Kawah Ratu: Antara Misi Rahasia, Teman Baru dan Sepotong Kenangan

CIMG1428

17 November 2015

“Mau tiup lilin dimana lo?” tanya Ade, tepat setelah kami ketemuan didepan Tangerang City.

Ade adalah teman kantor yang kebetulan cuti di tanggal 17. Dengan segala usaha, akhirnya Ade mau juga menemani aku untuk merayakan ulang tahun. Alasan lainnya, mungkin dia bete sama genk motornya yang tiba-tiba ngebatalin touring. Entahlah, yang jelas Ade ini semacam mangsa empuk buat dijadikan tebengan, hohoho *langsung sungkem*.

“Oke, kita ke Kawah Ratu aja!” jawabku semangat dan (sok) polos.

“Haaaaah, bukannya lo bilang mau ke Curug 7 Cilember? Yang bener lo! Kawah Ratu dimana lagi?!”

Singkatnya, aku mesti menjelaskan kalau Kawah Ratu itu berada didaerah yang sama dengan Curug Cigamea. Lokasinya tentu saja bertolak belakang dengan Curug 7 Cilember yang ada di Puncak Bogor. Dengan suara yang rada nggak ikhlas, akhirnya Ade mau juga memutar arah menuju Kawah Ratu.

Perjalanan yang awalnya dibilang “Yailah kesitu doang, palingan juga 2 jam sampai.” Berubah menjadi “Perasaan deket, tapi kok belum sampai juga!”. Aku cuma bisa kesel dan pasrah. Namanya juga nebeng yakan, jadi nggak boleh bawel kalau yang boncengin lagi ngedumel. Biarpun sebenarnya aku mau nyekek leher dia dari belakang!

Setelah perjalanan selama 3 jam (kaki mulai mati rasa), akhirnya kami sampai juga di Pintu Masuk Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Saat memasuki Gapura tersebut, kami dimintai uang masuk sekitar RP 10.000 per orang dan kendaraan motor Rp 5.000 (kalau nggak salah).

Curug Cigamea lewat, Curug Seribu lewat, Curug Ngumpet lewat. Dan diujung jalan setelah melewati banyak Curug, sampailah kami pada papan bertuliskan Kawah Ratu yang berada disebelah kanan jalan.

CIMG1472
Papan ‘Selamat Datang’ yang usang

Karena nggak paham dimana letak Pos Penjaga Kawah Ratu, kamipun menanyakan kepada Ibu pemilik warung tempat kami menitipkan motor. Beliau bilang kalau mau naik ke Kawah Ratu harus mendaftar sebelum pukul 11 siang. Apalagi Bogor sudah diguyur hujan sejak beberapa minggu lalu. Takutnya jika naik terlalu siang, saat turun akan terkena hujan dan membahayakan.

Begitu seriusnya mendengar penjelasan Ibu warung, saat aku melirik jam tangan ternyata… pukul 10 lewat! Dengan kepanikan dan drama, Ade berniat untuk membatalkan perjalanan ini. Langsung aja aku sambut dengan mata melotot dan bibir manyun. Hellooooow, kaki udah pegel luar biasa karena naik motor, dan begitu sampai lokasi malah mau dibatalin! Hish!

“Ya udah, kita ke Pos aja dulu. Kalo emang bisa dilanjutin ya jalan, kalo nggak bisa ya udah nggak usah dipaksain. Yang penting kita tanya dulu sama Penjaganya,” kataku dengan nada kalem.

Dari warung, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrangi jembatan bambu kecil dan menaiki undakan berupa tanah agak basah. Undakan tersebut bermuara pada jalur berbatu yang agak lebar. Pos Penjaga terletak pada rumah diujung jalan. Saat kami melapor, Mamang langsung melirik jam. Alhamdulillah kami masih diizinkan untuk melakukan perjalanan menuju Kawah Ratu. Dan akupun memutuskan untuk menyewa jasa guide alias Mamang untuk menemani. Tahu sendiri kan disana sepinya kayak apa, ditambah ini hari kerja. Selain faktor keamanan, berbagi nggak ada salahnya juga 🙂

***

“Mang, ini masih jauh ya?” tanyaku dengan nafas ngos-ngosan.

“Waduh neng, setengahnya juga belum ini mah,” jawab Mamang sambil menyalakan rokok.

Udah jalan lumayan jauh, sepatu udah kena becekan, kepala udah mulai muter, tapi belum ada setengahnya? Grrrrr.

