Cerita Sore · Giveaway Mengeja Bahagia

Semoga Bahagia Selalu

20160807_112003

Bahagia ya…

Katanya, definisi atau tolak ukur bahagia seseorang itu beda-beda. Ada yang karena ini, karena itu. Tapi intinya aku rasa sih sama aja. Bahagia adalah disaat seseorang merasa senang, lega, dan bersyukur terhadap segala hal yang terjadi di hidupnya.

Kalau bicara tentang hidup aku selama ini, aku merasa bahagia kok. Banget! Keluarga, teman, pekerjaan. Emang sih bahagia itu datangnya nggak tentu, kalau bahagia lagi susah datangnya dan hati lagi sedih, biasanya aku ngebayangin sesuatu yang bikin ketawa. Gitu aja biar hidup nggak ruwet.

Berhubung kalau dihitung dari aku lahir sampai sekarang bahagia aku banyak, jadi aku akan menuliskan beberapa hal yang membuatku bahagia. Tapi namanya juga manusia ya, bahagia bisa aja beriringan dengan kecemasan.

***

“Eh kakak, ketemu lagi.”

Awal tahun lalu, aku mengikuti acara Tamasya Kasih yang dihadiri oleh adik-adik dari Yayasan Setya Bumi Nusantara. Saat itu di kelompok aku adaΒ Dera, Dudin, Gufron, Rena, dan Sopyan yang harus didampingi. Seharian kami bersama dan rasanya itu bahagia banget, biarpun aku harus ekstra jagain Dudin yang petakilan. Beberapa bulan berlalu, saat acara buka puasa di Yayasan tersebut, aku berusaha mencari dimana sosok mereka berlima, tapi sayangnya nggak ketemu. Disaat acara selesai, aku menoleh dan mendapati Dera yang sedang menatapku dari ujung ruangan. Lalu dia berkata, “Eh kakak, ketemu lagi”. Saat itu aku rasanya bahagiaaaaa banget. Ternyata dia masih mengingatku. Mereka ber-empat (saat itu Sopyan nggak ada) masih mau berfoto denganku. Katanya, ingatan anak kecil itu tajam kan? Bersyukur mereka masih mengingatku, biarpun selama Tamasya Kasih kemarin aku lebih mirip kayak teman mereka sih (karena tinggi badan yang nyaris sama) dibanding kakak pendamping.

Galaunya, tahun ini aku nggak bisa ikut buka puasa disana yang diadakan pada tanggal 17 Juni. Alasan pertama, karena aku masuk kerja. Alasan kedua, karena Ibu nggak ngijinin. Jonggol itu jauh, apalagi sekarang lagi banyak kasus kejahatan di malam hari. Akhirnya ada sedikit rasa sedih karena aku nggak bisa bertemu mereka. Mungkin besok aku akan merengek ke Kak Susi agar mau video call sama aku pas acaranya berlangsung. Heumn, ide bagus!

“Kayaknya Fahmi baik deh, orangnya sabar gitu.”

2 hari lalu, Ibu berkata demikian. Lebih tepatnya setelah Kang Garem alias si Fahmi pulang. Jadi malam itu Kang Garem habis ngambil botol yang dibeli dari kakak sepupu yang tinggalnya di sebelah rumah aku. Jumlah botolnya ada 185, lumayan banyak kan. Jadi dia bawa keril gitu dari rumah, dan sebagian botol dimasukkan ke dalam keril. Yang tentu aja menghabiskan waktu cukup lama. Emang sengaja dilama-lamain juga sih, biar bisa sekalian ngobrol sama Ibu. Ngomongin ini, itu, tentang dia yang lagi bikin minuman aneka rasa (makanya dia beli botol), dan sebagainya. Dan setelah Kang Garem pulang, disaat lagi nonton tv Ibu berkata, “Kayaknya Fahmi baik deh, orangnya sabar gitu”. Bahagia? Tentu. Ketika Ibu bilang bahwa orang yang lagi dekat sama aku itu baik, tentu aku ngerasa bahagia… dan lega. Selama ini kan aku jarang ngenalin cowok ke Ibu Bapak. Dan disaat ngenalin gini terus disukain, itu sebuah prestasi menurut aku. Seenggaknya Ibu dan Bapak udah menerima.

