Pendakian Gunung Pulosari

IMG-20150226-WA0000

“Gunung Pulosari? Dimana tuh?”

“Itu… Di Pandeglang, masa nggak tau sih.”

“Lah, emang disana ada gunung ya? Bukannya cuma ada Pantai?”

Mungkin banyak yang akan bertanya seperti itu ketika mendengar nama Gunung Pulosari. Akupun begitu. Pertama kali mendengar dari teman kantor yang tinggal didaerah Serang. Saat mendengar itu, aku meminta ajak dan kami berencana mendaki kesana pada bulan Maret 2015.

Tetapi semua rencana berubah ketika kami bertemu dengan Egi (baca cerita Papandayan). Egi yang merupakan warga asli Serang mengundang kami untuk merasakan sensasi gunung ini. Yang katanya kecil-kecil cabe rawit.

***

Gunung Pulosari adalah gunung berapi di Kabupaten Pandeglang, Banten, Indonesia. Walaupun tidak ada data letusan yang pernah terjadi, tapi terdapat aktivitas fumarol yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 meter.

Menurut Sajarah Banten, sesampai di Banten Girang, Sunan Gunung Jati dan puteranya, Hasanuddin, mengunjungi Gunung Pulosari yang saat itu merupakan tempat kramat bagi kerajaan. Di sana, Gunung Jati menjadi pemimpin agama masyarakat setempat, yang masuk Islam. Baru setelah itu Gunung Jati menaklukkan Banteng Girang secara militer. Kemudian dia menjadi raja dengan restu raja Demak. Dengan kata lain, Gunung Jati bukan mendirikan kerajaan baru, tapi merebut tahta dari kerajaan yang sudah ada, yaitu Banten Girang.

Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut “arca Caringin” karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-resisten Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulosari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10.

Diperkirakan Gunung Pulosari adalah tempat kramat Kerajaan Sunda, yang pernah ada antara tahun 932 dan 1030 di bagian utara provinsi Banten sekarang (Sumber dari Wikipedia).

***

Sabtu, 14 Februari 2015

Sore itu, kami (Dini, Galung, Rekta, Sheila, Wahyu) berangkat dari rumah Rekta menuju Slipi untuk naik bus jurusan Serang. Disepanjang perjalanan aku habiskan dengan tidur sambil batuk. Udah tau batuk tapi masih gegayaan naik gunung, gimana sih din?!

Sampai di pintu tol, kami berjalan ke arah bus-bus yang lagi ngetem dipinggir jalan. Konon katanya, kami mau janjian sama Egi di daerah yang benama Mengger. Jadilah kami mencari bus yang menuju sana. Ternyata, beuuhhh… penuh banget! Dan setelah berdesakan di bus, aku baru tau kalau Galung bawa love bird warna hijau di tas kecil pinggangnya.

Udah penuh, supir bus ngebut banget. Banyak-banyaklah berdo’a sepanjang perjalanan.

Setelah kurang lebih satu jam, turunlah kami pada pertigaan jalan yang berada didaerah Mengger itu. Egi dan satu orang temannya udah menunggu kami didepan minimarket.

“Ke pintu masuknya naek angkot apaan Gi?” tanya Rekta.

“Ya paling nyewa angkot kalo kesana mah. Nggak mau jalan kaki aja?” Egi malah balik bertanya.

“Jauh nggak?” tanya kami kompak.

“Ah enggak, dekeetttttt.”

Dan kami pun nggak percaya sama Egi.

Akhirnya semua memilih untuk nawar harga ke pak supir angkot hingga tercapai kata deal. Plis jangan tanya nama angkotnya apa dan biayanya berapa karena aku udah lupa tentang angkutan serta rincian biayanya dari awal.

Ternyata setelah dijalani… Jauh dong jaraknya!

Emang si Egi tukang tipu. Dia malah ngakak begitu kita semua protes ke dia. Mungkin Egi mau balas dendam karena merasa di bohongi pas Papandayan kemarin. Dimana saat itu, Egi yang baru pertama kali ke Gunung Papandayan percaya aja ketika Rekta bilang jaraknya dekat.

Setelah melewati jalan gelap, sampailah kami pada basecamp yang malam itu suasananya cukup ramai.

IMG-20150222-WA0060.jpg

Setelah istirahat, sekitar setengah jam kemudian kami bersiap untuk naik. Nggak lupa kami berdo’a dulu sebelum melangkah. Apalagi Banten juga masih kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Beberapa kali naik gunung, kayaknya nggak ada yang paling capek selain ini. Dari bawah aja aku udah batuk, sekalinya mau berhenti karena pengen mabok, Egi bilang agak naikan lagi aja. Jadi disebelah tempat aku berdiri ada pohon manggis. Kalau kata Egi, nggak baek istirahat di pohon manggis, soalnya bisa diganggu sama penghuninya dan akan bikin si korban seolah berputar-putar disitu terus.

