Percakapan Singkat

20160505_053729-01[1]

Setelah membaca postingan Kasyer tentang Oplas, aku jadi ingat percakapan singkat antara aku dengan seorang pasien sekitar 2 tahun lalu.

Aku bekerja di salah satu Laboratorium didaerah Jakarta Barat. Jabatan sih sebagai Staff HR. Tapi ketika musim MCU Perusahaan ramai, kadang aku diminta turun ke lobby untuk membantu proses registrasi. Ya nggak apa-apa juga sih. Kadang registrasi pasien bisa jadi hiburan tersendiri buat aku. Kenapa? Karena dalam sehari aku bisa berinteraksi dengan berbagai macam orang, seru!!!

Dari yang baik banget, baik aja, agak jutek, sampai luar biasa jutek. Emang sih kalau registrasi itu sebentar, dan percakapan yang terjadi sekitar 5-10 menit untuk setiap pasien. Nah hubungannya apa sama oplas? Jadi begini nih ceritanya…

***

Kurang lebih 2 tahun yang lalu

Pada suatu hari… di waktu menjelang siang, seorang pasien duduk didepan registrasi 3 setelah aku memanggil nomor antriannya.

“Selamat siang Bu, dengan dini silahkan duduk,” kataku sambil berdiri dan menganggukan wajah, mempersilahkan Ibu itu duduk.

Ibu duduk dengan wajah datar. Beliau memiliki kulit putih, rambut potongan bondol, bermata agak sipit dan hidung yang biasa aja (maksudnya nggak pesek banget, standar).

“Maaf Bu, ada surat pengantar dari dokter?” sebagai Laboratorium tanpa praktek dokter umum, biasanya pasien yang datang kesini ya karena anjuran dokter atau check-up rutin.

“Ada,” kata Ibu (aku lupa namanya) sambil menyerahkan selembar formulir pemeriksaan yang udah dicentang oleh dokter.

“Dengan Ibu… tanggal lahir… sebelumnya sudah pernah daftar disini?”

“Kayaknya udah, coba di cek aja mbak.”

“Baik Bu.”

Ternyata Ibu udah beberapa kali periksa disini. Dan untuk mempersingkat waktu (karena wajah Ibu dari tadi terlihat datar dan cenderung kurang bersahabat), aku mencocokan biodata dan alamat tempat tinggal Ibu. Memasukkan seluruh pemeriksaan yang dicentang oleh dokter kedalam komputer. Kemudian menyebutkan total pembayaran dari pemeriksaan tersebut.

Ibu mengeluarkan kartu untuk pembayaran. Begitu selesai semua, aku menyerahkan kuitansi pembayaran dan mempersilahkan Ibu untuk masuk ke ruang dalam, tempat menunggu untuk pengambilan darah.

“Proses registrasi sudah selesai. Mohon ditunggu lagi didalam ya Bu untuk pengambilan darah. Nanti Ibu akan dipanggil sesuai nama dan juga nomor antrian,” kataku dengan nada dan senyum semanis madu.

Sambil melipat kuitansi, Ibu berkata. “Mbak…”

“Iya Bu?”

“Mbak tuh harusnya bersyukur!”

Aku cuma bisa diam dengan wajah kaget. Ini aku abis ngelakuin kesalahan apa ya sama Ibu itu? Sampai nada bicara Ibu berubah jutek banget.

“Iya Bu?”

“Mbak tuh harusnya bersyukur! Alis tebel, mata belo udah ada lipetanya, hidung mancung, banyangin mbak kalo operasi plastik bisa habis berapa duit?!”

Ohhh, jadi itu maksudnya.

Dengan wajah (yang kayaknya) pucat, sambil menggaruk leher bagian belakang, aku menjawab pelan dan grogi, “Makasih Bu.”

Sebenarnya aku juga bingung bilang makasih untuk apa. Karena si ibu bilang aku lumayan? Atau karena si ibu mengingatkan aku untuk lebih bersyukur?

Setelah selesai melipat dan memasukkan kuitansi, Ibu berdiri dan bersiap untuk ke dalam. “Terima kasih ya,” katanya singkat.

“Iya Bu, terima kasih kembali.”

***

Setelah dipahami, kayaknya alasan kedua yang bikin aku mengucapkan kata terima kasih kepada Ibu. Tentang pengingat agar lebih bersyukur.

Awalnya sih pas ngerasain kejadian itu, aku mikir… Ini Ibu mau muji atau apa sih? Kalimatnya sih muji, tapi nadanya jutek. Kan jadi bingunggg. Tapi marilah kita ambil sisi potisifnya. Mungkin itu cara Ibu memuji seseorang. Karena setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengunggkapkan sesuatu.

Tapi tenang Bu, dini nggak akan operasi. Selain karena nggak punya duit banyak (dan kalau punya duit banyak pun pasti bakal sayang pakainya), udah dini mah mau begini aja. Udah cukup kok. Udah punya cukup banyak fans biar kata muka pas-pasan gini (digetok massal). Tapi andai kata bisa dirubah, dini cuma mau nambahin tinggi badan biar mirip kayak Nabila Syakieb, udah kok gitu aja 😥

Advertisements

20 thoughts on “Percakapan Singkat

  1. Hahahah.. kok sama banget sih, aku juga pengen nambah tinggi badan biar kayak Mika Tambayong 😆😆

    Kalo operasi jelas enggak-lah ya, walaupun muka aku rada chubby mendingan pake make up contouring aja deh buat nirusin muka 😎😎

    Like

  2. Mbak din.. aku juga mau kalau tinggi mah.
    Kalau mata hidung muka dan lain lain udah bersyukur gitu aja.

    Mauu tinggii..
    Tapi usia udah…

    udah mentok *nangis di pojokan*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s