Berkunjung ke Kampung Cisadon

IMG-20160323-WA0008.jpg

“Duh, kangen Cisadon deh,” curhat Kak Sulis suatu hari, di grup whatsapp bernama Keluarga Argopuro.

Sedikit cerita tentang grup itu ya. Jadi sebelum aku ke Semeru di bulan Mei kemarin, aku sempat berkhianat dari Hanum dan minta ikut ke Argopuro. Jadilah namaku masuk ke dalam grup itu. Tapi pada akhirnya, aku tetap pergi ke Semeru dan diam-diam left group dari Keluarga Argopuro ketika mereka masih menerjang gunung dengan jalur terpanjang.

Tenang dong hidup aku, eh setelah mereka sampai rumah, grup itu invite aku lagi. Dan aku harus nangis bombay serta gigit bantal ketika mereka semua share foto-foto di Argopuro, sediiiihhhhh. Nyeseknya lagi, mereka berhasil ketemu pelangi di Danau Taman Hidup seperti ini…

IMG-20160516-WA0006[1].jpg

Ngeselin kan?! Tapi mau gimana lagi. Aku mah cuma anak bawang yang bisa pasrah, pasrahhhhh. Ya udah, pasrahnya simpen aja. Balik lagi ke Cisadon.

“Cisadon itu apa kak?” tanyaku pada Kak Sulis.

“Cisadon tuh ini…”

Dan Kak Sulis mengirimkan foto seperti yang pertama itu. Sebuah desa kecil yang kelihatan damaaaiiiiiiii banget. Rumahnya terbuat dari kayu, ada kolam serta sampan. Mendadak jadi pengen kesana.

“Kapan kesana lagi kak?”

“Nggak tau kapan, hahahahahaha.”

***

 Sabtu, 06 Agustus 2016

Sore hari begitu sampai di Kebagusan 3, Mas Ali (calon lakinya Kak Sulis, Aamiiin) kelihatan sibuk bebenah kayak bibik yang lagi ditinggal mudik sama majikan (langsung sungkem sama Mas Ali). Dan Ibu udah kelihatan rapi banget, berdiri dipinggir jalan sambil nungguin pasukannya untuk kondangan bareng.

Jadi, tujuanku datang ke rumah Kak Sulis sore ini bukan untuk minta makan ayam goreng ke Ibunya Kak Sulis, melainkan untuk pergi bareng ke Cisadon. Akhirnya yah…

Setelah membereskan botol minum titipan dari teman Kak Sulis, ke Alfamart yang kebanyakan galaunya ketimbang jajannya, akhirnya bedug Maghrib tiba.

“Jam segini baru jalan, mau sampai sana jam berapa?” tanya Ibu begitu melihat kami semua berberes. Kami cuma bisa senyum-senyum malu. Ya gimana dong, dari awalnya juga udah telat.

Kopiko 78 degrees udah ada 2 botol, donut dan kerupuk antor juga ada, bekal dari Ibu. Pokoknya Jakarta – Sentul mah nggak bakal tidur, fix! Sebelum pukul 19.00 WIB, kami pamit ke Ibu dan bersiap untuk menerjang kemacetan Jakarta pada malam minggu.

Pikiran nggak bakal tidur itu langsung berubah begitu memasuki kawasan Depok. Jalan sebegitu panjangnya, macet parah, ditambah efek perut kenyang setelah makan masakan Ibu, perlahan tapi pasti mata ini terpejam (disinilah mitos kalau kopi bikin melek salah besar, wkwk). Tapi anehnya biarpun mata udah merem, sayup-sayup masih terdengar suara Kak Sulis dan Mas Ali yang lagi cekikikan, padahal motor mereka udah dimana tau.

“Bangun… udah mau sampe,” kata Fahmi yang jadi korban nyender si Dini.

