Cerita Pagi

Sore Sendu

aa16158f-eeca-4761-855f-408f43e2cf41.jpg

‘Enak sih, jalanan sepiiiiii banget. Nggak ada macet, kendaraan sepi, polusi juga sedikit. Ya iyalah, orang yang lain masih pada libur. Seandainya pergi juga nanti agak siangan baru pada keluar rumah. Nggak kayak lu sama temen-temen lu din, yang harus berangkat kerja maksimal jam 6 pagi.’

***

Selasa, 27 Juni 2017

Begitulah kira-kira isi hati aku. Miris ya. Kalau di kantor mana-mana sih liburnya sesuai Pemerintah, tapi spesial di kantor aku yang bergerak dibidang laboratorium kesehatan, nggak pengaruh. Kalau mau libur ya ambil cuti, kalau nggak cuti ya harus terima kalau liburnya disaat tanggal merah aja, yaitu tanggal 25-26 Juni 2017.

Berhubung aku nggak ikut mudik, jadi aku nggak ambil cuti. Yang artinya aku harus masuk mulai tanggal 27 Juni.

Dan disinilah aku berada, diatas gojek yang membawaku menuju kantor di daerah Kebon Jeruk. Mungkin karena masih edisi lebaran kali ya, jadi tarifnya murah meskipun aku berangkat diatas jam 6 pagi. Biasanya kan tarif naik kalau udah jam segitu. Entah kenapa aku mager banget berangkat ke kantor, jadi jam 6 lewat baru berangkat. Hawa liburannya masih merasuk jiwa sih.

Sampai di kantor juga semua orang masih pada mager (kecuali bagian Operasional karena mereka harus ketemu langsung sama customer).

Jam berlalu begitu aja sampai jam setengah 3 sore. Aku memastikan lagi ke Kang Garem apa dia mau jemput, ternyata nggak jadi. Dia bilang aku nebeng aja biar cepat sampai rumah. Selesai dia ngetik gitu, udah deres dong di daerah Kemang (rumahnya Kang Garem). Terus malamnya dia ikut Guru ke daerah Cibodas. Mungkin udah jalannya begitu.

Dan seperti biasa, aku nebeng sampai di putaran dekat pintu tol untuk menunggu angkot C01. Sekitar lima menit kemudian, datanglah itu angkot. Aku naik dan kebetulan angkotnya masih sepi. Tau kan kenapa? Karena orang-orang emang jarang yang pergi naik angkot kalau lebaran.

Di bagian depan ada pak supir, sebelah pak supir ada perempuan dan anaknya yang lagi tidur (kemungkinan besar si wanita adalah istrinya, dan anak kecil itu anaknya). Sedangkan yang perempuan terlihat duduk santai sambil merokok. Lalu di belakang ada aku, anak kecil yang sepertinya masih SD (duduk sejajar aku tapi di ujung dekat kaca), dan seorang bapak (yang belum terlalu tua) yang naik sesudah aku (posisi duduknya di seberang anak kecil) sambil membawa karung yang diisi setengah dan dibungkus rapat.

Mata aku tertarik pada anak kecil itu, yang lagi duduk santai dan sesekali bergumam sendiri. Sesekali juga dia merapikan tissue dagangannya. Iya… anak kecil itu penjual tissue pack-an yang biasa dijual di pinggir jalan atau angkutan umum (biasanya sih yang sejenis metro mini atau kopaja).

Aku langsung deg-deg-an dan merasa… Malu!

Anak kecil itu, kelihatan asik dan menyenderkan tangannya pada kaca angkot yang sedikit terbuka, sesekali dia minum teh pucuk yang dia taruh di tas kecilnya. Kemudian bersiul-siul lagi dan kadang ngomenin orang di jalan, bergumam sendiri.

Jujur aku merasa malu banget. Ini masih H+2 lebaran lho, tapi dia udah rajin banget dagang tissue. Biarpun nggak tau juga anak itu agamanya apa, tapi yang jelas wajah dia yang santai itu bikin aku malu setengah mati.

Aku kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Duduk manis, ruangan ber-ac, kerjaan juga berkaitan dengan kepegawaian aja (biarpun kadang diminta bantuin operasional). Tapi… Aku masih banyak ngeluh. Yang ngeluh ngantuk, ngeluh mager karena kantor-kantor lain masih pada libur, inilah, itulah. Ya Alloh… Betapa aku sebagai manusia terlalu banyak mengeluh, maaf ๐Ÿ˜ฅ

Sedangkan anak kecil itu. Entah alasannya apa, yang jelas anak kecil ikut mencari uang aja udah mulia banget. Ini di H+2 lebaran. Emang sih dagang gitu nggak terikat sama waktu, tapi seenggaknya kan…

“Harganya berapaan dek?” tanyaku sewaktu angkot udah memasuki daerah Caplin. Emang aku udah rencana beli sih sebelum turun angkot.

“Lima ribu dapet 2 kak,” jawabnya dengan logat Sunda.

“Aku beli yak,” kataku sambil menyerahkan uang 5000.

“Makasih kak.”

Aku pun turun dari angkot, kemudian jalan menepi dan diam untuk menunggu angkot selanjutnya menuju rumah. Pas lagi nunggu angkot, aku baru sadar dan menggetok kepala aku sendiri. “Oneng lu din! Kenapa nggak lu lebihin duitnya, anggep aja bagi-bagi THR. Sumpah oneng lu din!”

Gitu deh, kadang ini kepala suka telat gitu mikirnya. Pantes aja kalau lagi nggak nyambung, Kang Garem suka jitak kepala aku (dia mah gitu, kalo gemes ngejitak).

Di dalam angkot aku masih gemes sendiri, kenapa sih mikirnya telat banget!

Tapi ya sudahlah… Udah telat. Cuma bisa do’ain semoga adek-adek yang ngebantu keluarga dilancarkan rezekinya, laris manis dagangannya. Karena biar gimana juga, mereka udah mau usaha, ketimbang minta-minta, ngamen sambil keprok-keprok tangan atau baca puisi sambil gelesoran (duh apa ya bahasa benernya) nggak jelas. Mendingan dagang sesuatu, lebih seneng lihatnya.

Dan… sore itu berlalu dalam sendu.

Tapi begitu sampai rumah, air mati dong. Mesinnya sih nyala, tapi airnya nggak keluar. Kang Garem juga nggak bisa dateng buat ngebenerin karena dia nggak jadi jemput. Akhirnya aku tidur aja, dengan posisi itu tissue tergeletak diatas kasur dalam keadaan utuh. Catat, UTUH!

***

Jam 5 pagi kurang aku bangun tidur, airnya masih mati. Tapi satu tissue kebuka dan ada selembar tissue tergeletak diatas kasur. Tuh kan, aneh! Padahal pas aku tidur tissue masih utuh. Aku ngelindur sambil buka tissue apa gimana?

Seketika aku merinding, tapi mengingat kalau semalam aku kebangun sampai 5x, bisa jadi aku beneran ngelindur dan buka itu tissue. Mungkin aku mimpi ingusan atau gimana. Entahlah. Yang jelas sampai sekarang misteri tissue belum terpecahkan!

Oiya, mohon maaf lahir dan batin untuk semua. Semoga hidup kita selalu diberi keberkahan, aamiiin ๐Ÿ™‚

Advertisements

9 thoughts on “Sore Sendu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s