Pendakian Gunung Ciremai Via Jalur Apuy

“Nih ya gue bilangin, kalau di gunung itu jangan sombong. Jangan pernah yang namanya menentang alam. Temen gue aja, yang udah berkali-kali ke gunung, bisa nyasar dan meninggal disana.”

Aku masih ingat perkataan Bang Ateng sore itu, didalam kereta Matarmaja yang mengantarkan kami dari Malang menuju Jakarta.

Bang Ateng merupakan salah satu pendaki senior yang tidak sengaja satu kereta dengan kami setelah pendakian Gunung Semeru. Tanpa ada jarak, kami semua saling berbincang meskipun baru mengenal satu sama lain. Dan perkataan Bang Ateng tadi muncul ketika Azmi berkata bahwa ia sering mendengar tentang harimau di Gunung Ciremai.

Jadi… Masihkah kamu mau mendaki Atap Jawa Barat, ketika sejak Oktober 2014 lalu terngiang satu cerita dari Bang Ateng?

***

Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan “Ciremai”) adalah gunung berapi kerucut yang secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53′ 30″ LS dan 108° 24′ 00″ BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.

Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan ‘ci-‘ untuk penamaan tempat. (Sumber dari Wikipedia)

***

20160207_085739

Jum’at, 05 Februari 2016

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika sopir bus Primajasa menurunkanku di Pintu Keluar terminal Kampung Rambutan. Bukan, aku bukannya baru sampai disini. Aku sudah sampai sejak pukul sembilan tadi. Hanya saja sopir bus nggak tega kalau aku menunggu sendirian di terminal (antara baik dan modus beda tipis), jadinya aku ikut bus ngetem sebanyak 2x, satu jam lebih, hingga akhirnya dengan berat hati bus melaju menuju Pintu Keluar, yang artinya aku harus turun dari bus.

Diantara banyaknya kendaraan dan orang-orang berkeril, aku duduk di warung Sate Padang sendirian sambil menikmati UC 1000 dan meneror teman yang ngaretnya ampun-ampunan. Kalau bukan karena janji, mungkin aku udah tinggalin mereka dan naik bus jurusan Kp. Rambutan – Ciledug, balik lagi ke rumah.

Akhirnya mereka datang setelah 20 menit aku menunggu di warung. Diantara 6 orang itu, hanya satu orang yang aku kenal. Kami pun antri untuk mendapatkan bus yang melewati Gerbang Tol Cileunyi.

Apa? Gerbang Tol Cileunyi?

Iya, kami memang mau turun disana dan melanjutkan perjalanan ke Majalengka. Kami mau mendaki Gunung Ciremai via Jalur Apuy, jalur yang terkenal paling aman dibandingkan dengan 2 jalur lainnya.

7 orang personil. 1 orang wanita (Dini) dan 6 orang pria (Agsan, Anas, Evan, Mujib, Sandy, Yopie) beniat untuk mengunjungi Atap Jawa Barat.

Tengah malam itu suasana bus ramai. Suara jedag-jedug dangdutan terdengar cetar di telinga sampai dini hari. Tepat pukul 04.00 WIB, kami turun di Gerbang Tol Cileunyi dan beristirahat di Masjid Al-Musyawaroh sambil menunggu kumandang adzan subuh.

Dari situ perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan jenis elf menuju Terminal Maja. Jalurnya tuh ya… Subhanallah. Naik, turun, belok kanan, meliuk kiri, begitu aja terus selama hampir 2 jam perjalanan.

Sesampainya di Terminal Maja, perjalanan dilanjutkan dengan mobil pick-up menuju Desa Apuy dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam.

“Didaerah sini udah mulai turun hujan belum sih pak?” tanyaku memecah keheningan.

“Hujan sih ada neng, tapi sore, mulai jam 4.”

Aku menganggukkan kepala. Ya maklum aja, diantara penumpang mobil pick-up ini, aku yang paling cantik alias wanita satu-satunya. Jadi posisi duduk ya disebelah pak supir. Biar nggak ada dusta jarak diantara kita, aku banyak bertanya pada beliau. Ternyata Bapak ini dulunya adalah Guide atau Pemandu untuk pendakian gunung Ciremai via Jalur Apuy yang bisa ditempuh beliau dalam waktu 5 jam saja menuju Puncak *prokprokprok*. Juga tentang makanan pokok warga yang berupa sayuran, perkebunan warga yang kalau panen bisa mencapai 30 Juta Rupiah (Amazing!!!), dan beberapa cerita lainnya.

