Naik Gunung

Cerita Tentang Gunung Papandayan (Desember 2015)

Happy Anniversary with WordPress.com!

Begitulah tulisan yang tertera pada notif begitu aku melihat layar komputer pada tanggal 21 Januari 2016. Yang artinya, blog ini udah berusia 1 tahun. Jadi ingat, awal mula blog ini terbentuk adalah… karena aku mau ikutan lomba menulis yang diadakan oleh Jalan Pendaki dan aku berhasil jadi salah satu pemenang *tebar bintang* 😀

Lalu, aku tersadar. Dalam waktu setahun, sebenarnya ada beberapa perjalanan yang aku lakukan. Tapi aku ini anaknya malas nulis! Dan hari ini dampaknya baru terasa. Blog udah berusia setahun, tapi cuma ada beberapa tulisan. Itu juga tulisannya dibuat mulai 2 bulan lalu, setelah vakum selama 11 bulan dan setelah aku melakukan perjalanan ke Kawah Ratu dalam rangka edisi ulang tahun.

Sedih juga ya 😥

Karena itu, aku berniat untuk segera menyelesaikan tulisan tentang Gunung Papandayan dibulan Desember 2015 seperti yang udah aku janjikan di tulisan sebelumnya.

Disaat jari dan otak semangat 45 untuk menulis, aku lihat lagi tulisan tentang Kawah Ratu dan… Kacau balau! Entah karena aku ketiduran sewaktu edit di handphone atau gimana, tulisannya terhapus sebanyak 70%. Alhasil aku harus menulis lagi, dan sepertinya agak berbeda dengan tulisan sebelumnya. Niat awal dihari yang genap setahun ini mau menyelesaikan cerita Gunung Papandayan, eh seharian malah revisi tulisan Kawah Ratu.

Tambah sedih 😥

Sebagai orang yang (mengaku) selalu move on, mari hentikan drama kesedihan ini dan cepat mulai nulis lagi, din!

***

20151225_114534.jpg

Rabu, 23 Desember 2015

Rasanya Gunung Papandayan itu udah terkenal se jagad raya sebagai salah satu gunung yang cocok untuk pendaki pemula dikarenakan jalurnya yang bersahabat. Hal itu juga yang membawa kami untuk mengajak beberapa teman yang belum pernah naik gunung, untuk merasakan sensasi naik gunung pertama kali.

Didetik menjelang keberangkatan menuju Garut, aku harus pasrah serta ikhlas dan dadah-dadah sama Bang Sandy yang ngajakin ke Gunung Slamet. Apa mau dikata, pada akhirnya aku lebih memilih untuk kembali pada Papandayan, biarpun dibulan Januari kemarin aku udah kesana.

Masih sama seperti sebelumnya, kami berkumpul dirumah Rekta setelah pulang kantor. Karena jalanan pasti macet parah, kami berinsiniatif untuk naik gojek menuju pool Bus Primajasa didaerah Cililitan. Gojek massal, sebut aja begitu. Kok bisa? Soalnya rombongan kali ini buanyak! Terdiri dari 14 orang macem mau study tour. Kebayang kan gimana ribetnya Sheila dan Rosi yang kebagian jadi operator pemesanan gojek 😀

Setelah perjalanan yang panjang disertai drama antara pundak pegel karena gendong keril dan mata ngantuk yang mengakibatkan beberapa kali helm pak gojek kejedot (bahkan hampir jatuh), akhirnya kami sampai di pool bus Primajasa. Jeng jenggg… kami dapat nomor antrian 500 lebih di kloter kedua. Dan sekarang baru sampai kloter pertama. Kalau dihitung, sekitar pukul 1 dini hari kami baru dapat bus jurusan Garut.

Disinilah Tim 1 lengkap dan terdiri dari 15 orang, yaitu: Abror, Agung, Azis, Deni, Donni, Rekta, Desty, Dini, Lidya, Oki, Reni, Reyra, Rosi, Sheila dan Vara.

