#Cerpen: Pilihan

20161029_101749

Tentang sebuah hubungan…

Pada suatu hari, kamu akan berada dititik jenuh

Antara bertahan atau meninggalkan

Antara berusaha atau menyerah

Maka, ketika hal itu terjadi…

Cobalah untuk diam sejenak, berpikir

Lalu putarlah semua kenangan kalian

Setelah itu, barulah kamu membuat keputusan

***

Selasa, 15.20 WIB

Dea, kita ta’arufan aja yuk

Mataku agak memanas ketika membaca whatsapp sore itu. Bukan, bukan, ini bukan karena terharu. Ya gimana mau terharu juga, kan pesannya dari Kak Sinta, seniorku di sebuah komunitas. Tau dong kalau nama Sinta itu perempuan, jadi nggak mungkin ngajakin aku ta’arufan.

Maksudnya dia ngomong begitu adalah, dia mau ngajakin aku untuk melakukan proses ta’aruf entah dengan pria dari mana.

Apa? Kak Sinta mau ngajakin aku ta’arufan. Sorry ya kak, emang aku perempuan apakah -_______-

Aku hanya meyakinkan Kak Sinta tentang ajakannya sore itu. Tau nggak apa yang bikin Kak Sinta tiba-tiba ngajakin aku ta’aruf? Dikarenakan status teman Kak Sinta di fb yang bernama Isti. Nggak ada angin atau badai, tiba-tiba Isti bilang Insya Alloh tahun ini akan ganti status. Sebagai orang yang kepo, aku tanya lah sama Kak Sinta tentang Isti. Yup, Isti emang mau nikah karena proses ta’aruf. Jadi emang kilat banget kesannya.

Entah kenapa pas lihat fb itu, pikiran aku melayang ke Kak Sinta. Benar aja kan, baru dipancing sedikit Kak Sinta udah galau nggak karuan. Dan dia langsung ngajakin aku untuk mengikuti jejak Isti, mencari pasangan dengan proses ta’aruf.

Perempuan itu butuh kepastian. Semua pasti berpikir sama. Kalau ada yang bisa ngasih kepastian dalam hitungan bulan, kenapa harus menunggu bertahun-tahun?

Nggak ada yang salah dalam hal itu, karena dalam Islam kan emang nggak ada istilah pacaran. Tapi masalahnya adalah…

Kak Sinta tau kalau aku sedang menjalin hubungan dengan Faiz.

Dan aku tau kalau Kak Sinta sedang menjalin hubungan dengan Mas Adi.

Nah kan, masalahnya rumit!

 ***

Rabu, 20.00 WIB

“Aku bingung deh sama Kak Sinta,” kataku sambil nyeruput minuman Yakult yang divariasi sama Taro (yang rasanya lebih dominan ke Taro, curiga kalau Yakult-nya cuma dikasih sebotol).

Berhubung Faiz lagi males nemenin barista favorit jualan, jadilah dia ngajakin main di tempat nongkrong yang letaknya nggak terlalu jauh dari rumah aku.

“Kenapa lagi?” tanya Faiz dengan muka nyolot minta dipelintir.

Kemarin, sewaktu Kak Sinta galau aku emang udah cerita ke Faiz. Ya gimana dong, dulu aku kenal Faiz juga dari Kak Sinta, jadi kelangsungan hubungan Kak Sinta dan Mas Adi juga tanggung jawab kita.

“Ya ituuu, kayaknya dia masih galau gara-gara Isti deh.”

Faiz menegapkan duduknya, yang aku tau banget tandanya dia mau nanya hal yang macam-macam ke aku. Ahelah, kebaca!

“Menurut kamu ta’arufan itu apa sih? Oke… Mmenurut kamu, Sinta, ta’aruf itu apa?”

Tuh kan bener, bakalan ditanya!

“Heumn…” aku mikir sebentar. “Ya, ta’aruf itu proses pengenalan ke seseorang yang niatnya untuk dibawa ke arah yang serius. Mereka saling bikin proposal, kalau setuju ya nikah. Biasanya prosesnya cepet, 3 bulan misalnya.”

“Terus kamu udah pernah lihat contoh orang ta’aruf?”

“Heumn, Isti?”

“Selain itu, siapa kek.”

“Kayaknya dulu Mas aku juga gitu deh. Tapi dia dikenalinnya sama guru ngaji. Soalnya Mas dulu mau dinas ke luar daerah, nggak lama kenal langsung nikah deh.” Aku lagi nyeritain kakak sepupu alias anaknya Pakde yang pertama.

Faiz manggut-manggut. “Itu ta’aruf apa dijodohin hayo?”