Jalur Pasir Reungit ini sebenarnya sangat menyejukkan jiwa raga. Di awal perjalanan, kita akan menemui jalan menurun dan menyebrangi jembatan bambu yang dibawahnya terdapat aliran sungai jernih. Suara gemercik airnya itu terdengar merdu, tapi juga agak horor. Bayangin aja, suara air itu akan terdengar disepanjang jalur. Dengan kondisi jalan setapak dan hutannya yang masih rapat, serta beberapa pohon yang rantingnya menghalangi jalan. Ini tuh kayak lagi didunia lain.

CIMG1470
Aliran air yang menyejukkan jiwa dan raga #tsah

Uniknya lagi, kita bisa main basah-basahan. Kenapa? Karena setelah melewati beberapa aliran air ditepi jalur, serta menyebrangi beberapa sungai kecil (baik menyebrangi lewat jembatan atau dengan jurus lompat batu), kita akan sampai pada… jalur basah!

Maksudnya jalur basah itu, jadi kalau musim hujan jalur setapak ini akan berubah jadi jalur air. Dari yang namanya air setinggi mata kaki, sampai sebetis. Padahal cuaca pagi itu masih cerah, tapi air sudah tinggi.

Jalur Air
Kesan mengenai Kawah ratu… Basah!

Tapi tenang, kalau sudah melewati aliran air yang setinggi betis ini, tandanya sudah mau dekat dengan Kawah Ratu. Ditandai dengan bau belerang yang khas, ikuti saja jalur setapak, lurus, lalu berbelok ke kiri. Sampailah kita pada Kawah Mati.

Kalau aku bilang jalur awal tadi seperti dunia lain, maka Kawah Mati ini adalah sebuah tempat yang magis. Langit yang mulai mendung, bebatuan, deretan pohon berwarna hitam, aliran sungai yang berwarna putih, serta suara gemercik air. Mirip kayak Hutan Mati Papandayan, tapi yang ini lebih spesial.

Disinilah kami kembali bertemu dengan 4 orang Bapak Tentara yang sempat berpapasan di tengah jalur, dan 2 orang yang sempat aku lihat di warung bawah tadi. Jadi, saat kami sedang bertanya pada Ibu warung, melintas 2 orang yang naik motor menuju Pos Penjaga. Sayangnya saat kami sampai di Pos, 2 orang tersebut sudah tidak terlhat di jalur. Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk menyewa jasa guide.

CIMG1413
Bapak Tentara dan Mamang Guide di Kawah Mati

“Jadi ini Kawah Ratu?” tanya salah seorang Bapak Tentara kepada yang lain.

“Ini mah Kawah mati Pak, bukan Kawah Ratu. Kalau mau ke Kawah Ratu harus naik lagi,” jelas Mamang pada Bapak Tentara.

“Ya udah saya mau sampai sini ajalah.”

“Tanggung Pak, ke Kawah Ratu mah palingan 5 menit lagi.”

“Beneran? Yaudah ayok kita kesana. Awas ya Mang kalau bohong!” ancam Pak Tentara, tapi dengan muka nyengir. Ternyata Pak Tentara lagi bercanda.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menaiki tanjakan disebelah kanan. Jalan lurus, dan menuruni jalan sempit yang menyerupai lembah. Benar saja, beberapa menit kemudian kami sampai pada aliran air hangat yang mengandung belerang. Menyebrangi aliran air tersebut, berjalan lurus lagi, kemudian kembali menuruni bebatuan.

Saat aku hendak berjalan menaiki bebatuan (untuk melihat kawah), dari belakang terdengar teriakan heboh yang berasal dari sepasang kekasih yang memakai kaos couple berwarna hitam. Ternyata mereka baru sampai disini. Hebatnya, mereka berdua ini belum pernah ke Kawah Ratu. Mereka hanya menggunakan insting (untung instingnya nggak meleset) serta bekas injakan sepatu dan berhasil menempuh jarak 3,6 KM ini hanya dalam waktu 1 jam! Luar Biasa!!!

IMG_20151205_194210
Kalian luar biasa!!!

2 orang teman kantor yang kebetulan cuti bareng. 4 orang Bapak Tentara yang sedang latihan dan katanya mau lintas jalur Cidahu. 2 orang sepasang kekasih yang memiliki kaki kuat. 2 orang member MTMA Bogor yang lagi ada di pojokan. 1 orang yang sedang mengambil gambar ini alias Mamang guide. Hanya ada kita bersebelas ditempat luas dan magis ini, romantis banget kan. Terima kasih untuk kalian semua yang secara nggak sengaja menjadi bagian dari tanggal 17. Kalian keren!!!