Mataku terbuka sedikit dan turun dari motor. Ternyata Kang Den udah sampai duluan dan menunggu di pertigaan dekat Pintu Masuk Curug Bidadari. Kang Den itu siapa? Yang jelas temannya Kak Sulis, Mas Ali dan Fahmi. Aku juga baru sekali itu ketemu sama Kang Den. Juga ada 1 mobil dari KPK (Komunitas Pendaki Kantoran) yang besok akan mengadakan baksos di Cisadon.

Kalau menuju Curug Bidadari itu belok ke kiri, maka kalau mau ke Cisadon ambil jalur lurus terus yang menanjak. Tapi jangan lupa minta izin kepada Petugas yang berjaga, bilang aja mau mengajar di Cisadon. Begitu sih rumusnya 😀

Sekitar 10 menit kemudian, sampailah kami pada kandang sapi, tempat yang biasa digunakan untuk menitipkan motor. Awal dengar kata ‘kandang sapi’, yang terlintas dipikiran aku tuh kandang sapi yang ukurannya cuma 2×2 meter kayak dibelakang rumah Mbah. Ternyata… ini mah bukan kandang sapi, tapi peternakan sapi!

20160807_163559.jpg

Dan resmilah kami berlima (Ali, Den, Dini, Fahmi, Sulis) trekking malam menuju Cisadon. Harusnya dengan jumlah segini mah pas, perjalanan jadi bisa lebih cepat. Sayangnya kami parkir bareng 2 mobil dari KPK, dan membuat kami trekking bareng mereka.

Setelah membentuk lingkaran dan berdo’a, tepat pada pukul 22.00 WIB kami memulai perjalanan menuju Cisadon.

Perjalanan ke Cisadon tuh ya, mirip kayak Ranu Pani – Ranu Kumbolo, jauuuhhhhh. Gimana nggak jauh kalau perjalanan kesana menghabiskan waktu 4 jam. Jalurnya menanjak dan didominasi oleh tanah basah dan bebatuan.

Kami sempat berhenti di tanah yang agak lapang untuk istirahat, setelah sebelumnya ada tragedi satu cowok dari KPK yang mual dan berhenti dipinggir jalan. Ternyata dia capek karena bawa matras yang super berat. Dari sini terlihat city light yang cukup menghibur ditengah jalur yang makin lama makin bikin engap. Dan entah karena angin apa, Kak Sulis jadi bikin pemotretan ditempat itu, dengan Mas Ali sebagai pengarah lighting.

IMG-20160809-WA0004.jpg

Dari yang awalnya fotoin aku, lalu ganti orang lagi, banyak orang. Sampai-sampai aku kesel sendiri nungguinnya. Lamaaa. Udah foto-foto lama, lalu ada beberapa orang yang malah masak indomie. Berhubung semakin lama berhenti semakin dingin, jadi aku minta untuk melanjutkan perjalanan, kami akan menunggu mereka di Kampung Langit, sebutan untuk tempat pemberhentian yang tidak jauh dari tanah lapang tadi.

20160807_160830.jpg

Rumah Aki terletak disebelah kiri jalan dan terasa ramai (padahal aslinya sepi) karena suara dangdutan yang mengalun dari radio. Begitu tau ada yang datang, Aki dengan ramah membuka pintu serta mengecilkan suara radio. Satu termos air hangat pun tersedia didekat pintu.

Yah… berhubung Kang Den baik hati dan tidak sombong, jadi Kang Den membuka bekal dari mamahnya untuk dimakan. Rezeki anak-anak baik 😀

Perjalanan dilanjutkan kembali. Berjalan terus melewati pos menuju Kampung Pemburu. Jalurnya sepanjang jalan tuh sama aja. Gelap, tanah becek, batu yang bikin kaki kesandung. Sampai tiba disebuah rumah yang cukup besar dan memiliki banyak guguk.

20160807_155004.jpg

Harusnya sih perjanjian aku gendong blue (day pack deuter berwarna biru) kelar begitu tiba di Kampung Pemburu. Tapi sampai didepan rumah, kami bertemu dengan Uci dan Kak May yang udah sampai duluan sejak sore tadi. Harapan trekking tanpa tas pupus ketika aku lihat Uci gendong ransel double alias depan belakang. Sebagai anak Ibu Yani yang baik hati, jadilah aku menawarkan diri untuk menggendong tas yang satunya.