1451207580163
Kemping dulu aja disini

Karena belum ada tanda-tanda akan dapat bus Garut, tepat pada pukul 00.30 WIB kami melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkot menuju Pasar Induk, dan bergabung dengan Tim 2 yang beranggotakan 15 orang (Abang Bandung yang lupa namanya, Andri, Damar, Egi, Izon, Rahmat, Wahyu, Yudi, Anggar, Eka, Erwina, Essya, Ida, Lulu, Vika).

Setelah ketemuan di Pasar Induk, Tim 1 mengikuti jejak Tim 2, yaitu menaiki Truk menuju Garut. Dimulailah balada bermacet-macet ria. Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB (kalau nggak salah) saat Truk berjalan pelan dan ikut serta dalam lautan manusia yang haus akan liburan. Dari mulai langit masih gelap, sampai mataharinya mentereng, Truk belum juga keluar dari Pintu Tol.

Pelajaran penting, jangan pernah naik gunung dimusim liburan panjang! Dan nggak dianjurkan juga untuk naik Truk dimusim macet + kemarau, panas bro!

1451273161772.jpg
Masih semangat pagi, dan ini belum keluar Pintu Tol -___-

Sebelum pukul 10.00 WIB, kami sudah sampai didaerah Bandung. Truk sempat berhenti untuk istirahat, dan setelah melanjutkan perjalanan, kami tetap terkena macet. Apalagi jalur Nagreg, jangan ditanya macetnya kayak apa.

Truk akhirnya bermuara pada Pom Bensin entah apa namanya ini (tapi udah di Garut sih). Dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Cisurupan dengan menggunakan angkot, barulah dari Desa Cisurupan menuju Pintu Masuk Gunung Papandayan atau Camp David ditempuh menggunakan mobil pick-up.

1451272902138.jpg
Perjalanan dari Desa Cisurupan menuju Camp David

Ternyata Akang Andri sudah mendaftarkan kami semua, jadi mobil kami langsung melewati Pos Penjaga dan menunggu didekat warung sambil merapikan kembali segala barang bawaan.

Baru kali ini, selama beberapa kali naik gunung, aku barengan dengan orang-orang yang hobi selfie. Pokoknya cakep dikit cekrek, cakep banyak cekrek, muka buluk juga cekrek terus 😀

1451272665137.jpg
Biasaaa, kurang afdol kalau nggak foto disekitar sini

Saat turun dari mobil pick-up, Papandayan terasa asing bagiku. Berbeda 180 derajat dari bulan Januari. Emang sih, beberapa waktu yang lalu Gunung Papandayan sempat mengalami kebakaran. Termasuk deretan warung yang ada di Camp David. Lahan disebelah kanan tempat kami sempat bermalam kala itu juga berganti jadi menjadi parkiran motor. Lihat foto diatas? Januari lalu masih ada pemandangan hijau disekitar kawah, tapi sekarang semuanya hitam dan hitam. Ah… Papandayan sayang 😥

***

Pendakian dimulai pukul 4 sore, disaat langit semakin mendung dan ada rintik hujan yang menetes. Kami berjalan melewati kawah dan beberapa kali berhenti untuk menarik nafas. Jalur kawah ini cukup bikin engap.

Lalu hujan turun cukup deras, aku dan beberapa orang yang sudah sampai atas meneduh dahulu di warung. Karena Kak Reyra membawa perlengkapan logistik, aku ikut menemani Kakrey untuk berjalan terlebih dahulu.

Jalur menurun, lembah, sungai, tanjakan.

Adakah yang lebih cantik dari Papandayan sore itu?

Setelah hujan reda, kami semua mendapat bonus berupa pemandangan cantik.

Senja dan Pelangi.

IMG-20151226-WA0015.jpg
Jadi berasa cakep kalau foto begini 😀

Langit mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Pondok Saladah setelah melapor ulang di Pos 2. Kali ini Papandayan nggak sedingin dulu. Tidurpun masih cukup nyenyak, apalagi setelah perut yang seharian kosong terisi lagi.

***

IMG-20151227-WA0028
Pagi di Pondok Saladah

“Selamat pagi dunia, selamat pagi sunrise.” Suara teriakan abang-abang tenda tetangga mulai memenuhi Pondok Saladah.

