Belajar!

20160807_153501

Berhubung udah lamaaaaaa banget nggak jalan-jalan, aku jarang update blog. Ya kan blog ini isinya (hampir semua) tentang jalan-jalan. Tapi, ada satu hal yang beberapa bulan ini bikin aku kepikiran. Yaitu tentang belajar.

Belajar disini bukan tentang pelajaran sekolah lho. Tapi pelajaran tentang… eumn, uhuk… pelajaran jadi wanita solehah (dibaca: calon istri). Iya tauuu, berat banget bahasan kali ini. Ya gimana dong, lagi musim ujan gini enaknya kan bahas yang berat-berat. Seberat rindu kamu ke dia.

Ya intinya, dari orang-orang ini aku jadi kepikiran tentang belajar. Belajar jadi lebih baik. Belajar untuk mempersiapkan diri, siapa tau abis belajar ada yang datang ke rumah *ehhh

1. IBU YANG KEMBALI BELAJAR

Suatu sore dibulan September, saat aku dan Advent mau pergi ke Citraland, tiba-tiba Manager departemen Advent (sebut saja Ibu K) nyegat kami berdua. Terus pasang kode, katanya gini… Kalian mau mampir ke toko buku nggak? Berhubung di Citraland ada toko buku ya kami iyakan aja permintaannya.

Ternyata, Ibu K mau nitip buku panduan sholat. Jadi selama ini beliau nggak sholat din? Ya nggak gitu juga kali. Beliau mah rajin sholatnya. Tapi sesuai pesanan, beliau maunya buku panduan sholat yang lengkap kap kap. Yang tulisan arabnya jelas, yang ada bacaan latinnya, yang ada artinya pula. Pokoknya sore itu menjelang malam, kami berdua sibuk nyariin buku yang kira-kira pas dihati dan sesuai sama budget. Ketemulah sama buku itu. Dan keesokan harinya setelah kami kasih buku itu, beliau senang bukan main. Ternyata bukunya sesuai sama keinginan.

Belajar adalah hal yang harus selalu ditanam dalam hidup seseorang, nggak peduli berapapun usia orang tersebut. Pokoknya selagi masih bisa menghirup oksigen, tandanya harus selalu belajar. Dan begitu lihat Ibu K, aku jadi berpikir… Nanti saat udah tua, disaat mau jadi nenek, apa aku baru belajar hal itu? Harusnya sih, aku mulai belajarnya dari sekarang! Dan ya, belajar tentang agama lebih dalam tentunya jadi niat aku sekarang. Kita nggak akan pernah tau apa yang dialami Ibu K sampai beliau kembali belajar. Entah karena abis dengar ceramah (biasanya kan orang Insyaf tuh abis dengar ceramah), atau bisa aja karena hal lain. Yang jelas hanya dirinya dan Allah yang tau alasan dari itu semua. Untuk Ibu K, semangat belajar ya bu 🙂

2. ISTRI YANG SEDANG BERHIJRAH

Akhir Januari lalu diacara Tamasya Kasih, aku lagi asik duduk ngegedprok bersama dengan ratusan orang lainnya. Saat itulah ada sepasang cowok-cewek yang melintas dan memasang senyum lebar ke semua orang. Yang cewek memakai kaos komunitas dibalut kemeja flanel, dengan celana pendek diatas lutut. Yang cowok juga pakai celana pendek. Ternyata, mereka adalah pengantin baru. Jadi wajar lah kalau diledekin dan disurakin abis-abisan sama semuanya. Saat itu wajah si E (inisial yang cewek) keliatan jutek abis tanpa pinsil alis, jadinya dia minta bikinin alis dulu sama temannya sebelum acara.

Makin lama kenal, beberapa kali ikut acara bareng E (karena aku jadi simpatisan di komunitas tersebut), aku jadi tau kalau E itu aslinya lucu abis. Dia suka banget ngomong pakai bahasa sunda. Dan saat ketemu sama nenek-nenek di panti, dia sering banget ngegodain nenek itu dengan logatnya yang khas dan bikin nenek jadi ketawa. E itu seru, E itu lucu, E itu melankolis. Kadang kalau lihat sesuatu yang bikin sedih, dia cepat banget terharunya. Sekitar dua bulan lalu begitu aku melihat facebook, E berubah. Awalnya hanya mengenakan jilbab. Lama kelamaan, sepertinya dia benar-benar memulai proses hijrah didalam hidupnya. Ia kembali belajar agama, belajar jadi istri yang solehah. Dilihat dari beberapa statusnya di facebook, ia menulis tentang suaminya yang sedang terbuai akan kenikmatan dunia. Komunitas itu emang lebih menekankan pada kegiatan alam bebas, seperti naik gunung atau menjelajah satu kota ke kota lain. Entah karena suaminya terlalu sering ke luar rumah atau apa (sekali lagi hanya E dan Allah yang tau alasannya) intinya mah E mau kalau suaminya juga berhijrah, atau setidaknya berubah ke arah yang lebih baik. Dear E, apapun yang selalu kamu do’akan, semoga dikabulkan oleh Allah, aamiiin.

