Setahun Berlalu

3d18f3b9-1b4e-4c63-83df-8344b3c67ec7.jpg

Minggu, 19 Maret 2017

Jakarta lagi panas-panasnya hari ini. Panasnya sampai nembus tulang. Heran, padahal daging aku kan tebel, tapi masih aja nembus.

Mata juga perih banget. Mungkin karena semalam aku abis kepikiran tentang beberapa hal. Namanya juga dini, dia yang baca chat orang, dia juga yang udahannya jadi kepikiran. Ditambah chat barusan itu masalahnya sama persis kayak penyebab perang dunia ke-5, tiga minggu yang lalu.

Tapi, mau nggak mau, biarpun lagi segedek apa juga rencana hari ini tetap harus berjalan. Dari jengukin Pakde dan Budeh di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto, jajan kaos Cottoncombed di daerah Condet, nonton seminar tentang kopi di Kemang, main sama Junior di Foodcourt d’Hara Pasar Minggu, sampai nurutin maunya anak kecil ganteng itu jajan pizza. Secara dari siang itu anak galau, manyun, nonton youtube juga sambil nyebut kata ‘pizza’, kode terus lah pokoknya. Sampai akhirnya nyokap sama bokapnya Junior tobat dan ngajak ke Pizza Hut Cilandak. Padahal setelah pizza datang, dia cuma makan sepotong dan katanya dia nggak suka, ngookkk. Anak kecil mah gitu, banyak maunya.

Dan dengan mata yang sepanjang jalan merem akibat ngantuk parah dan perut yang kadang kram dikarenakan sedang halangan, perjalanan Cilandak-Ciledug itu terasa cepat. Aku dan Fahmi ngeluarin kantong plastik dan membagi isinya setelah semua tadi dimasukkan ke dalam daypack aku, begitu sampai didepan rumah.

“Nih buat kamu, bukanya nanti aja tapi kalo udah masuk rumah.”

Setelah jajan kaos, orang jelek ngasihin lagi bungkusan yang berisi kotak agak kecil berwarna hitam yang tadi ditaruh dalam goodie bag. Enggak, itu bukan kotak berisi cincin kok.

Begitu kelar cuci muka segala macam, akhirnya aku buka kotak itu. Dan isinya adalah… kerudungan segiempat dengan dua motif kayak foto diatas. Akhirnya cita-cita Kang Garem (jangan panik, sebutan buat Hairul Fahmi mah banyak!) buat beliin kerudungan dengan kualitas premium kesampaian juga. Alhamdulillah yah.

Dan berdasarkan tulisan tangan yang nggak cakep-cakep amat itu, tandanya udah setahun aku ketemu langsung sama dia. Setahun… udah lama juga, dan nggak berasa!

***

Berawal dari moment jenguk Mbaknya Kasulis yang lagi dirawat di RS Marinir Cilandak, perkenalan antara aku, Kasulis, Kasusay dan Fale semakin akrab. Dan memutuskan untuk melakukan satu perjalanan ke gunung Argopuro. Kasulis bilang, ada 2 orang temannya yang mau ikut juga. Maka dibentuklah grup whatsapp untuk itu. Dari yang namanya ramai di grup sampai ketemu langsung sebelum ke Green Canyon.

Dan tepat tanggal 19 Maret 2016 lalu, pertama kalinya aku lihat wujud asli dari yang namanya Hairul Fahmi. Cowok tinggi kurus yang kelihatan lagi bingung nyariin Kasulis.

“Om Pahmiiiiiii,” panggil aku, sok kenal.

Nggak lama Kasulis muncul dan kita bertiga duduk dibangku sambil jajan es. Waktu itu aku pinjem duitnya 10 ribu karena duit didompet semuanya gede, dan sampai sekarang belum aku balikin karena lupa (semoga aja nggak dibungain sama dia).

Biarpun akhirnya aku nggak jadi ikut ke Argopuro, tapi namaku masih ada di grup itu. Ngeselin kan. Apalagi pas mereka share foto-foto sewaktu di Argopuro, KESEL BANGET!

Dulu aku anggapnya ya cuma kayak teman se-grup biasa. Sampai akhirnya ada japrian dari dia setelah aku nitip oleh-oleh Teh Naga di grup, sewaktu tau kalau dia masih keliling Jawa Timur dan Jogja selama beberapa minggu. Kalo ngetik dikit di grup, pasti diledekin. Terlebih ada beberapa kejadian di Argopuro yang bikin Kasulis dan Kasusay semakin yakin untuk ngeledekin kita berdua. Dasar lau, bikin malu aja kegep sama mereka berdua!

Setelah semuanya balik lagi ke Jakarta, kami (Dini, Kasulis, Kasusay) sepakat untuk jenguk Kak Windhy yang belum di operasi setelah mengalami kecelakaan di gunung Argopuro. Setelah di operasi, rencananya kami mau jengukin lagi. Semuanya udah pada janjian tuh, eh tapi Kang Garem malah menghilang. Entah dia lagi ngalamin apa. Yang jelas sebelum ilang gitu, dia pamit di grup dan japri aku. Pesan yang paling utama tentu aja, jangan lupa sholat.

Agak panik, aku coba tanya ke Kasulis dan Kasusay. Mereka berdua juga nggak dapet info apa-apa. Aku kesel lah. Ini orang maksudnya apa sih? Muncul untuk hilang?

Kalau ada satu hal yang paling aku benci adalah, ketika teman aku hilang. Siapapun itu. Aku pasti akan cari mereka sampai ketemu. Aku takut ketika mereka hilang, mereka akan melakukan hal yang aneh. Emang pikiran si dini mah drama banget.

