Cerita Sore

Tragedi Kemarin

20160807_153501 (1).jpg

Minggu, 09 April 2017

Udah mandi?

Belom

Kalimat pertanyaan dan jawaban via whatsapp itu adalah awal dari berantem di hari Minggu. Emang sih aku salah, eh nggak salah-salah amat deng. Udah tau aku orangnya kalau mau pergi persiapannya lama, tapi Kang Garem nggak ngasih patokannya jam berapa. Cuma bilang sebangunnya dia aja. Lah aku mana tau bangun jam berapa -_____-

Jadilah dari jam 11.00 sampai jam 12.30 aku diteror sama Kang Garem, ditanya udah order gojek belum? Udah sampai mana? Dan pertanyaan lainnya yang berujung aku dimarahin karena ngaret.

Sebagai perempuan yang luar biasa baik hati, aku emang nggak terlalu maksain biar jemput dirumah. Soalnya tiap main pasti ke daerah Jakarta Selatan kayak Pasar Minggu, Kebagusan, Jagakarsa. Sebagai warga Ciledug yang tau diri, aku selalu minta jemput di Halte Singgalang, dekat Pakubuwono. Itu adalah titik tengah antara jalur Ciledug (rumah emak aku) dan Kemang (rumah emaknya Kang Garem). Lagian kalau minta dijemput dirumah itu ngabis-ngabisin waktu, Ciledug kan terkenal macet.

Sekitar pukul 13.30, aku sampai di Halte Singgalang dan disambut dengan diemnya Kang Garem. Terusssss diem sampai di Warung Anglo Jagakarsa. Rencananya sih kami mau lihat Kopi Kelahi yang salah satu jurinya adalah barista favorit kami, yaitu Ego Prayogo (pemilik Kedai Kopi Guyon).

Begitu sampai (sekitar pukul 15.00), nggak lama hujan agak deras tapi sebentar. Dan sesi Kopi Kelahi udah sampai semi final karena acara sebenarnya dimulai sejak pukul 10.00 tadi. Tambah manyun lah itu si Kang Garem. Tapi tetep sih aku dikasih tempat dipojokan pas lihat aku berdiri dan nggak mau duduk dipinggir.

Aku emang nggak ngerti bidang kopi-kopian begini, tapi seru aja lihat mereka pada lomba. Dari peserta, juri dan penontonnya seruuu. Ada aja banyolannya yang bikin ketawa, padahal mah tampangnya serem-serem 😀

Aku juga kerjaannya cuma minum es kopi sambil mainan Subway Surfers dan dengerin orang pada ngobrol, kebetulan disitu nggak ada yang aku kenal selain Kang Garem dan Ego. Jadi ya ikutan ketawa aja pas ada yang ngelucu.

Kelar acara Kopi Kelahi, kami pindah tempat tongkrongan ke Warunk Cuko. Sama sih masih di daerah Jagakarsa juga, cuma perjalanan kesana terasa agak lama karena macet. Jakarta oh Jakarta~

Warunk Cuko terletak disebelah kanan jalan, sepertinya tadi siang juga dilewatin sewaktu mau ke Warung Anglo.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (4).jpeg

Dari luar sih kelihatan lumayan. Sayang bangku dan meja luar yang didekat pohon udah nggak terawat dan usang, jadinya kesan dari luar nggak terlalu wah.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (3).jpeg

Kebetulan ada tulisan promo diskon hari Minggu, untuk nama-nama tersebut diatas. Lumayan banget ini mah, mengingat kalau harga menu disini lebih mahal diantara beberapa tempat yang pernah kami datangi.

Saat masuk, suasananya cukup menyenangkan. Sepi, lampunya redup, sayang karena didominasi warna hitam, jadi banyak semacam butiran-butiran (entah debu entah apa) yang melayang dibawah sorotan lampu.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (5).jpeg

Menunya cukup beragam. Tapi sesuai nama tempatnya, disini yang unggulan adalah Pempek. Maka dari itu kami memesan Pempek Kapal Selam, Tekwan, Single Espresso dan satu gelas es batu.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (8).jpeg

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (9).jpeg

Sampai disini, semua masih baik-baik aja. Masih normal, masih berjalan lancar. Sampai beberapa menit kemudian ketika pukul 17.10 tiba…

“Mau ke lantai atas nggak? Ada sofanya tauk,” ajak Kang Garem begitu selesai lihat ruangan di lantai atas.

“Diatas kan smoking area, males lah. Tapi kalo mau pindah ya pindah aja, aku mau sholat. Mas, mas, disini ada tempat sholat nggak?”

“Oh ada mbak, itu dari tangga ke kanan, terus lurus aja ya,” jawab Mas penjual sambil nunjuk ke arah tangga.

Akhirnya Kang Garem merapikan barang bawaan di sofa yang ada di lantai bawah karena mas-mas yang barusan duduk disitu udah pergi (yang ternyata salah satu dari Mas penjual).

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (6).jpeg

Lalu aku ke toilet yang ada disebelah ruangan sholat. Ngambil air wudhu, kemudian memakai mukenah dan berdiri di sajadah yang di gelar satu itu.