Setiap orang akan mendapatkan jodohnya masing-masing. Nggak usah takut tertukar. Tapi pertanyaan kayak kapan dan siapa si jodoh, itu hanya Allah yang tau. Kita mah nggak bisa request mau yang model apa. Karena kalau bisa milih, pasti banyak yang do’a supaya punya laki kayak Fedi Nuril atau Dude Herlino, huehehe. Karena jodoh itu rahasia, makanya kita wajib belajar. Nggak mau kan disaat udah jadi istri baru mulai belajar. Kalau dari sekarang udah lihat contohnya, maka mulai belajar dari sekarang (maksudnya sebelum jadi istri orang) adalah pilihan yang tepat! Terima kasih E, udah menjadi contoh yang baik untuk kami semua.

3. MASA LALU DIA

Beberapa bulan ini, aku lagi dekat sama seseorang. Cowok, temannya Kak Sulis, namanya F. Awalnya kami cuma teman di grup whatsapp yang dibentuk sekitar bulan Maret. Lalu diledekin terus menerus disemua sosmed. Nah ledekan itu diseriusin, ya jadinya dekat deh. Tapi kalo dibilang pacaran, aku sih ogah. Sebut aja teman dekat yang pakai sedikit bumbu komitmen.

Sebelum dekat aku itu orangnya biasa aja. Semuanya aku anggap teman biasa, termasuk dia. Jadi mau dia ganti depe muka siapa, atau gebetannya dia yang mana juga bodo amat nggak merhatiin. Pikir aku, oh dia udah punya pacar jadi jangan terlalu berlebihan temanannya, daripada aku dilempar pisau sama orang. Sesederhana itu. Sampai akhirnya sesudah aku balik dari gunung Semeru, dan mereka balik dari gunung Argopuro di bulan Mei, intensitas ketemu dan diledekin semakin parah. Kami diledekin gara-gara sesama jomblo, dan punya beberapa sifat yang mirip (biarpun jelas masih cakepan aku daripada dia). Sampai sesudah lebaran, F langsung nembak biar jadi teman dekat. Aku diam, diam, sampai sekarang ya diam sih, wkwkwk. Kenapa aku diam? Karena aku belum tau banget sifat F itu kayak apa. Selama ini kenal cuma dari cerita Kakak-Kakak aja. Jadi aku biarin semuanya mengalir dengan sendirinya. Toh jodoh atau enggak hanya masalah waktu.

Berhubung komitmen duluan, jadi semuanya baru kebongkar setelah kami dekat. Kayak mantannya (baik itu mantan pacar atau mantan gebetan) yang ternyata ada buanyak banget. Bahkan waktu ngedekatin aku, dia juga lagi dekat sama satu orang. Sampai akhirnya mutusin buat ngejar satu orang aja, dini. Kadang kalau inget itu tuh masih suka kesel sendiri, gedek! Emang sih masa lalu, tapi kan… (maaf dini anaknya rada susah move on). Semua mantannya dia ceritain satu-satu, tapi namanya mantan yakan, jadi ceritanya sekilas, kadang kayak ada bagian yang di skip. Sampai dia cerita tentang satu sosok bernama N, di sore hari yang gerimis ketika kami lagi diperjalanan menuju rumah Alika (keponakannya F).

“Ada satu cewek, namanya N. Aku tuh lihat dia kayak udah siap banget deh dinikahin. Dia itu orangnya cekatan. Sayangnya aku sama dia kayak nggak pernah jodoh. Misalkan aku jomblo, dia punya pacar. Begitu juga sebaliknya. Jadi kita nggak pernah saling ngungkapin. Tapi biarpun gitu, dari dulu di hati aku selalu nyimpen N, biarpun kadarnya cuma 1%, pokoknya selalu ada dia. Duluuu, sebelum dia nikah.”

