaki gunung itu hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s