Selepas Kampung Pemburu, jalur semakin menanjak dan becek. Nafas semakin ngos-ngosan. Kaki juga beberapa kali kepentok batu karena mata mulai ngantuk.

“Kak Sulisss, aku salah jalan!!!” jeritku ketika terperosok ke dalam kubangan.

Awalnya karena iseng, aku ambil jalur kanan seorang diri. Padahal Kak Sulis udah cariin jalur yang nggak terlalu becek. Meledaklah tawa semua orang. Kan kan… orang lagi kena musibah malah diketawain. Inilah penampakan kubangan di siang hari, yang ternyata disebabkan oleh motor trail.

20160807_152006

Perjalanan semakin berat karena sepatu yang aku gunakan terendam lumpur, celana juga kotor. Begitu ada aliran air, semua orang sepakat kalau aku harus mencuci sepatu sebelum tanahnya menjadi kering. Padahal, mencuci sepatu itu bukan ide bagus karena membuat kaki jadi basah dan dingin.

Di pertigaan sebelum pohon bambu, Uci dan Kak May memutuskan untuk melewati jalur kiri dan menginap dirumah Pak RT, sedangkan kami semua melanjutkan perjalanan dan berniat untuk tidur disebelah Mushollah. Dengan setia, Tak (guguk berwarna cokelat yang mengikuti kami dari Kampung Pemburu) menemani Uci dan Kak May.

Kak Sulis semakin merapatkan tubuhnya dan memegang tanganku erat, bibirnya membaca doa. Saat itu aku tau bahwa jalan menurun yang dipenuhi oleh pohon bambu dikanan kirinya ini agak menakutkan. Aku pun ikut berdoa.

Tidak lama kemudian…. taraaa!

Jadi ini yang namanya Cisadon. Gelap gulita nggak ada listrik. Hanya ada bayangan pepohonan, kolam dan rumah serta beberapa cahaya senter diujung. Setelah duduk dan ngobrol sebentar bersama anggota KPK lainnya yang sampai duluan, kami berlima kembali lagi dan memutuskan untuk tidur disebelah Mushollah.

***

20160807_064807

Minggu, 07 Agustus 2016

Langit masih gelap ketika mataku terbuka. Samping kiri masih pada tidur, pas nengok ke kanan aku lihat Fahmi diujung sana, lagi sholat subuh. Lalu aku lihat jam tangan, ternyata baru jam 5 pagi. Aku kembali menutup wajah.

Rasanya mata masih nempel, tapi udah nggak bisa tidur. Sebenarnya dari jam 3 pagi tadi aku nggak tidur beneran. Di dalam sleeping bag aku cuma melek-merem setengah, lalu gerak-gerak karena celana jeans bagian bawah basah dan bikin kaki jadi menggigil.

Aku mengeluarkan wajah dari sleeping bag, kemudian berjalan dan senderan di kayu ujung sambil menghadap ke kolam, biasaaa… nyari sunrise.

20160807_065213_HDR.jpg

Langit udah mulai terang, tapi ini orang 4 masih pada tidur. Lebih tepatnya mereka semua tidur lagi begitu tau masih pagi. Ckckck

20160807_064721.jpg

Matahari semakin bersinar terang, membuat kaki yang tadinya dingin jadi hangat. Berhubung masih ngantuk, jadi aku ikutan tidur lagi. Bangun tidur sekitar pukul 8 pagi dan dibuatin sarapan berupa roti bakar oleh Mas Ali.

Sampai disini, aku belum lihat anak-anak warga Cisadon kayak yang sering Kak Sulis ceritain. Yang katanya hanya sekolah pada hari Sabtu dan Minggu, ketika relawan dari Al-A’raf datang untuk mengajar. Para relawan yang naik setiap Sabtu pagi dan turun pada Minggu siang.