Aku udah membaca niat dalam hati ketika tiba-tiba ada suara berisik. Oh, mungkin cuma tikus. Ya kalau tikus di plafon mah nggak apa-apa, wajar!

Krusuk, krusuk, krusuk… sreekkkkk

Terserah kalau mau bilang aku sholatnya nggak fokus. Karena didepan mataku sekarang ada makhluk agak tinggi, berbulu, warna hitam, dan kami saling menatap.

Yak, dihadapan aku ada GUGUK!

GUGUK YANG RADA IMUT BERWARNA ITEM.

TAPI BIARPUN RADA IMUT TETEP AJA ITU GUGUK.

Aku yang baru baca sampai niat sholat langsung berhenti dan mundur perlahan.

Aku mundur, guguknya maju. Dan dia masih diem, maju, diem, maju, sambil menatap.

“Masssss… Massssss…” aku berteriak sok tegar sambil mundur perlahan. Itu mukenah juga masih nemplok.

Nggak ada yang muncul.

“MAS!!! MAS!!!” Aku makin mundur, guguk makin maju.

“Apaan sih?” Kang Garem muncul disebelahku.

“Ituuuuu…” Aku menunjuk si tersangka yang semakin maju, tentunya sambil pegang tangan kirinya Kang Garem, yang artinya bikin wudhu aku batal.

Percuma juga sih sebenernya, secara tingkat ketakutan Kang Garem sama guguk sama aja kayak aku. Dulu pas di Cisadon aku tenang-tenang aja jalan beriringan sama guguk. Tapi kali ini rasanya takut banget! Apa karena dia muncul tiba-tiba dan penuh kejutan? Ah, entahlah.

Karena takutnya udah diubun-ubun, refleks aku lari dan naik keatas sofa yang dekat dengan tembok. Udah pasti adegan aku lari bikin si guguk jadi ikutan lari ngejar aku. Masih dengan kostum mukenah, aku nangkring diatas sofa.

“Kok bisa keluar sih? Pasti pintunya lupa ke kunci nih,” kata Mas 1 kepada Mas 2. Dan mereka malah ngakak dong, baru sesudah itu minggirin guguk sampai guguknya naik sendiri ke lantai atas. Katanya sih ada jalan tembusan buat ke ruangan tadi.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (10).jpeg

Aku mulai membuka mukenah aku. Ada aja kejadian model gini. Mana jam udah semakin sore, kan keburu bedug Maghrib.

“Mbak tadi udah sholat?” tanya Mas 2, kepooo.

“Belom lah,” jawabku singkat, masih manyun alami.

Setelah mengambil air wudhu aku langsung buru-buru sholat, takut ada kejadian aneh-aneh lagi. Selesai sholat, pesanan udah jadi. Kami makan sambil berusaha nggak ngakak kalau ingat kejadian barusan.

Rasa Pempeknya enak. Kuah Tekwan juga segar. Lumayan lah rasa makanannya. Kalau rasa kopinya aku nggak tau, karena pas kesana aku dibawain es kopi buatan Ego sih.

WhatsApp Image 2017-04-10 at 2.27.30 PM (1).jpeg

Hingga kami selesai makan pun, suasana disini masih sepi. Mungkin karena pengunjung memilih dilantai atas, atau tempat ini ramainya nanti pas semakin malam. Entahlah~

***

Hikmah dari kejadian kemarin…

Sholatlah tepat waktu!

Kenapa? Ya karena sholat tepat waktu itu mengajarkan kita untuk nggak malas dan meminimalisir kalau ada kejadian aneh. Kayak aku nih pas pergi, maen asal mengulur waktu aja. Ternyata ada kejadian begitu. Kan waktu sholatnya jadi makin mundur gara-gara aku juga.

Sholatlah segera jika kamu melewati Mushollah atau Masjid di pinggir jalan.

Kenapa? Ya karena tempat ibadah adalah yang paling lengkap. Dari segi fasilitas dan kebersihan. Kayak kemarin, untung aja aku bawa mukenah, karena di ruangan itu aku nggak lihat ada mukenah sama sekali. Dan untuk memperkecil kemungkinan kita bertemu dengan guguk atau semacamnya juga. Karena biasanya tempat ibadah ada yang jaga, jadi kamu bisa khusyuk sholatnya. Bukannya malah deg-degan sepanjang proses sholat.

Aku nggak menyalahkan pihak warungnya sih. Karena biar gimana juga, itu guguk sebenarnya punya ruangan khusus. Kebetulan aja itu pintu penghubung nggak dikunci, jadinya dia bisa kemana-mana deh tuh.

Dan saran aku untuk kejadian ini, semoga pihak manajemen mau memperhatikan atau memeriksa kembali kunci dari ruang penyimpanan binatang peliharaan. Dengan begitu para pengunjung bisa tenang, dan petugas tempat makan itu pun nggak perlu ngejar guguk.

Semoga bermanfaat, selamat Senin sore semuanya 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Tragedi Kemarin

  1. Kalau ada gukguk serem biasanya aku jongkok sambil mbaca Yaa Hafizh berulang.. (pernah baca di buku kalau kita takut sama hewan apapun, baca Asmaul Husna yang itu). Insya Allah lebih tenang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s