***

Selesai berfoto dan menyantap gorengan, kami bertujuh melanjutkan perjalanan pulang sesuai dengan instruksi Mamang, sedangkan Bapak Tentara sudah kembali terlebih dahulu. Perjalanan pulang tentu aja terasa lebih cepat. Beberapa kali kami istirahat, dan setelah istirahat terakhir, aku berjalan terus mengikuti Mamang dikarenakan yang lain lebih memilih untuk berjalan santai. Aku sendiri nggak terlalu suka jalan santai dan terlalu banyak istirahat, karena justru membuat cepat lelah. Sesekali aku ngobrol dengan Mamang, dan tanpa terasa kami sudah sampai pada persimpangan Papan Petunjuk Arah.

CIMG1465
Papan Petunjuk Arah

Kami sempat menunggu selama 15 menit sampai yang lain muncul. Barulah Mamang berpamitan dan memilih untuk menunggu kami di Pos Penjaga yang hanya berjarak 5 menit dari tempat ini.

CIMG1469
Curug Buluh

Curug Buluh.

Merupakan bonus yang akan kamu dapat ketika berkunjung ke Kawah Ratu via Pasir Reungit. Lokasinya tidak jauh dari papan petunjuk arah. Curugnya pun tidak terlalu luas, tapi memiliki air yang jernih dan cukup deras.

Mau yang bikin deg-degan dikit, kamu bisa mendekati air terjun dengan menyebrangi sungai setinggi betis. Tapi dengan catatan, perhatikan batu yang dipijak ya, takutnya licin dan berlumut kayak jombl… *mendadak sinyal ilang*

20151117_151304
Gambarnya blur banget, ini salah jarinya yang fotoin 😥

Langit semakin gelap, rujak juga udah habis. Jadi kami memutuskan untuk pulang. Sesudah melewati jembatan dan menaiki undakan, tepatnya berjarak 100 meter dari Pos Penjaga, hujan turun dong saudara-saudara. Nanggung banget!

Karena hujan nggak juga berhenti, maka kami semua memakai jas hujan sebelum turun ke Warung bawah. Finish! Perjalanan kali ini sukses. Sambil menunggu Ecy yang lagi mengambil pakaian ganti dan hujan reda, kami mengobrol tentang banyak hal.

Aku duduk terdiam dan memandang Papan Selamat Datang yang sudah usang itu. Ditengah suasana ramai dan rintik hujan, sepotong kenangan melintas dikepalaku. Rasanya udah lama banget berlalu sejak hari itu. Mungkin sekitar 4 atau 5 tahun lalu.

Kami 2 keluarga pernah mengunjungi kawasan ini. Keluargaku yang berjumlah 3 orang, sedangkan keluarga sepupuku yang berjumlah 4 orang. Niatnya sih mau ke Curug Seribu, tapi karena belum ada yang pernah kesini, kami jadi nyasar dan terlewat sampai ke papan bertuliskan Kawah Ratu. Saat itu aku berpikir kalau Kawah Ratu usang dan sepi (sampai sekarang juga masih sepi sih).

Lalu apa yang terjadi sesudahnya?

Tidak berapa lama kemudian, Om meninggal dunia. Sedih? Pasti. Kehilangan? Sangat. Tapi ada rasa yang lebih kuat daripada itu. Yaitu sebuah rasa hangat dan nyaman ketika mengingat semua kenangan, serta selalu mendoakan yang telah tiada.

Mendadak jadi mellow yak, hiksss 😥

Jadi kalau diputar ulang, yang pertama kali mengenalkan aku pada Kawah Ratu adalah sepotong kisah di masa lalu, bukan dari internet atau media sosial lainnya.

***

“Ayok, pulang!” suara Ade berdengung ditelinga, tanda kalau aku harus menghentikan putaran kenangan itu.

“Oke,” jawabku singat.

Biarpun oke oke, tapi dalam hati aku mulai drama lagi. Harus banget ya menempuh perjalanan 3 jam untuk Bogor – Tangerang. Nggak bisa apa cling! langsung sampai rumah. Ya Allah, pesawat mana pesawat 😥

Advertisements

16 thoughts on “Kawah Ratu: Antara Misi Rahasia, Teman Baru dan Sepotong Kenangan

  1. Rifqy Faiza Rahman

    Selamat ulang tahun Mbak! 🙂

    Saya dulu pas main-main ke curug-curug di Gunung Bunder juga melewati gerbang masuk ke kawah ratu, tapi entah belum ada hasrat saat itu. Apa karena belum waktunya ulang tahun ya? Hahaha.

    Like

      1. Rifqy Faiza Rahman

        Berangkaaatt! Jajan favorit banget itu Mbak Din 😀
        Saya belum khatam curug-curug di kawasan TNGHS soalnya, apalagi Kawah Ratu, dulu keburu sore dan kehujanan sampai pulang hahaha. #kode 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s