“Apa bedanya sih, sama-sama dikenalin dan prosesnya cepet juga!” kataku protes. Mulai malas bahas hal yang berat.

“Jujur aku nggak setuju sama ta’arufan. Kalau aku mau, dari dulu mah guru udah mau ngenalin. Entah dari muridnya yang dimana, tinggal comot. Tapi murid-muridnya guru pada bangor sih, wkwkwk.”

“Aku juga, nggak kepengen ta’arufan.”

Pembelaan itu nggak lain dan nggak bukan karena aku orangnya takutan sama laki. Jangankan sama yang baru kenalan gitu, sama yang udah kenal lama aja aku susah akrab. Gimana mau ta’arufan coba? Pokoknya orang yang mau kenal sama aku (baik laki atau perempuan) harus ekstra keras ngedeketinnya.

“Dua orang itu, bisa saling kenal ya kalau komunikasi langsung. Kalau cuma lewat hp mah sama aja boong. Nggak ada yang ngejamin pas lagi whatsapp atau bbm, dia lagi sendiri kan? Bisa aja dia lagi sama orang lain. Atau bisa aja dia cuma baik didepan, dibelakang kita kan nggak ada yang tau. Ya, syukur-syukur orangnya beneran baik.”

“Tapi kalau dikenalin sama guru, berarti lebih aman dong harusnya?”

“Harusnya iya. Karena guru itu tau kapasitas muridnya. Bisa aja si cowok ilmu agamanya banyak tapi duitnya pas-pasan, dijodohinnya sama cewek yang ilmu agamanya dikit tapi duitnya banyak. Atau sebaliknya. Yang jelas guru itu kalau ngejodohin ya dilihat lagi orangnya kayak apa. Tapi aku ogah ah begitu.”

Iya juga sih, apa yang dibilang sama Faiz.

Obrolan rada berat itu ditutup dengan perut aku yang mules karena minum air dingin malam-malam, dan sedikit berantem gara-gara satu info.

***

Kamis, 11.47 WIB

Nggak ada angin dan hujan, tiba-tiba Kak Sinta whatsapp aku. Dia bilang kemarin malam dia berantem sama Mas Adi karena hal sepele, lalu Kak Sinta minta putus tapi nggak diladenin sama Mas Adi.

Nah kan, gara-gara satu kata (ta’aruf) bisa ngerubah pilihan seseorang. Dari yang tadinya udah serius ngejalanin hubungan, ngumpulin duit segala macam, tapi karena pertengkaran kecil dengan gampangnya ngomong putus?

Aku jelas aja langsung ngadu ke Faiz. Seperti biasa, Faiz langsung komen panjang, sepanjang jalan kenangan.

Mikirnya gk panjang amat sh. Knp gk lgsg bilang nikah aja ya malah minta putus. Bulan depan kek kpn kek, kua murah kali.. Itu tuh, hal yg bikin cowo maju mundur nikahin anak orang 😒. Hasilnya perempuan nyari org yg siap segalanya buat nikahin..  Tp lupa satu hal yg paling penting.. Hal tentang siapa dia..

Kalo menurut aku, Kak Sinta bener nggak mikir panjang. Padahal selain emaknya Mas Adi, dia yang paling tau seberapa usaha sama seriusnya Mas Adi buat nikahin dia. Biasa aja dong nggak usah sinis. Emangnya sambil nyindir aku 😒

Aku sayang kamu.. Muah 😘

Emang lagu lama tuh si Faiz. Giliran aku protes, dia malah ngeles. Dasar pria palsu!

Balada Kak Sinta dan Mas Adi masih berlangsung sampai malam. Aku udah deg-degan aja kalau hubungan mereka kenapa-kenapa. Soalnya mereka cocok sih. Yang perempuan galak, yang laki kocak. Kan saling melengkapi.

Akhirnya aku cuma bisa ngasih semangat ke Kak Sinta, karena dia bilang nanti malam balik kantor mau nyamperin Mas Adi ke rumahnya. Sambil nonton tv, aku mantau mereka via whatsapp.

Alhamdulillah ga ada apa2. Barusan aku tlp dia ada dikantorku dan aku udah di buaran dekat rumahnya 😂. Kan ngeselin

Ejiyehhhhh, yang berantem. Udah kayak abege cabe2an lah kalian. Sukur deh kalo nggak ada apa2. Baekan dong, yailehhhhhh kayak abege hufftttttt.

Berasa nonton sinetron abege. Padahal mereka berdua mah udah termasuk senior. Faiz yang aku ceritain info terbaru kak Sinta cuma ngirim pesan… Nasehatin tuh ank muda bilang jgn kebawa emosi  makanya

Berantemnya nggak seru banget, masa sebentar doang.