20160206_094229_HDR.jpg
Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Desa Apuy

Kamipun sampai di Pos Pendaftaran untuk Pendakian Gunung Ciremai via Jalur Apuy dan melakukan proses registrasi serta memesan makanan karena sejak pagi belum sarapan. Ingat, jalan jauh itu butuh banyak tenaga!

20160206_105314
Tanda Terima

Biaya untuk pendakian kali ini sebesar Rp. 50.000,- per orang. Rinciannya seperti di Tanda Terima. Untuk makan siangnya berupa nasi, telur, tahu dan bakwan yang kami bawa untuk istirahat di pendakian nanti.

Dan akhirnya, pendakian menuju Atap Jawa Barat dimulai…

DSC_0727
Gapura Selamat Datang

Pos I Berod

Berada dibelakang Gapura Selamat Datang. Setelah melewati Pos I, kami wajib mendaftar ulang kepada Ranger untuk mencatat apa saja barang bawaan kami dan diberikan beberapa lembar Trash Bag.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pos II. Di sepanjang jalur masih relatif datar dan berupa jalur berbatu yang kadang bikin jempol kaki nyut-nyutan kalau kepentok 😀

Pos II Arban

Paling lama, kami menghabiskan waktu 45 menit untuk menuju Pos II dari Pos I, itu juga di karenakan Evan yang tiba-tiba lemah tak berdaya dan membuat kami beristirahat dipinggir jalur cukup lama.

Pos II berupa bangunan kecil beratap dan digunakan untuk istirahat dan sholat para pendaki. Pemandangannya berupa tumbuhan ilalang dan belum terlalu masuk hutan.

20160207_165911_HDR
Foto diambil saat perjalanan pulang dan kondisi hujan

Pos III Tegal Masawa

Perjalanan dari Pos II menuju Pos III adalah yang paling berat, bikin patah hati dan nyaris bikin nangis. Jalan udah lama, berjam-jam, tapi belum sampai juga. Setiap bertanya pada pendaki yang turun, pasti jawabannya masih jauh dan berjam-jam lagi.

DSC_0768.JPG
Minum madu biar semua tanjakan terasa manis
DSC_0787.JPG
Entah ini istirahat yang keberapa kali

Jalur mulai memasuki hutan belantara yang rapat dan mengingatkanku pada Gunung Cikuray. Jalan berupa tanah yang agak basah, banyak akar kayu melintang dan tanjakan tak berujung. Disini juga kaki ku sempat mengalami kram setelah beristirahat.

20160207_145720.jpg
Papan Pos III yang usang

Langit mulai mendung disertai gerimis ketika kami sampai di pos III. Berupa tanah lapang dan cukup luas. Hanya saja disini tidak ada yang mendirikan tenda dikarenakan jaraknya yang masih jauh dari Puncak.

Bau tanah basah dan udara dingin membuatku ngantuk. Aku bahkan nyaris tertidur ketika duduk diam. Bahaya banget kan kalau sampai tidur beneran.

20 menit setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos IV. Niatnya sih mau nge-camp di Pos V supaya lebih dekat dengan Puncak, apa daya takdir berkata lain.

Ditengah hujan rintik-rintik dan ngantuk parah, serta tanjakan yang semakin tajam, beberapa kali kaki ku terpentok akar pohon. Akhirnya aku berhenti dan meminta untuk mendirikan tenda ketika menemukan lahan kosong.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB dan kami baru sampai di pertengahan Pos III menuju Pos IV. Untungnya semua setuju dan kami pun berhenti sampai disini, jauh dari rencana untuk mendirikan tenda di Pos V. Beruntung setengah jam setelah kami berhenti, hujan turun dengan lebat!

***

Minggu, 07 Februari 2016 (Pukul 04.00 WIB)

Akibat dari mendirikan tenda disini adalah, perjalanan ke Puncak masih jauh! Tanpa membawa keril, kemungkinan sekitar 3-4 jam lagi menuju Puncak. Iya, aku ngaku salah karena maksa berhenti disini 😀

Tapi setelah dijalani, emang udah yang paling bener jalan ke Puncak bawa diri doang. Karena menuju Pos IV itu tanjakannya luar biasa dan tanpa ampun. Kalau ada bonus pun, rasanya mau nangis terharu. Betapa aku salut pada orang-orang yang kuat membawa keril di perjalanan dari Pos III menuju Pos VI.

Kami sempat berhenti ketika mendengar adzan subuh berkumandang sebelum sampai di Pos IV. Dari sini juga terlihat city light yang cantik abis. Perjalanan yang gelap gulita sedikit terobati dengan pemandangan indah kota Majalengka.