Dua atau tiga hari nggak ada kabar, akhirnya aku coba ikhlasin. Aku juga bukannya diam aja pas teman aku hilang. Aku udah cari, tapi kalau mereka yang mau pergi ya udah.

Tepat dihari jengukin Kak Windhy pasca operasi, ada whatsapp masuk dari Fahmi. Siang itu aku agak nggak fokus karena lagi digojek menuju Stasiun Tanah Abang.

Dimana?

Di jalan, raisa lagi otw mau jengukin kaka windhy

Aku boleh ikut nggak?

Terserah, tanya aja ke Kasulis sama Kasusay

Akhirnya setelah beberapa hari sok ngilang, itu orang muncul juga. Dan tambah diledekin lah kita berdua pas dirumah Kak Windhy. Pertama kali juga aku dianter pulang sama dia. Bayangin coba secanggung apa, setelah beberapa hari diem-dieman dan sekalinya ketemu langsung diledekin sama orang-orang.

Berhubung aku udah capek kabur dari cowok-cowok yang ngedeketin, dan mungkin dia juga udah capek di-php-in sama cewek-cewek lain. Akhirnya aku mengiyakan aja waktu diajakin komitmen. Karena kita kenal masih baru banget, jadi masih tahap penyesuaian. Cocok syukur, nggak cocok yang dibikin biar cocok (bhahaha, maksa amat!).

Kejadiannya sewaktu aku balik dari McD dan bawa tas titipan Kasusay. Rasanya pas itu sih biasa. Aku jawabnya juga iya iya aja, tampang nggak meyakinkan.

Dari pertemuan satu berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Dari jengukin Kasusay yang abis kecelakaan dan sementara tinggal di kosan Nina. Main masak-masakan sama Kasusay sewaktu dia ditinggal Nina naik gunung. Halal bihalal ke rumah Kasulis pas lebaran. Jalan-jalan ke Cisadon. Baksos di Cigadung. Berkunjung ke Cisadon lagi. Udah sih kayaknya itu aja jalan-jalannya. Sisanya mah disekitar Ciledug dan Jakarta Selatan aja. Ya… tau sendiri kita mah lagi nabung. Jadi harus irit, jangan terlalu sering jalan-jalan.

Dari kepanasan, kehujanan, kebanjiran.

Faktanya, dari bulan Juli sampai sekarang kita itu nggak pernah akur. Pokoknya dalam seminggu bisa berantem sampai 3x. Mending kalau berantemnya kalem, ini mah kadang sampai maen gigit tangan, pelintir jari, cubit.

Kadang aku bingung, sebenernya kita berdua itu apa sih? Dibilang pacaran, nggak mau. Dibilang temen, tapi ada komitmen. Apa coba?

Tapi apapun kita, intinya sih aku mau ngucapin makasih.

***

Setahun berlalu…

Makasih buat isi kotak itemnya, karena itu adalah benda yang sama-sama kita sukain.

Makasih buat daypack yang nyarinya setengah idup. Ya gimana dong, selera aku kan yang jarang-jarang gitu.

Makasih buat bengbeng rasa kacang, yang pernah nyarinya setengah idup juga karena stoknya tinggal dikit.

Makasih udah jadi temen berantem dan adu debat disegala hal, biarpun aku sebel kalau balesan cubitnya kadang bikin kulit aku jadi warna biru.

Makasih buat lengan baju panjanganya, yang selalu aku peperin ingus setiap baksos dan kalau lagi pilek tapi nggak ada tissue.

Makasih buat punggungnya, yang selalu aku jadiin tempat molor (paling lama) 10 menit setelah duduk diatas motor.

Makasih buat perintilan yang lain, dari yang penting atau nggak begitu penting dan selalu berusaha untuk nurutin kemauan aku.

Makasih lho yaaaaaaa.

Semoga do’a kita diijabah Allah SWT. Segala urusan dilancarkan. Segala masa lalu diikhlaskan dan dijadikan pelajaran. Karena udah sama-sama berjalan jauh, jadi kita berhenti dititik yang sama aja ya. Sekarang tinggal ngelanjutin semuanya dengan berdo’a dan berusaha lebih giat, oke?!

Udah ah gitu aja, nanti kalau Kang Garem baca jadi geer lagi. Oiya, ini adalah caption yang ditulis sama Kang Garem alias Hairul Fahmi di instagram. Agak alay sih, tapi pasrah aja deh daripada kena jitak. Karena kita nggak pernah ngerasa pacaran dan nggak ada tanggal jadian, jadi kita sepakat untuk memperingati moment pertama kali ketemu langsung aja. Biarpun menurut pengakuan Kang Garem, duluuuuuu… dia pernah lihat aku di Gunung Semeru, tahun 2014.

Sebuah rencana perjalanan lah yg jd awal cerita panjang kami, bumi perkemahan jadi tempat pertama kali kami bertatap wajah, hanyalah teman perjalanan pendakian saat itu, namun Allah telah mengatur rencana sedemikian indah, sampai lah kami pd titik ini, titik dimana pd tiap harinya semua do’a terbaik kami adukan kpd pemilik alam semesta agar kami terus diikat semakin erat. Setahun sudah semenjak awal bertatap wajah dengannya, cerita ini telah berjalan seperti apa yang telah Dia kehendaki, canda tawa marah kesal terus kami lewati dengan yakin, dan semoga apa yang tiap saat kami adukan kepadaNya datang lebih cepat dari yang kami pinta, Rabb.. Kau lah pemilik semesta.. Teruslah beri kami keyakinan satu sama lain sampai pd hari itu tiba. Amin.. 😊😊
.
💐 @dinimuktiani

Advertisements

8 thoughts on “Setahun Berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s