Seandainya

20151225_115024.jpg

Beberapa hari ini, si dini lagi nyebelin banget! Dikit-dikit sensi, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah. Untuk semua korban yang kena sama aku, maafkan yak.

Alasan terakhir kenapa aku sensi adalah, karena lagi PMS. Sumpah ya, kalau lagi PMS itu tuh aku susahhhhhh banget nahan diri untuk nggak marah. Biarpun untuk hal yang kecil. Kadang, hal yang biasa dibercandain jadi aku anggap serius. Kayak seminggu lalu itu contohnya. Karena bercandaan biasa, aku nanggepinnya serius. Dikepala ini nggak bisa yang namanya nggak mikir yang macam-macam. Yang buruk lah pemikirannya.

Beruntung, yang aku marahin masih bisa nahan diri. Iyaaa, nahan diri supaya nggak ngelempar golok ke aku 😀

Dibalik alasan PMS, ada satu hal yang bikin aku sensi dan bawaannya mau marah-marah melulu.

Rasa kangen!

Aku kangen kemping. Aku kangen nggak mandi di gunung. Aku kangen jalan-jalan jauh dan lihat hijau-hijauan. Aku kangen sama semua itu 😦

Tapi… dibalik rasa kangen, ada satu rasa yang lebih mendominasi. Yaitu rasa tanggung jawab. Sejak beberapa bulan yang lalu, aku ikut bikin janji untuk berhenti naik gunung sampai batas waktu yang udah ditentukan. Oh iya, berhenti naik gunung ditambah berhenti jalan-jalan jauh dulu. Kecuali kalau perginya dalam rangka kegiatan baksos atau acara keluarga.

Katanya ketika 2 orang bikin janji, maka bukan hanya tentang 2 orang itu aja, melainkan Allah SWT juga terlibat didalamnya. Dengan ingat itu terus, kayak ada alarm di kepala setiap aku mau melakukan sesuatu.

Karena aku udah berjanji dan nggak ada niatan sama sekali untuk ingkar, maka marilah berandai-andai tentang kejadian yang beberapa waktu lalu pengen banget aku lakuin.

***

Seandainya aku nggak punya janji, bulan Agustus 2016 aku pasti akan ngerengek ke Ibu biar diijinin ke Bali. Main di pantai, muncak di Gunung Agung, dan sebagainya. Pasti dengan segala usaha aku bakal ngerayu, tentu aja dengan resiko menghabiskan budget yang cukup besar. Sayangnya aku keburu janji untuk ikut mengantar botol minum ke Desa Cisadon, tepat satu minggu sebelum acara di Bali. Sebagai anak baik, batas aku ijin jalan-jalan ke Ibu itu sebulan sekali, nggak mau lebih. Dan janji itu membawa aku ke suatu tempat didaerah Sentul. Ternyata, tempat itu berhasil bikin aku jatuh cinta. Suasananya, jalurnya yang bikin kaki pegal, anak-anak kecil yang selalu bikin aku lebih banyak bersyukur. Sejak itu, tempat bukan jadi hal terpenting untuk aku jalan-jalan. Tapi lebih kepada manfaat dari jalan-jalan tersebut.

Seandainya aku nggak punya janji, akhir Oktober 2016 mungkin aku akan ikut Trio Hijabers (Kak Anna, Kak Susay, Nina) ke Lampung. Menghabiskan waktu untuk jalan-jalan cantik di kampung halamannya Kak Anna itu. Pergi ke beberapa lokasi yang pastinya bisa bikin stok foto jadi segudang. Tapi, sebelumnya aku udah janji untuk ikut baksos ke Desa Cigadung. 2 hari yang penuh dengan gigitan nyamuk, tanah becek, tanpa listrik. Sepulangnya dari sana, foto aku dikit banget, itu juga diambil secara candid dan hasilnya ada yang bagus tapi kebanyakan yang aneh. Untuk pertama kalinya aku punya pengalaman baksos bersama orang banyak. Bantuin dapur umum motongin sayuran atau sekedar nyeduh kopi. Saat itu, rasanya nggak ada kata lelah. Mungkin itu yang namanya semangat berbagi.