Sunrise adalah sebutan yang lagi hits dikalangan pendaki. Bukan matahari terbit, melainkan lebih kepada wanita cantik di gunung. Papandayan terkenal sebagai gunung yang nggak pernah sepi. Entah karena banyaknya jumlah pendaki ataupun karena suara mereka yang seolah nggak pernah padam. Saat malam, para pendaki akan teriak bersahutan. Saat pagi, mereka kembali berteriak lagi. Maunya apa sih bang?!

Pagi itu juga, kami melakukan acara tiup lilin untuk Desty yang berulang tahun dibulan Desember. Lilinnya sih modal, tapi kuehnya kami ganti jadi bakwan. Jadi judulnya tiup bakwan ulang tahun, huehehe.

IMG-20160121-WA0025.jpg
Tiup bakwan

Yang lain berisik, sibuk foto sana sini, kalau aku mah… naik pohon aja dulu. Banyak banget lho pohon yang berpotensi untuk dipanjat. Main hammock juga seru sih. Tapi hammock-nya cuma ada satu, orangnya banyak. Males antri! 😀

IMG-20151227-WA0048
Mirip kayak… *sinyal ilang*

Setelah sarapan, kami semua bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Aku dan Tim 1 lainnya jalan bersama. Sementara Tim 2 yang udah khatam jalur ke Tegal Alun memilih untuk menyusul. Tapi belum juga sampai Hutan Mati, kami nyasar dong. Jadi kembali lagi ke jalur semula. Begitu sampai di Hutan Mati, kami kembali nyasar. Memanjat undakan yang ternyata jalur air, lalu masuk ke dalam semak-semak yang jalurnya hanya cukup untuk melipir 1 orang. Dan ternyata, Rekta yang awalnya memberi tahu jalur ini, dia malah putar balik dan membiarkan kami semua masuk ke dalam semak-semak.

Beruntung temannya Rosi (Bang Ginanjar, Bang Rohman, Adik Bang Rohman) ikutan nyasar bareng kami. Abang-abang itu ya, sampai belain naik ke atas dulu, tapi ternyata jalurnya terjal parah. Lalu cari jalan turun, ternyata sama parahnya. Nggak ada pilihan lain, kami akhirnya turun dengan merangkak dan ngesot. Dibantu oleh 3 abang-abang itu, Azis dan Agung dibelakang.

Setelah sampai Tegal Alun, aku pun berlarian kesana kemari. Sampai jauuuh, ke ujung sana. Yang lain sih biasa, masih pada foto-foto di papan bertuliskan Tegal Alun.

20151225_115031.jpg
Senyum aja dulu, bawa adem

Di bukit atas, terlihat barisan pohon berwarna hitam. Mungkin itu adalah sisa dari kebakaran kemarin.

20151225_113808.jpg
Cantik ya bunganya 🙂
IMG-20151226-WA0000.jpg
Foto ala-ala Superwomen bareng Kak Reyra
IMG-20151226-WA0046.jpg
Geng nyasar, minus Kak Reyra dan Agung
IMG-20160123-WA0006.jpg
Mirip kayak study tour kan

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mati. Sayangnya kabut nggak juga turun. Jadi Hutan Mati terasa biasa. Hanya bebatuan putih dan pohon hitam, kurang spesial, kurang magis.

20151225_095709.jpg
Hutan Mati tanpa kabut

Tetapi… untuk pertama kalinya aku sampai ke ujung Hutan Mati, dimana kita bisa melihat Kawah Papandayan dari atas.

CYMERA_20160113_195852-01
Hutan Mati berlatar asap Kawah

Di Hutan Mati ini juga misi Desty, Sheila dan Oki terlaksana, yaitu foto wisudaan digunung. Dengan beberapa gaya mereka sibuk berfoto sampai baterai nyaris habis.

CYMERA_20160108_175821.jpg
Desty, Sheila, Oki dan Dini (yang iseng ikut-ikutan pakai toga)

Finally, misi Papandayan kali ini sukses biarpun ada beberapa kendala. Perjalanan turun gunung pun terasa lebih cepat. Aku, Lidya, Desty, Donni, Rosi, Azis, Abang Bandung (beneran nggak inget namanya), dan abang-abang geng nyasar berada didepan.

