Selamat Ulang Tahun Pria Paling Ganteng Sedunia!

26faecdd-f037-43e1-8122-a360c5713094.jpg

Jakarta, 10 Maret 2017

Alkisah… 59 tahun yang lalu, lahir seorang anak laki-laki di Desa Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biarpun masih termasuk Jogja, tapi letaknya dibagian ujunggggg banget dan jauh dari hiruk pikuk Malioboro yang hits banget itu.

Iya, Ponjong itu kampung sekali saudara-saudara! Biarpun kampung, tapi jangan salah, pemandangannya cakep! Masih banyak sawah, pepohonan, sumber air. Apalagi di depan rumah Mbah masih ada lahan kosong yang disulap jadi kebun dan kolam ikan ala-ala sama tante. Enak sih kalau mau masak sayur tinggal metik, tapi… disana banyak kucing, bikin aku bersin-bersin terus. Jadinya kalau mudik, paling aku nginep disana sehari semalam aja. Selebihnya aku nginep dirumah Mbah dari Ibu yang ada di daerah Wonogiri. Maafkan anakmu ini Pak yang jarang nginep sana 😂

Di rumah itu pula, Bapak lahir dan tinggal sampai lulus sekolah. Setelah itu mengadu nasib ke Ibu Kota kayak orang-orang kampung lainnya. Alhamdulillah Bapak dikasih rezeki di Jakarta. Bisa kenalan sama Bu Yani yang waktu muda cantik banget, nikah, kemudian punya rumah di Tangerang dan 2 anak yang cakep-cakep (nunjuk diri sendiri, kalau Mbak sih dibilang jelek juga nggak apa-apa).

Nah, berhubung hari ini pria paling ganteng sedunia alias Bapak Mijo Sentono lagi ulang tahun, aku mau sebutin beberapa fakta. Emn… bukan fakta juga sih. Ini adalah beberapa percakapan yang terjadi antara aku dan Bapak.

1.   Anak Tunggal

“Bapak itu sebenernya anak tunggal lho dek,” kata Bapak suatu hari.

“Hah?” tanyaku curiga. Ini Bapak lagi berandai-andai kali ya. Udah jelas-jelas dia punya saudara, duh Pak.

“Iya, Bapak itu anak tunggal yang berkakak dan beradik banyak.”

“Bhahahahahaha”

Ngakak lah aku pas itu. Gini lho, sesungguhnya Bapak emang anak tunggal. Kakek aku nikah sama Nenek, lalu punya anak Bapak. Tapi… si Kakek ini nikah-cerai juga sama yang lain dan memiliki beberapa anak. Begitu juga sama Nenek yang nikah-cerai sama 2 orang kalau nggak salah. Jadi kalau mudik dan pas keliling kampung, banyak banget Mbah aku. Tapi tenang, jaman dulu mah biarpun gitu pada akur semua kok, wkwkwk.

Untungnya Bapak adalah orang yang setia, sampai detik ini masih sama Ibu seorang. Dan semoga terus begitu selamanya ya Pak, aamiiin.

2.   Berkulit Putih

“Bapak itu sebenernya putih lho,” kata Bapak karena nggak terima pas aku bilang item.

“Masa sih, putih dari mana coba? Putihan aku lah!” aku tetep aja nggak mau kalah.

“Tuh liat, badan Bapak mah putih. Tangannya doang yang item gara-gara kena panas terus.”

Emang sih kalau dirumah Bapak hobi banget nggak pakai baju atasan, pria mah begituuu. Tapi kalau lagi sepi aja sih, kalau tiba-tiba ada yang dateng dia langsung ngumpet ke kamar, hadeh 😑

“Putihan aku!” aku menjulurkan tangan biar sejajar dengan tangan Bapak.

“Tapi kan yang item ini justru ngerawat yang putih!”

Dan… Bapak menang!

3.   Enakan Juga Nyetir

“Dibelakang sempit ya? Didepan lega lhoooo. Enakan nyetir!” kata Bapak sewaktu ngelirik kita-kita yang duduk dibangku belakang.

Dulu saat Om masih ada, kita semua pernah mudik naik mobil Kijang punya Pakde. Kijangnya tuh jadul banget, dan sempat di perbaiki sehingga bangku yang paling belakang posisinya berhadapan. Ngerti kan, jadi untuk 4 orang gitu tapi duduknya berhadapan. Dan karena itu mobil jadul, cuma Bapak yang bisa nyetir. Bapak tadi lagi sombong ke kita (Aku, Ibu, Om, Mas Rio) yang duduk berhimpitan antar dengkul ditambah barang lainnya. Sempit bangeeettttt.

Lalu, do’a kami berempat didengar.

Berhubung jalan raya dikala musim lebaran padat merayap, ditambah tol Cipali belum ada, jadilah Bapak nyetir ke Jawa Tengah kurang lebih selama 24 jam. Bayangin… 24 jam!

Dan tengah malem itu, Bapak lagi perenggangan otot tangan, di rest area. Kayaknya udah sampe ditahap pegelll banget! Aku dan Mas Rio yang baru sadar kalau mobil berhenti (tadinya kita molor) langsung nyamperin Bapak.