Wallahu A’lam Bish-Shawab

Akhirnya aku harus nahan itu dahak sampai agak naikan lagi. Dan ini gunung sumpah ya, kecil-kecil cabe rawit! Jalurnya sih nggak terlalu sempit, tapi dari bawah langsung full tanjakan terus. Capek banget asli, batuk sambil naik gunung. Padahal aku cuma bawa ransel yang biasa aku pakai main. Buat yang lagi sakit batuk, coba dipikirin matang-matang lagi kalau mau naek gunung. Capek banget!

“Biasanya sih kalo sakit ya obatnya naek gunung.”

Rasanya si Rekta minta ditabok banget. Kalau sakitnya sakit hati sih mungkin gunung bisa jadi alternatif, ya mana tau bisa nemu gebetan. Lah kalo sakit batuk? Udah tiap ngelangkah kaki gemeter, tenggorokan gatel, dan berujung pernapasan yang nggak stabil. Beruntung pemandangan city light yang muncul dari balik dedaunan bikin hati terhibur. Ah, syahduuu.

Gemericik air menandakan kalau kami udah mau sampai di Curug Putri, Pos 2 gunung Pulosari. Berhubung sampai disana udah hampir tengah malam, jadi nggak terlalu jelas air terjunnya. Dari sini sih agak aneh karena aku nggak menemukan jalur trekking.

“Abis dari sini kemana lagi sih Gi?” tanyaku aneh.

“Lewat situ tuh,” kata Egi sambil menunjuk jalur ke kanan. Dimana ada batu besar yang miring dan pegangan dari bambu kecil disisinya. Harus banget lewat situ ya, Nabila Syakieb udah lelah ini -______-

Dari nyebrang aliran air, kami harus naik ke atas batu. Mana batunya tinggi banget lagi. Kaki aku dan Sheila yang bantet jadi susah kan manjatnya.

Beruntung dari situ perjalanan menuju Kawah nggak terlalu jauh. Tanjakan, turunan, dan begitu ada banyak suara-suara orang lagi ngobrol, disitulah Kawah Ratu berada. Dan sebelum sampai dilapak nenda, kaki aku sempat kesandung karena jalanannya yang bolong-bolong.

Yang lucu dari Pulosari, kami itu nenda dengan jarak yang dekat banget dari kawah. Bahkan ada yang di sisi kawah, asalkan nggak dekat lubang yang ngeluarin asap aja.

Setelah mendirikan tenda, kami semua makan dan bersiap untuk molor. Kalau aku sih sukanya posisi kepala ada di pintu tenda dan dikeluarin sedikit, jadi biar anginnya semilir gitu, ditambah kalau lihat atas ada banyak bintang. Romantis lah pokoknya.

Satu lagi kepalsuan Egi.

“Ah, di kawah geh nggak dingin, nggak usah bawa SB.”

“Kok nggak dingin?”

“Iyalah, kan kita tidur di kawah.”

Waktu itu kami cuma manggut-manggut dan beneran nggak bawa SB. Begitu udah masuk tenda dan bersiap molor. Bbbbrrrrrrr, dingin coy! Anginnya nusuk-nusuk, rasanya ini jaket Consina tebel nggak bisa menghalau angin. Ditambah sepanjang malam bunyi suara batuk.

Paginya…

“La, banguunnn! Ayok kita ke kawah!” teriakku begitu langit udah terang. Emang si dini mah bawel kalau di gunung. Bawaannya mau teriakin semua orang biar bangun.

Slogan: POKOKNYA KALAU AKU UDAH BANGUN, SEMUA ORANG JUGA HARUS BANGUN!

“Bentar kak.”

Dan sebagai wanita tulen, kami berdua langsung nyamperin kawah yang cuma beberapa langkah dari tenda sambil foto-foto. Eh bertiga deng sama si Wahyu.

IMG-20150223-WA0040.jpg

Anak gadis bukannya masak malah foto-foto! Ya gimana dong, kalau di gunung masakan cowok emang paling enak sih ya, bhahaha.

Setelah sarapan (lupa sarapan apa), kami bersiap untuk summit. Katanya, summit ke puncak cuma butuh waktu paling lama 1 jam, apalagi kalau lewat jalur vertikal kayak yang Egi ajak ini. Dan nggak perlu pakai jaket karena diatas itu udaranya panas.