20160207_122553.jpg
Pos IV

Perjalanan dari Pos IV menuju Pos V juga sama beratnya. Jaraknya nggak terlalu jauh sih, tapi tanjakannya cukup menguras tenaga. Beberapa kali kami istirahat sampai langit yang gelap berganti terang. Ternyata matahari sudah memunculkan cahayanya.

20160207_115057_HDR.jpg
Pos V

Pos V itu berupa lahan yang luas dan datar, jadi banyak yang mendirikan tenda disana. Pagi itu suasananya ramai dan banyak yang bersiap untuk summit.

20160207_055859.jpg
Menikmati Sunrise ditengah perjalanan

Kalau perjalanan dari Pos I – V itu berada di tengah hutan, maka selepas Pos V jalur akan terbuka dan keluar dari hutan. Kami berhenti sejenak dan duduk di bebatuan ketika melihat semburat cahaya di langit. Cara menikmati Sunrise yang sempurna ketika kami masih jauh dari Puncak.

Jalur semakin menanjak dan terbuka. Kini pemandangan dipinggir jalur adalah jurang dan pepohonan pendek. Jalur kayak gini nih yang bikin aku mual. Sepanjang jalan, sampai menemui persimpangan antara Jalur Apuy dan Paluntungan. Tidak jauh dari persimpangan, sampailah kami pada Pos VI Goa Walet.

IMG-20160208-WA0099.jpg
Pos VI

Menurutku, dimanapun kamu mendirikan tenda, sempatkanlah berkunjung ke Goa Walet. Entah untuk mengisi air atau melihat pemandangan. Goa yang tidak terlalu luas ini suasananya sedikit dingin dan membuat bulu kuduk berdiri. Kalau keluar Goa, pemandangan atasnya adalah langit luas dan barisan pohon edelweiss.

20160207_075358.jpg
Goa Walet dari atas
20160207_075953_HDR.jpg
Pemandangan dari dalam Goa Walet
20160207_075933.jpg
Penampungan air hujan di Goa Walet

Berbahagialah kalau sudah sampai Goa Walet, karena tandanya perjalanan menuju Puncak sudah dekat. Tapi ya begitu… Dekat di mata jauh di kaki 😀

Oke, kali ini serius. Kalau jalur mulai berubah menjadi bebatuan besar dan pemandangan dibelakang samudra awan, itu tandanya… Selamat Datang di Atap Jawa Barat!!!

DSC_0866.JPG
Finally, Puncak!
20160207_103410
Samudra awan di Gunung Ciremai
20160207_085825.jpg
Kawah Gunung Ciremai
DSC_0899
Foto Keluarga

***

Kalau di gunung lain, perjalanan turun akan terasa menyenangkan. Tapi untuk Ciremai ini agak spesial. Turun dari Puncak, kaki mulai gemetar karena bebatuan dan tanah yang licin. Perjalanan menuju tenda juga memakan waktu beberapa jam.

Sampai di tenda, kami makan sebentar (yup, lagi-lagi makan mie instan) dan bersiap untuk pulang. Tepat pukul 14.30 WIB kami berdoa dan melangkahkan kaki, tentu tujuan utamanya adalah rumah.

Harusnya dari tempat kami mendirikan tenda perjalanan turun menjadi lebih cepat, tapi kenyataannya…

Pos III terlewat dengan langkah kaki yang mantab. Setelah melewati Pos III, semua keyakinan perlahan runtuh. Dari yang awalnya optimis 1,5 jam sudah sampai Pos I, tapi sekarang sudah berjalan 2 jam belum juga sampai di Pos II. Ya memang sih jarak Pos III ke II itu yang paling jauh.

Di bagian ini pula semua rasa untuk gunung meluap dalam diriku. Yang tahun 2016 mau ke gunung ini, gunung itu, semuanya memudar ketika aku harus melewati turunan tak berujung. Jalan tanah yang licin ditambah hujan deras, membuatku sampai dibatas antara ingin teriak dan nangis.

Bayangin ya. Turunan tajam entah berapa derajat berpadu dengan tanah licin. Mungkin kalau orang lain masih bisa berdiri dan ada beberapa yang berjalan cepat, tapi aku lebih memilih untuk turun dengan cara ngesot. Iya, ngesot disepanjang jalur yang nggak bisa aku lalui. Dan begitu seterusnya sampai bertemu Pos II. Beberapa kali juga aku dibantu oleh Abang berkacamata tak dikenal yang megangin tangan aku ketika nggak ada pohon untuk berpegangan.