“Tau nggak mbak? Disana kan ada air terjun kecil,” kata Bang Ginanjar sambil menunjuk bebatuan dekat sungai. Jadi, Abang berambut gondrong ini adalah mahasiswa jurusan Geologi. Disepanjang jalan dari Tegal Alun menuju Hutan Mati, Abang ini dengan setia menjelaskan tentang jenis bebatuan dan kemungkinan asal dari bebatuan tersebut. Seru kan! Fix ini mah bermain sambil belajar.

“Oh iya, dimana bang?” tanyaku dengan tingkat kekepoan akut. Ini dia nih yang sering dibahas oleh salah satu temanku. Dia bilang ada sebuah air terjun rahasia di Papandayan. Lokasinya diantara bekas longsoran. Lah ternyata ada dibalik batu besar, yaitu sumber dari aliran sungai yang kami lewati.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyanyikan beberapa lagu, dan kadang engap sendiri ketika menyanyi di tanjakan. Begitu sampai di warung sebelum Kawah, kami membeli es nutrisari seperti niat saat naik kemarin. Nggak ada yang senikmat turun gunung sambil minum es 😀

CYMERA_20160107_190534-01
Sumber kebahagiaan utama

Akhirnya kami sampai lagi di Camp David. Kami beristirahat dan mengisi perut sambil menunggu yang lain datang. Sayangnya, saat langit sudah gelap, terjadi insiden didekat Kawah. Yaitu kaki Eka terkilir. Jadilah ada beberapa orang yang menemani Eka untuk menginap lagi di Camp David, dikarenakan kondisinya yang nggak memungkinkan untuk turun dalam waktu dekat. Berhubung banyak yang masuk kerja di hari Sabtu, jadi sebagian dari kami kembali ke Jakarta pada hari Jumat malam.

Diantara gelapnya malam, deretan pohon, serta suara ramai penumpang mobil pick-up. Rasanya perjalanan kali ini agak lelah hati ya, hehehe. Karena ada beberapa hal yang buat emosi menyeruak, dan diakhir malah terjadi insiden itu.

Tentang yang belum diketahui.

Tentang hal baru.

Tentang pembelajaran.

***

Sedikit catatan aja sih, tadi kan aku sempat bilang kalau jangan pernah naik Truk di musim macet dan kemarau. Ini nih alasannya…

CYMERA_20160123_075300.jpg
Muka kayak terbakar

Foto diatas diambil pada tanggal 29 Desember 2015, tepatnya saat aku jalan-jalan ke Bogor (efek menghabiskan sisa cuti tahunan). Jadi setelah kembali dari Papandayan, selama beberapa hari kedepannya muka terasa panas dan kayak terbakar. Kulit juga terkelupas sebanyak 2x. Lalu sesudahnya jadi belang dan bikin aku diledekin semua orang (nasib).

Yang kayak gini sih harusnya lebih diperhatikan. Misalnya pakai sunblock, sunscreen, dan penghalau sinar matahari lainnya. Jangan kayak aku ya. Kegayaan nggak pakai apa-apa, tapi sesudahnya langsung terbakar 😀

Semoga postingan kali ini lebih bermanfaat ya, salam hangat selalu untuk semua 🙂

Advertisements

14 thoughts on “Cerita Tentang Gunung Papandayan (Desember 2015)

  1. INI KEMPING SERU BANGEEET MBAK 😀 RAME hihihihih

    Ihihi efeknya muka kayak terbakar gitu ya mbak :p besok pake sunblock ya mbak 😀 hihihi

    Eh, kunjungan perdana kayaknya. Salam kenal mbak :)) kamu kecil-kecil unyu ya 😀

    Like

      1. kwkwkw keramean rasanya agak gimana gitu ya, tapi tetep enak ah, ketimbang sendirian :’)
        WKwkwk tapi kalau nggak sunblock kan jadi gosong gitu 😦 *febri cowok pengertian

        Yuhuuuy 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s