Satu tahap dilewati. Tahap berikutnya dan nggak kalah bikin deg-degan… Apakah keluarganya juga suka sama aku? Bisa nerima aku? Nah kan, pusing pala ini. Ibu bilang, yang penting selalu bersikap baik dan sopan. Oke bu, nanti abis lebaran aku praktekin ya. Semoga aja hasilnya baik. Kalaupun hasilnya gimana gimana, pasti itu adalah keputusan yang terbaik (apasih din ketikannya muter-muter).

“Alhamdulillah udah mendingan, tapi belum bisa ngomongnya.”

Pertengahan tahun lalu, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa teman sekolahku sewaktu SMA dirawat di Rumah Sakit. Sandri namanya. Dari sekolah dia ini sering ngontrol teman se-genk karena punya ‘kelebihan’. Dan karena di genk itu cuma aku yang paling kecil dan belum nikah (garuk-garuk tembok), dia rada protektif ke aku. Dapat kabar begitu, aku langsung kaget dan baru bisa jenguk beberapa minggu setelah dia keluar dari Rumah Sakit. Sandri yang biasanya ceria, kalau ngomong main asal nyeplos, dan kalau aku curhat malah ngebully, kondisinya cukup bikin hati sedih. Lumpuh separuh badan. Entah karena penyakit apa, yang jelas bagian tubuhnya yang bisa digerakkan hanya kiri aja. Itu pun setelah menjalani terapi sejak sekembalinya dari Rumah Sakit. Sewaktu ketemu itulah aku merasa bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bertemu Sandri. Biarpun aku telat banget jenguknya, tapi aku bisa menghibur dia sampai tertawa. Biarin deh di bully, yang penting Sandri bahagia. Anehnya, saat kondisi sakit seperti itu, Sandri masih ingat tentang orang yang aku ceritakan ke dia tepat sebelum dia sakit, Kang Garem. Dengan isyarat mata dan suara yang bergumam nggak jelas Sandri meminta aku untuk menunjukkan foto Kang Garem. Aku bilang cuma boleh Sandri yang lihat, dia mengangguk setuju. Tertawalah dia begitu aku menunjukkan foto. Kan kan, masih sakit juga tetep aja ngebully. Nasib! Berhubung udah beberapa bulan aku nggak jenguk, aku bikin ide untuk bukber di rumah Sandri, sekalian jengukin dia. Dan pagi tadi, teman aku shareΒ di grup tentang isi whatsapp suaminya Sandri, “Alhamdulillah udah mendingan, tapi belum bisa ngomongnya”.

Alhamdulillah, aku bahagia karena kondisi Sandri semakin membaik. Semoga keluarganya selalu diberi kesehatan, dan kondisi Sandri kembali seperti sedia kala. Betapa keteguhan hati seorang suami di uji ketika sang istri sakit. Begitupun sebaliknya (kayak ngerti aja lu din). Rasanya kekhawatiran aku dan teman-teman selama beberapa bulan ini tentang kondisi Sandri terbayar dengan berita dari suaminya Sandri. Ya salah kita juga sih kenapa jarang jenguk, maafkan ya Ndri.

***

Bahagia aku sih banyak, tapi tentu ada yang paling paling berkesan. Biarpun bagi sebagian orang mungkin kesannya sepele, tapi ini penting sih buat aku, wkwkwk. Bahagia itu nggak mesti yang wah, kadang dari hal kecil juga bisa bikin bahagia.

Sekian cerita dari aku. Semoga bahagia selalu… Untuk keluarga, teman-teman, dan juga seluruh manusia dipenjuru dunia ini. Oh iya, tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway #MengejaBahagia dari Mas Slamet Parmanto dan Mbak Rifa Roazah. Semoga tulisan kali ini ada faedahnya, aamiiin.

Aku sih udah bahagia, kalau kamu… Udah pada bahagia belum? Kalau belum sini aku bahagiain πŸ˜€

#MengejaBahagia #MaknaBahagia

Advertisements

12 thoughts on “Semoga Bahagia Selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s