Pertama, kami melewati rimbunan pohon sebelum akhirnya sampai di sebuah tanjakan yang agak lebar.

IMG-20150223-WA0145.jpg

Tanjakan pertama ini belum terlalu mencurigakan sih, tanjakannya juga agak datar. Tapi lama-lama tambah engap. Tanjakannya nggak santai! Mana banyak batu yang bikin kesandung. Aku jalan dengan ditarik Egi, Sheila ditarik Wahyu.

IMG-20150223-WA0158.jpg

Cuma Galung yang slow dan nggak engap sama sekali. Dia juga yang rajin fotoin kami disepanjang jalur.

Tambah naik, jalurnya makin parah!

Makin sempit!

Makin terjal!

Undakannya makin tinggi!

Untuk kaum-kaum berkaki (NGGAK) jenjang kayak aku dan Sheila, jalur gini tuh bikin Istighfar. Bikin pengen nangis kejer, tapi malu kan kalo udah gede masih cengeng.

Jalur udah makin ruwet. Kebetulan aku jalan paling depan karena pas dibelakang tadi muka aku berkali-kali kesabet pohon begitu yang didepan aku lewat.

Saat lagi nunduk merhatiin tanjakan mana yang harus aku pilih, tiba-tiba ada satu suara dari depan. Kelihatannya sih si Bapak itu mau turun lewat jalur ini. Nggak kebayang. Naiknya aja gemeter, apalagi turun coba. Bapak luar biasa!

“Kenapa nggak lewat jalur punggungan neng?” tanya si Bapak.

Aku berhenti sebentar dan tersenyum ke Bapak itu. “Nggak tau Pak, disuruh sama temen saya lewat sini.”

“Wah… pada dikerjain pacarnya ya neng. Lewat punggungan teh jalurnya lebih enak daripada sini,” kata Bapak dengan suara kencang.

Refleks, kami semua nengok ke arah Egi. Dan si Egi cuma cengengesan, minta dijitak. Kena lagi aja kita semua sama tipuannya Egi!

Setelah pamitan sama Bapak, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa kali juga kami berpapasan sama anak kecil cowok yang lagi turun dan hanya menggunakan sandal… swallow? Sakti ya kaki orang-orang disini.

Sekali lagi, KALIAN LUAR BIASA!!!

“Akh, maaf maaf nggak sengaja!” aku berteriak kencang ketika nggak sengaja menginjak bebatuan rapuh dan membuat bebatuan itu runtuh hingga mengenai yang lain.

“Pelan-pelan aja jalannya.”

“Iya.”

Ini mau jalan pelan juga susah. Asal kalian tau ya, ini tanjakannya minimal setinggi dengkul aku, udah gitu lebarnya cuma semiringan telapak kaki, dan kudu merambat biar nggak jatoh. Berpikir keras gimana caranya ngelewatin tanjakan, dan sesekali dibantu Galung, akhirnya begitu udah sampai di jalur yang agak luas aku berhenti.

“Liat deh, mirip kayak Jemplang ya.” Galung menunjuk pemandangan dibelakang, dan ternyata emang mirip banget sama Jemplang. Cantik abis!

IMG-20150226-WA0001.jpg

Sekilas tentang Jemplang. Jemplang adalah nama tempat yang dilewati mobil Jeep ketika mau ke Gunung Semeru, semacam percabangan antara Bromo dan Semeru gitu. Biasanya sih Pak Sopir Jeep akan menghentikan mobilnya ketika lewat sini biar para pendaki bisa foto-foto. Sungguh, Bapak sangat pengertian.

“Sana lu naik duluan, tinggal satu tanjakkan lagi juga puncak. Gue mau fotoin yang lain dulu,” suruh Galung.

Jder!

Nggak berani protes, aku cuma diam dibawah tanjakan terakhir sambil mikir lagi, ini tinggi amat yak, gimana cara lewatinnya?

Beruntung, ada yang kena sama ‘tatapan melas’ aku. “Mau dibantuin nggak teh?”

“Mau, makasih ya bang.” Aku mengangguk mantap pada abang-abang yang nggak dikenal itu.

Dan akhirnya aku sampai pertama di puncak, yuhuuu.

Pas sampai puncak mah, ternyata biasa aja. Sempit karena banyak pohon, dan ramai banget asli. Perasaan tadi pas di jalur cuma kami aja yang naik, sampai atas ramai. Bahkan pengen banget bilang… “Oh gini doang, turun yuk!

IMG-20150222-WA0030.jpg

Sempat juga si love bird jadi artis di gunung karena dipinjem sama orang-orang buat teman foto.