Setelah merapikan tas, kami semua menghampiri beberapa orang KPK yang ada di depan warung. Setelah sebelumnya Kak Sulis memarahi salah seorang cowok yang bertugas membersihkan halaman Mushollah tapi sambil merokok. Emang enak pagi-pagi kenal omel! 😀

“Turun yuk,” ajak Kak Sulis.

“Ayuk!”

Rumah Belajar Al-A’raf terletak di dekat kebun kopi. Lokasinya dari warung harus belok ke kanan, kemudian jalan menurun melewati kebun, dan sampai!

Suasana disana udah ramai. Terdengar suara mengajar dari kakak-kakak KPK dan juga beberapa relawan dari Al-A’raf. Mereka berada di sebuah ruangan, mungkin disebut sebagai kelas. Ukurannya kecil, duduknya lesehan, dan semua anak (dari yang usianya kecil sampai agak besar) belajar materi pelajaran yang sama.

Rasanya kok sedih ya.

Pasti, di Indonesia masih banyak tempat-tempat yang belum terjamah seperti ini. Padahal Sentul itu masih dekat dari Jakarta kan?

20160807_095457_HDR.jpg

Setelah belajar di kelas, adik-adik belajar cara berbaris dan upacara bendera, yang dipimpin oleh Mbak Yayuk dari KPK. Lucu dan miris lihat mereka. Lucu sewaktu lihat wajah polos mereka ketika menghapal mana kiri dan kanan. Juga miris. Dulu sewaktu kecil, seusia mereka mah aku udah sekolah beneran, udah mengerti mana kanan dan kiri, serta udah bisa cara berbaris saat upacara bendera. Disini, waktu terasa lambat berputarnya. Bahkan anaknya Pak RT, cowok yang paling besar itu juga baru belajar caranya upacara bendera.

“Kayaknya kalau kesini lagi harus bawa salep deh,” kata Kak Sulis yang kini duduk disebelahku.

“Kenapa kak?”

“Tangan mereka tuh pada kapalan.”

Aku yang sejak tadi duduk, memperhatikan Kak Sulis dan yang lainnya ketika mengajari caranya berbaris. Ada sentuhan disana. Ketika Kak Sulis memegang tangan mereka, jadi wajar kalau Kak Sulis paham kondisi tangan adik-adik.

20160807_101248_HDR

Upacara pun dimulai. Iya… upacara tanpa tiang bendera. Aku, Kak Sulis, Kak May dan Uci juga ikut berbaris dibelakang adik-adik. Jadi tim hore yang ikut menyanyikan lagu dan semangatin adik-adik kalau ada yang keluar dari barisan karena lelah.

IMG-20160808-WA0080.jpg

Upacara bendera yang singkat ditutup. Para personil upacara pun mendapat pelajaran singkat dari kakak-kakak. Setelah itu semuanya masuk ke dalam kelas dan berdoa bersama.

Disamping kelas, tepatnya ditanah berumput, ada sebagian kakak-kakak yang sedang membuat tempat sampah dari kayu. Mereka akan mengajarkan adik-adik untuk membuang sampah pada tempatnya.

20160807_105933.jpg

Selesai berdoa, adik-adik yang keluar kelas salaman kepada kami sambil menerima botol minum. Barulah kami semua foto bersama di depan Rumah Belajar Al-A’raf.

IMG-20160808-WA0097

Kami kembali ke warung atas dan melihat adik-adik yang sedang berlomba memasukkan air ke dalam botol kosong yang bolong. Jadi teman yang lain saling menutup botol bolong itu dengan tangan mereka, sementara ada satu orang yang berlari dan mengambil air itu pakai gelas aqua.

20160807_113715.jpg

Di ujung sebelah kanan, ada tiga orang Bapak yang sedang menggunakan mesin penggiling kopi.

20160807_114144.jpg

Katanya panen kopi kayak gini tuh jarang. Beruntung hari ini kami melihat Cisadon yang dipenuhi oleh biji kopi. Rasa kopinya juga enak lho, aku sempat mencoba kopi Cisadon ketika mampir ke rumah Pak RT.