Seandainya aku nggak punya janji, akhir Desember 2016 mungkin aku akan ikut acara di Purwakarta. Kemping ceria, masak-masak, lihat hijau-hijau. Hal yang mungkin udah lama banget nggak aku lakuin. Tapi, aku lebih memilih untuk ikut Bapak dan keluarga yang lain untuk mudik. Aku dan Iqbal (anaknya Om) kebagian jagain Bapak, Budeh, Pakdeh, Om dan Tante yang kadang suka kambuh penyakitnya. Kadang, anak-anak berisik kayak kita itu dibutuhkan untuk peramai suasana. Main hammock di pohon jati depan rumah mbah. Naik ke bukit dekat rumah mbah sampai kaki pada lecet. Jenguk mertuanya Tante yang di Jawa, kebetulan mbah yang disana udah semingguan sakit. Pas aku kesana kondisi mbah masih belum ada perubahan, dan tanggal 26 Januari 2017, mbah Ikin meninggal dunia. Semoga amal ibadah mbah diterima disisi Allah SWT, aamiiin ya robbal alamin. Aku juga nengokin mbah (ibunya Bapak) yang di Gunung Kidul dengan mengendarai motor berdua Bapak (kebetulan Ibu aku nggak mau ikut mudik). Sewaktu naik motor berdua itu, aku anggap sebagai Quality Time antara anak gadis dan Bapaknya. Asli, jadi biru deh rasanya. Aku ngebayangin, suatu saat tanggung jawab Bapak akan pindah ke satu pria. Yang dalam setiap do’a, aku berharap bisa sama tanggung jawabnya kayak Bapak, satu-satunya pria didunia yang paling sayang sama aku. Kan, jadi sedih ngetiknya. Intinya, liburan bersama keluarga adalah hal terhebat yang nggak bisa digantikan dengan apapun.

Dan masih banyak seandainya seandainya yang lain.

***

Ibaratnya tuh kayak kamu lagi kangen banget sama dia, tapi dia udah punya yang baru. Kan kamu jadi nggak bisa nemuin dia lagi! Akhirnya kamu jadi sensi deh karena kangen yang nggak keturutan itu.

Seperti itulah rasanya…

Iya udah gitu aja. Namanya juga lagi kangen, jadi kalau nggak keturutan bawaannya sensi terus. Untuk semua pihak yang terlibat mohon dimaklumi dan dimaafkan yak. Semoga kapan-kapan rasa kangen ini bisa terobati, aamiiin (bukan kode biar diajak jalan-jalan ini mah, serius!).

Advertisements

18 thoughts on “Seandainya

  1. Wah suka jalan-jalan rupanya. Kadang heran sama traveller kok bisa-bisanya mbagi waktu yg nggak sedikit untuk jalan ke tempat-tempat jauh. Tapi aneh juga cewek klo PMS ha ha ha….
    .

    Like

  2. Ho? Selama satu bulan terakhir saya belum ke mana-mana juga Mbak, hehe. Saya bisa paham bagaimana kangennya jalan-jalan. Tapi ya menurut saya pasti ada kegiatan seru yang menjadi ganti pengisi waktunya itu, selama belum bisa traveling. Baksos dan menjenguk keluarga itu menurut saya sudah bagus banget dan bisa punya banyak cerita. Dibandingkan saya yang mengisi waktu ini hanya dengan bekerja di kantor, ya saya jelas kalah jauh…. Tapi menurut saya masih banyak banget sih yang bisa kita syukuri. Di luar sana banyak banget orang yang buat jalan-jalan saja nggak bisa. Hehe, peace.

    Like

  3. Dan aku butuh makan Din. . . . .

    Aku butuh kulineran. . . . .

    Tapi apa mau dikata, aku juga ada janji untuk mengurangi kebiasaan boros itu dan mulai memperhatikan ‘anak yatim’. . .

    Ah, , , apa aku juga udah sensi ya belakangan ini???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s