Bertemu Pos II aja rasanya kayak mau nangis, terharuuu.

Dengan semangat 45 kami turun menuju Pos I. Tetapi ditengah perjalanan, terjadi insiden, yaitu kaki Yopie terkilir. Jadilah kami berhenti beberapa waktu. Setelah memastikan Yopie bisa berjalan, kami kembali menapaki jalur yang entah kenapa terasa lama. Karena dingin, hujan, lapar dan jempol kaki yang kepentok batu terus meskipun udah pakai sepatu, langkah kakiku semakin pelan. Iya, kini aku berjalan sendiri ditengah-tengah dengan jarak beberapa meter dari yang lain. Kalau ada segerombolan orang berjalan cepat dibelakang, maka aku akan minggir yang berkata “Duluan aja Bang”. Begitu seterusnya, sampai aku melihat teman-teman berhenti dipinggir tempat pembuangan sampah, yang artinya kami udah sampai di tempat pelaporan.

Mataku langsung berkaca-kaca… “Alhamdulillah sampai juga!”

***

Aku selalu percaya, gunung itu ibarat jodoh. Sekuat apapun kamu berusaha, kalau kamu belum bisa mencapainya, itu namanya kamu belum berjodoh. Gunung Merbabu, Gede dan Pangrango merupakan gunung yang sampai sekarang masih belum berjodoh denganku.

Sedangkan Gunung Ciremai?

Alhamdulillah, diberi jodoh untuk kesana 🙂

Rasa terima kasih tak terhingga kepada Allah SWT yang telah memberikan kami semua kesempatan untuk berkunjung ke Gunung Ciremai dan kembali lagi ke rumah dengan selamat. Juga seluruh teman-teman yang setia menemani, Abang berkacamata tak dikenal yang mau bantuin aku turun, Bapak pengendara mobil pick-up yang selalu bercerita.

Ingat ya, berapapun ketinggiannya, semua gunung itu sakral. Hanya saja jika niat kita baik dan selalu menjaga tingkah laku, Insha Allah semuanya akan aman dan baik-baik saja. Untuk yang mau mendaki gunung di musim hujan, tetap waspada dan jangan lupa bawa jas hujan. Selamat mendaki 🙂

Advertisements

39 thoughts on “Pendakian Gunung Ciremai Via Jalur Apuy

  1. Rifqy Faiza Rahman

    Waaah udah ke sini ajah. Gak kelihatan item Mbak hahaha 😀

    Kalau lihat deskripsi jalurnya, sepertinya lebih berat Linggarjati kah?

    Like

    1. Wajahku gosong lagi ini Masqy 😦
      Jalur Linggarjati mah paling WOW diantara semua, kalau jalur Apuy terkenal yang paling aman. Da aku mah apa atuh Masqy, belum berani naik gunung lewat jalur yang wow 😀

      Like

      1. Rifqy Faiza Rahman

        Hahaha, berarti bisa dicoba nih jalur Apuy. Soalnya agak gemetar juga lutut kalau lewat Linggarjati hahaha.

        Like

      2. Abhimanyu

        Wahhh asyik ya, sukses deh dgn alamnya, jadi kangen ceramai pertama kali taon 98, kenang kenang msh pake roll film, eh sekarang entah kemana

        Like

  2. iya pengalaman temen katanya gak boleh ngomong sembarangan kalau naik gunung, bisa di kerjain sama penunggunya, percaya gak percaya sih,, tapi semua pendaki emang harus begitu gak boleh ngoceh sembarangan

    Like

  3. Akhir mei sebelum puasa aku jg mau naik ke Ceremei via apuy kak dini, tp cuma berdua sama temen cewe,..barangkali mau ikut kesana lagi sekalian jadi guide nya hhehehe 😄

    Like

  4. mbak dini, paling enak berangkat dari kampung rambutan jam berapa ya mbak? biar bisa start trekking di pagi hari n dah sampek goa walet di sorean hari, trus angkutan2 elf dll nya itu bisa 24 jam mbak? biaya nya mbak?

    maaf ya mbak nanya banyak. hehheehe
    BTW ceritanya mbak dini buat tambah pengen utk kesana..😊😊 , Makasih mbak..

    Like

    1. Wah, kurang tau mas kalau harga ongkosnya. Biasa kalau cewek kan lebih kayak terima jadi, yang ngurusin biasanya temen2 cowok. Kalo kemarin kita sih mulai trekking siang, jadi nggak keburu nge-camp goa walet. Kalau start dari pagi sih kayaknya keburu.
      Semangat mas ke Atap Jawa Barat!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s