20160807_114236.jpg

Akhirnya acara hari ini selesai. Ditutup dengan foto bersama sambil membawa bendera kecil. Namanya juga penebeng, jadi kalau ada yang foto-foto kami ikutan lah 😀

IMG-20160808-WA01051.jpg

Sebelum pulang, semua anggota KPK dan relawan Al-A’raf kembali lagi ke depan Rumah Belajar. Semuanya saling berpamitan kepada adik-adik dan berterima kasih karena acara hari ini telah selesai dan berjalan lancar. Karena kami cuma tim hore, jadi kami nggak ikut serta bersama mereka. Kami memilih untuk pamit duluan dan mampir ke rumah Pak RT.

20160807_122609.jpg

Untuk jalan pulang, kami memilih jalan yang berbeda dari berangkat kemarin. Kami menuruni jalan setapak, kemudian melewati jalur menurun berbatu dan sampailah pada jembatan bambu.

IMG-20160808-WA0093.jpg

Dibawah jembatan bambu ada turbin yang sempat mengalami kerusakan dan diperbaiki oleh para relawan dari Aksiqudaki pada bulan Oktober 2015.

20160807_123616.jpg

Rumah Pak RT tampak sederhana. Terbuat dari kayu dan memiliki fasilitas MCK disebelah rumahnya. Air yang digunakan pun berasal dari aliran sungai.

Selesai makan, aku menawarkan diri untuk cuci piring di sebelah. Coba bayangin, kapan lagi nyuci piring dari mata air alami. Kapan lagi hah? 😀

IMG-20160808-WA0060.jpg

Kami berpamitan pada Bapak dan Ibu RT, serta anak-anaknya yang lucu. Perjalanan kami lanjutkan. Disepanjang jalan, ketika lewat didepan rumah warga, maka kami akan berhenti dan bersalaman kepada para Orang Tua. Dan ternyata disini juga ada semacam kolam atau danau atau apalah ini, yang jelas anak-anak sering berendam disana. Airnya nggak serberapa jernih, tapi tempatnya terlihat cukup magis.

20160807_143840.jpg

Ada Kakek dan Nenek yang tinggal di rumah ujung. Mereka memiliki kandang kambing dibelakang rumahnya. Seneng deh lihat bagaimana Kak May, Kak Sulis dan Uci berinteraksi dengan warga disini, terlihat hangat.

20160807_153501.jpg

Langit mulai berubah warna, petanda semakin sore. Kami udah sampai lagi di Kampung Pemburu dan beristirahat sejenak. Semuanya terlihat kayak lagi piknik. Sementara aku berkeliling Kampung Pemburu sambil membawa handphone, lumayan untuk foto-foto.

20160807_154041.jpg

Berbeda dengan berangkat kemarin, saat pulang terasa cepat. Kalau naik 4 jam, maka perjalanan pulang hanya memakan waktu 2 jam, dan itu udah termasuk istirahat di Kampung Pemburu.

IMG-20160808-WA0073
Kiri-Kanan: Den, Sulis, Dini, Fahmi, Ali, May
20160807_105615.jpg
Ini Uci, tukang foto banyak gaya

Perjalanan selesai ketika kami sampai lagi di kandang sapi. Kami berganti pakaian, sholat, dan membeli susu sapi segar (yang sewaktu sampai rumah ternyata udah basi).

***

“Adek-adek itu kenapa ya telapak tangannya pada kapalan?” tanyaku sewaktu motor melaju di jalanan Depok yang super duper macet di Minggu malam.

“Nih liat!” Fahmi nunjukin telapak tangannya.

“Apa?”

“Itu tuh. Kapalan juga kan? Nyetir motor Jakarta-Sentul aja bikin tangan kapalan, apalagi mereka. Mereka itu kesehariannya ngarit, nyari makan buat ternak, jadi ya gitu tangannya.”