IMG-20150222-WA0070.jpg

Setelah puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan untuk turun dan lewat jalur punggungan. Awalnya sih mungkin agak datar. Jalurnya juga adem karena banyak pohon. Tapi setelah beberapa menit… sama aja terjalnya!

Kalau naik didominasi sama bebatuan, pas turun didominasi sama akar pohon. Itu akar segede-gede apaan tau. Turunannya juga tinggi banget, bahkan lebih tinggi dari yang tadi. Tapi kan kalau turun masih bisa loncat. Loncat terus, sampai kaki kesandung akar dan lecet.

IMG-20150222-WA0075

Ternyata naik lewat jalur vertikal dan turun lewat punggungan adalah pilihan yang tepat. Tipuan Egi ada kalanya dibuat demi kebaikan bersama #tsah

IMG-20150223-WA0131.jpg

Sesampainya di tenda, kami berberes perlengkapan. Makan siang niatnya sih mau dibawah aja, mungkin pas di Curug atau di basecamp.

Karena perjalanan pulang selalu lebih cepat, kami udah sampai di Curug dan main air serta cuci muka dari curahan airnya langsung. Segerrr banget! Setelah puas main air, mie goreng udah tersaji.

Setelah agak kenyang kami melanjutkan perjalanan lagi menuju basecamp.

Anak-anak warga sini itu agak menyeramkan deh. Suka nyegat kemudian minta uang atau minta makanan kepada yang lewat, sepanjang jalan dari Curug sampai sebelum basecamp. Jangan gitu ya dek. Jadilah anak baik biar kamu gedenya jadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Masih mendingan adek penjual buah dan minum yang ada di jalur punggungan. Seenggaknya mereka berusaha (dan bikin terharu), bukannya malak orang yang lewat.

Sampai basecamp, kami istirahat dan mandi serta beberes barang bawaan.

***

Masalah muncul ketika sadar kalau nggak ada angkutan umum dari basecamp. Kan dari sana nyewa angkot, jadi wajarlah kalau nggak ada angkutan umum yang lewat.

Akhirnya jalan kaki dong kamiii.

IMG-20150223-WA0052.jpg

Sepanjang jalan kenangan, matahari masih kinclong. Begitu sampai didekat sawah, pemandangannya cantik banget! Dua gunung, ditengahnya jalan dan disisinya sawah hijau. Mirip kayak gambar anak SD!

Sampai di ujung jalan besar dan nggak sanggup lagi jalan kaki, kami memutuskan untuk nebeng mobil pick-up yang lewat. Itupun setelah duduk dipinggir jalan beberapa lama baru dapat tebengan.

IMG-20150222-WA0040.jpg

Turun dari mobil pick up, kami berhenti lagi dipinggir jalan dan belum dapat tebengan lagi. Menyerah, kami memilih untuk makan nasi padang dulu. Kelar makan nasi padang barulah kami duduk lagi dipinggir jalan.

Kali ini lanjut nebeng truk besar (yang karena tinggi cara naiknya harus dipanjat juga). Sepanjang perjalanan itu rasanya kami keren lah, anak backpacker banget. Bawa keril, nebeng truk, berasa tambah cakep pokoknya!

IMG-20150223-WA0034.jpg

Sore itu menuju senja, dimana langit mulai memerah, kami berlima berpisah dengan Egi dan temannya begitu sampai dipersimpangan menuju pangkalan bus. Udah jalan kaki, eh ternyata itu truk tebengan ngelewatin pangkalan bus, hadehhh.

Didalam bus, sepanjang jalanan menuju Jakarta, kami semua terlelap. Aku dan Sheila memutuskan untuk turun di pintu tol Kebon Jeruk, untuk minta jemput Baba. Tapi semuanya malah ikutan turun dan mengantar kami berdua sampai didepan kantor yang kalau dari pintu tol harus jalan kaki dulu sekitar 7 menit.

Setelah mengantar kami berdua sampai depan kantor, para pria-pria itu naik taksi untuk pulang ke rumah Rekta.

Jabat tangan dan kalimat terima kasih untuk petualangan yang kalau dipikir-pikir pas banget sama moment valentine (yaelah, valentine-valentine amat).

Kabar baiknya, sehari setelah ke Pulosari batuk aku sembuh. Yeee!!!!!

Batuk sembuh tapi kaki jadi sengklek semua 😥

Advertisements

9 thoughts on “Pendakian Gunung Pulosari

  1. Sebenarnya nggak nyangka ada anak jakarta yg suka naik gunug wkwkw…. Beneran. Kan anak jakarta itu terlesan nggak mau susah. Ini beda banget dengan anak lainnya. Semangat :).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s