“Enakan didepan ya pakde, bisa selonjoran, bhahaha…” ledek Mas Rio.

Kemudian Bapak cuma bisa garuk kepalanya yang mungkin saat itu nggak terlalu gatal.

4.   Hemn… Belanjaannya Jatuh Sendiri

Sewaktu SMA, aku selalu masuk siang dan pulang sekitar pukul 18.00 WIB. Nah, jam pulang aku itu kadang sama kayak jam pulangnya Mbak dan Bapak. Jadi, kita bertiga kalo tanggal muda suka janjian di Supermarket depan gang buat nemenin Mbak belanja. Untuk urusan ini Ibu tinggal tunggu kita dirumah dan terima bersih.

Saat itu pula, aku dan Bapak selalu kompak. Iya… Kita kompak banget menguras duitnya Mbak.

“Ini apaan sih?!” tanya Mbak sewaktu lihat keranjang dipenuhin sama snack, bengbeng, dan permen yang bukan belanjaan dia. Dan dia baru sadar begitu sampai didepan kasir.

“Nggak tau. Hemn… Belanjaannya jatuh sendiri!” kata Bapak dan aku, kompak.

Sejak saat itu kadang Mbak lebih milih belanja sendiri daripada ditemenin kita berdua.

5.   Kamu Jangan Sedih Ya

Beberapa tahun lalu, kita semua kehilangan sosok Om yang amat sangat kita sayangin. Iya bener, Om yang ada dinomor 3 itu.

Selama hampir setahun, Om sakit dan sempat mengalami cuci darah. Om yang dulunya ndut, putih, perlahan berubah. Padahal Om itu tipe yang rajin bulutangkis kalau malam. Dan pasti, Om udah aku anggap sebagai Ayah kedua aku. Sampai kalau aku pulang piknik dulu, Om yang gantiin untuk jemput aku kalau Bapak pulang malam.

Suatu sore, perasaan aku udah kacau balau. Feeling nggak enak. Dan kebukti setelah aku buka loker dan baca satu pesan singkat dari Bapak.

Dek… Bapak pulang kampung ya

Air mataku langsung ngalir nggak berhenti. Dari kantor sampai didalam metro mini. Aku berusaha buat berpikiran positif, tapi nggak bisa. Iya, saat itu Om yang sedang sakit parah minta pulang kampung terus, karena di kampung masih ada Ibunya.

“Bapak dimana?” tanyaku dengan suara yang bergetar dan mata yang basah.

“Bapak udah dijalan mau ke Bekasi jemput Lek Nok. Bapak nemenin yang lain ya.”

“Tungguin aku, aku ikut.”

“Kamu dirumah aja jagain Ibu. Nanti pasti banyak yang dateng kerumah samping. Kamu jangan sedih ya…”

Dan meledaklah tangisanku. Bahkan aku udah nggak peduli kalau lagi ditempat umum.

Masih dengan mata yang basah, begitu sampai rumah aku langsung nangis kejer sambil meluk Ibu.

“Dek…” bahkan Ibu juga nggak bisa berkata apa-apa.

Akhirnya malam itu aku dan Ibu jagain rumah samping, sambil nyalamin orang yang berkunjung dan selaluuu ngeluarin air mata tiap ada yang bicara.

Mbak sama keponakan aku juga nginep, nggak tega sama kita berdua yang nangisnya nggak berhenti dari sore.

Begitu mau tidur, aku cuma bisa nangis lagi dan berpikir… Ya Alloh… Aku aja rasanya sedih banget. Apalagi Mbah Jaminem (Ibunya Om). Gimana tante. Gimana kedua anak Om. Gimana Bapak. Bapak, mungkin satu-satunya sahabat yang Om punya. Seorang kakak ipar, juga teman memulai segalanya dari nol. Dari yang namanya beli tanah di Tangerang, kemudian sama-sama bangun rumah bersebelahan. Yang dari dulu jadi partner nyetir ketika Om udah punya mobil.

Biarpun tegar, aku tau Bapak amat sangat sedih. Tapi sebagai andalan keluarga, tentu aja Bapak harus terlihat paling kuat.

***

Lama-lama kok ceritanya jadi sedih ya, huehehe. Intinya sih, Bapak adalah sosok tercanggih untuk anak-anaknya. Yang harus terlihat kuat dan santai dalam waktu bersamaan. Yang harus selalu nyiapin uang jajan untuk anaknya, maksimal sampai si anak bisa nyari duit sendiri. Yang harus selalu pasang badan pertama kalau ada masalah apapun.

Do’a untuk Bapak. Semoga diberi kesehatan. Dilancarkan rezeki dan segala urusannya. Jadi Bapak, Kakek dan Anak yang terbaik. Aamiiin ☺

Sekali lagi, selamat ulang tahun pria paling ganteng sedunia!

Advertisements

12 thoughts on “Selamat Ulang Tahun Pria Paling Ganteng Sedunia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s