Lalu aku ingat sore tadi, ketika lagi asik nyuci piring, anaknya Pak RT yang paling besar ngeledekin aku. Begitu aku menoleh, dia udah berganti pakaian untuk ngarit alias nyari rumput. Keseharian adik-adik ya seperti itu. Karena sekolah hanya ada pada hari Sabtu dan Minggu, jadi Senin sampai Jumat mereka gunakan untuk membantu Orang Tua berkebun.

Mungkin di Indonesia masih banyak adik-adik yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Masih banyak sekolah-sekolah yang usang. Beruntungnya, Indonesia memiliki kakak-kakak yang berjiwa sosial. Meski bantuan yang diberikan nggak seberapa, setidaknya kakak-kakak itu ikut berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.

***

Jadi… kamu masih mau main jauh sementara di dekat kamu masih banyak adik-adik yang membutuhkan perhatian kamu? Sesekali, cobalah untuk pergi ke tempat seperti ini. Dijamin kamu akan lebih banyak bersyukur dan cinta pada tanah air.

Untuk yang belum tau Kampung Cisadon itu dimana, berikut adalah alamat lengkapnya. Main kesana boleh, berbagi ilmu dan kebahagiaan juga boleh, tapi tempatnya jangan dirusak ya. Nanti kalau aku kangen hijau-hijauan kan dekat tinggal kesana 😀

Kp. Cisadon RT 001/08 Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, kode pos 16810

Dulu pernah punya impian setinggi langit. Mau ke gunung ini, ke laut itu. Tapi awal tahun 2016, impiannya dibuat jadi lebih sederhana. Kemanapun perginya, kalau bisa ke tempat yang baru. Ketemu sama adek-adek yang bikin bahagia dan lebih banyak bersyukur.

Advertisements

43 thoughts on “Berkunjung ke Kampung Cisadon

  1. Tak melulu yang dekat Jakarta itu fasilitasnya sudah mumpuni. Masih banyak tempat yang aku rasa belum mumpuni di segala fasilitasnya.

    Kamu sudah mendapati pengalaman di sana, dan ada banyak warga di Indonesia yang masih belum bisa menikmati fasilitas seperti jalan, listrik di sudut-sudut lain.

    Like

  2. Sulis

    Dindong nama aku jd yang utama ya di cerita ini 😄😄
    Makasih udah sharing dan bercerita, semoga kedepannya kita bisa terus istiqomah berbuat kebaikan utk alam dan sesama.. terus bersyukur dengan yg kita punya, semangat aksi berikutnya 😉😉

    Like

  3. Nice Story Dini, baru baca pengalaman yang ‘nyata’ kek gini. Yang aku denger2 dulunya di pedalaman Borneo gitu, ternyata di Jawa (deket Jakarta) masih ada daerah terisolir; dari pendidikan. Miris. Terima kasih buat Dini dan teman2nya semua.

    Like

  4. Baca tulisan ini, speechless untuk banyak hal. . .

    1. Ternyata Dini ketiduran di atas motor (hebat! Saya naik motor sambil melek aja suka hampir jantungan).
    2. Dulu pernah di tawarin ngajar ke Cisadon, tapi nolak dan sekarang nyesel banget.
    3. Kalau dulu nerima, kan sekalian bisa merasakan serunya trekking, sekaligus menjadi volunteer.
    4. Ragu entah sekarang saya akan memiliki kesempatan untuk ke sana. . .

    Terimakasih sudah berbagi Dini. . .^^

    Like

    1. Terima kasih kembali val atas komennya yang lengkap ☺☺☺
      1. Aku sih dimana aja bisa molor asalkan ada tempat nyender, wkwk.
      2. Emang nyesel mah belakangan ya datengnya.
      3. Asik lho trekking, jalurnya becek2 gimana gitu. Nggak hujanpun tetap agak becek, karena untuk jalur motor trail juga.
      4. Kalau mau sih tiap weekend ada teman2 dari Al-A’raf yang mengajar kesana. Kalau dari komunitas Aksiqudaki (komunitasnya kak sulis) pasti akan balik kesana entah 1 atau 2 bulan lagi karena masih punya pe’er.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s