“Dia udah nikah?”

“Udah agak lama sih, sekitar satu atau dua tahun lalu. Dan nyebelinnya, dia itu baru ngomong kalau suka juga pas banget sebelum dia nikah. Jadi orang tuanya itu udah sakit-sakitan, dan dia dilamar sama mantannya. Jadilah mereka nikah. Pas malemnya sebelum nikah, dia nyuruh aku kerumahnya, ya aku nggak kasih lah. Akhirnya dia nikah deh.”

Tadinya aku mau nanya, “Lah kalau lu udah tau dia siap dinikahin, kenapa nggak lu lamar duluan hah???!!!”. Tapi berhubung ngebahas tentang orang tua, pertanyaan itu masih aku simpan rapat sampai sekarang. Saat itu yang keluar dimulut malah, “Terus orang tuanya gimana sekarang? Sehat?” tanyaku menghibur diri. Biarpun aku udah tau jawabannya.

“Nggak lama setelah nikah, ayahnya meninggal dunia.”

Innalillahi wa innailahi rojiun. Tepat kayak apa yang aku duga, dan rasanya kayak ada yang hangat diujung mata, padahal kan air hujan rasanya dingin.

Aku belajar bukan tentang hubungan F dan N yang ngambang. Etapi ngambang itu nggak enak ya ternyata, rasanya sedih kalau kita terlambat ngungkapin perasaan. Oke din fokus. Disini aku belajar tentang hubungan dengan orang tua. Ketika orang tua kita masih ada, pasti akan jadi kebanggaan tersendiri ketika kita mampu menuruti apa kata orang tua. Percayalah, semua yang orang tua katakan itu demi kebaikan si anak. Hay N, ayah kamu pasti bahagia karena sempat lihat kamu bertemu dengan jodoh kamu. Seseorang yang siap menanggung semua untuk kamu 🙂

***

F selalu minta aku buat belajar dan belajar. Katanya orang nikah tuh susah. Harus belajar ini, itu. Ilmu agamanya diperdalam, level masaknya ditingkatin, sifat ngeselin dikurangin. Kadang kalau lagi kesal paling bilang. “Lu mau gue nikahin nggak sih, makanya belajar!”

Sekarang, kalau ingat pernyataan dari F itu, otak aku langsung ingat N. Mau nggak mau jadi ada semacam pikiran jahat di kepala aku kayak… Oh, jadi selama ini nyuruh ini itu, bikin peraturan ini itu, ngerubah sifat ini itu, biar jadi kayak sosok N yang siap dinikahin? Iya, gitu? Tapi yaudah lah ya bukan urusan aku. Itu urusan mereka berdua di masa lalu.

F… dengar. Sebelum kita kenal. Sebelum aku diceritain tentang N. Aku udah punya tekad untuk belajar, terlebih dari kisah E. Langkah awal, tentu aja dimulai dari nabung, dan segala jenis belajar lainnya. Bukan untuk calon aku kelak, melainkan untuk diri aku sendiri. Karena kalau aku melakukan sesuatu untuk orang lain, kelak ketika aku pisah sama orang itu, maka semuanya akan terasa percuma dilakuin. Begitu bukan? Maka mulai sekarang, tanami segala hal yang baik untuk diri sendiri. Emang sih yang diajarkan sama F itu hal-hal yang positif, aku akui. Kelak kalau emang jodoh, maka F sedang memetik apa yang telah ia tanam. Kalau nggak jodoh, maka jodohku harus berterima kasih sama F yang telah menanamkan beberapa hal baik.

Udah ah ceritanya, masih pagi nanti baper lagi.

Intinya mah, kita jadi wanita kudu belajar terussssss. Belajar yang rajin. Belajar tentang banyak hal. Belajar jadi diri yang lebih baik. Semoga setelah belajar nanti dikirim jodoh yang baik pula, aamiiin 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Belajar!

  1. hhehee mbak kalau ada yang kayak Fedi Nuril atau Dude Herlino aku mau satu yak ! 😀

    Wah mas F.. mungkin kalau aku yang di ceritain soal mantan. Malah baper.
    Eh ya.. emang kita harus belajar terus, gaada batasan umur. Tapi juga berusaha semoga nggak telat.

    Tapi.. belajar masak itu susah euy. Wkwkwk.
    Pulang kantor uda capek.
    Terus bangun pagi langsung kerja.

    Tapi kalo gak di paksa, ya kapan belajar masak ya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s