Tapi bersyukur mereka masih memilih untuk bertahan. Lagian masa iya cuma karena kepengen ta’aruf lalu menyia-nyiakan hubungan yang udah ada.

***

Bertahan atau meninggalkan.

Setelah pertengkaran itu, aku yakin kalau Kak Sinta pasti amat sangat menyesal. Makanya dia berusaha untuk menghubungi Mas Adi. Dan sebagai laki, Mas Adi pasti butuh waktu untuk menyendiri selama beberapa waktu, mungkin untuk berpikir itu perempuan enaknya dijitak atau dibom.

Aku pun sama. Pernah ada diposisi mereka. Betapa aku nggak yakin sama Faiz karena satu masalah. Emang si Faiz noh sukanya cari perkara! Yang jelas kalau masalah ini sampai keulang, nggak ada kata ‘perbaiki’ lagi, langsung aku cut!

Dulu… Setelah bertengkar semingguan, aku udah mulai pasrah hubungan ini mau diapain. Akhirnya aku coba putar ulang lagi dari awal ketemu sampai bertengkar kayak gini. Gimana dulu baiknya, ngeselinnya, jahatnya.

Ternyata, bagian baiknya masih lebih banyak dibanding ngeselinnya.

Dan pertengkaran waktu itu cuma menghasilkan skors berupa 2 minggu nggak ketemu, potekan di jari, gigitan di tangan, tamparan yang nggak sengaja, serta lemparan hp yang mengenai jidatnya Faiz (disaat orang itu lagi molor).

Aku memilih untuk bertahan. Biarpun kadang kalau ingat tragedi itu, sebelnya masih terasa. Dan kepercayaan aku kadang juga ilang timbul. Susah yang namanya nyembuhin luka hati si Dea. Maklum… orangnya rada dendaman.

Lagipula, saat itu diantara kita berdua nggak ada yang mau disalahin, jadi nggak ada yang ngucap kata putus. Udah berantem kayak apa juga masih sama-sama ngotot nggak mau jadi ‘orang yang mutusin’. Ya udah deh, hubungan ini terselamatkan cuma karena hal itu.

Perempuan, bebas memilih.

Mau menjalani hubungan yang kilat semacam ta’arufan kah. Atau memilih untuk menjali satu hubungan selama beberapa waktu. Karena jodoh sampai kapanpun masih jadi rahasia Tuhan.

Banyak orang berlomba untuk menikah dalam waktu yang cepat. Tapi aku justru iri pada Helen (teman kuliahku). Dia udah kenal lama sama calonnya yang sekarang. Mereka pernah menjalin hubungan, lalu gagal. Sekarang mereka kembali lagi dan menuju ke arah yang serius. Dilihat dari perkenalan yang lama, tentu Helen udah akrab dengan keluarga lakinya, dan dia nggak butuh kerja keras untuk akrab lagi kayak yang harus aku usahakan. Karena ketika menikah dengan seseorang, tentu harus dekat dengan keluarganya juga. Kenyataan itu bikin aku lebih sedih ketimbang proses ta’aruf yang sedang banyak diperbicangkan.

Maka dari itu aku memilih untuk menjalin hubungan, atau mengenal seseorang secara langsung, perlahan dan dalam beberapa waktu. Selama menjalin hubungan itu, cobalah untuk belajar agar menjadi manusia yang lebih baik.

Pada akhirnya, manusia memang harus memilih.

***

Catatan:

Yuhuuu, akhirnya bisa bikin cerpen lagi. Setelah ada banyak ide tapi kepala dan tangan ini males untuk diajak ngetik.

Harapannya selalu sama… Semoga yang baca bisa terhibur dan nggak mual ya, karena pasti akan ada bumbu-bumbu curhat didalam setiap tulisan.

Dea = Imajinasi + fiksi + kelakuan dan kejadian yang kadang menimpa dini

Advertisements

9 thoughts on “#Cerpen: Pilihan

      1. Hahaha.. kalau bisa ada konflik yang tajam, sehingga pembaca tahu inti permasalahan tokoh utama apa, dan bagaimana konflik itu berakhir.

        Jadi pengen ta’aruf hahaha

        Like

  1. Sekarang ini.. taarufan jadi modus pacaran terselubung 😂

    Padahal seharusnya dalam taarufan kita harus meminta izin kepada orangtua si gadis, trus kalo pergi jalan2 juga tidak boleh berdua, harus ada mahram yang menemani.. tapi namanya juga usaha.. modus taarufan pun dilakoni..

    Kenapa aku jadi ceramah gini.. 😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s