Cerita Pagi

Kangen Om

20131013_165321.jpg

Karena obrolan antara Ibu dan Tante tadi pagi sebelum aku berangkat kantor (kebetulan rumah kira sebelahan dan si Tante tadi pagi udah ngerumpi di rumah aku), entah kenapa aku jadi kangen sama Almarhum Om.

“Dulu waktu Pak Mul dirawat… bla bla bla.”

Pak Mul yang dimaksud adalah Suaminya Tante alias Almarhum Om yang barusan aku tulis diatas.

Kejadiannya beberapa tahun lalu.

***

Sewaktu masih muda dan udah punya modal untuk bangun rumah sendiri, Bapak dan Om beli tanah sebelah-sebelahan. Bangunnya juga barengan, belajar jadi Ayah super juga barengan karena Orang Tua mereka (Mbah aku) tinggal di Jawa Tengah.

Om adalah sosok bertubuh nggak terlalu tinggi, gemuk dan berkulit putih. Om udah aku anggap kayak Ayah kedua setelah Bapak. Dari kecil selalu begitu. Mungkin karena rumah kami sebelahan, jadinya dari aku orok sampai besar, kalau ada apa-apa ya ceritanya ke Om selain ke Bapak.

“Kenapa Om dipanggilnya Om, tapi Lek-mu dipangginya Lek, bukan Tante. Om dipanggil Lek juga dong, biar kesannya muda!” protes Om pada suatu hari. Aku dan Mbak-ku cuma ketawa. Iya juga sih, harusnya si Om kita panggil Lek juga. Tapi karena gendut, jadi dari kecil kita malah manggil Om Ndut.

Sewaktu SD, aku sering main sama anaknya Om yang kedua. Sekolah kita juga barengan karena jarak usianya 4 tahun. Pas SD itulah kadang aku ikut diantar jemput kalau jam masuk kami lagi samaan.

Sewaktu SMP, kalau Bapak nggak bisa jemput aku sepulang study tour, Om yang bakalan jemput aku di depan jalan raya. Makin beranjak dewasa pun, Om yang kadang nanyain tentang sekolah dan cowok.

Sewaktu SMA, kadang aku ikut Om dan anaknya beli makanan kucing ke Pet Shop yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah. Berhubung tinggi aku dan anaknya sama, muka juga mirip, kita sering banget dikira anak kembar. Dan dengan bangganya Om bilang… “Iya dong, anak saya mah kembar. Tuh lihat aja fotonya, kembar kan!” katanya bangga, sambil memperlihatkan foto kita berdua yang ada di dompetnya.

Sewaktu kuliah, kadang aku nebeng Om pas berangkat kerja karena kantor Om yang emang ngelewatin kampus aku. Kadang aku suka marah-marah, soalnya kalau nyetir motor, Om suka banget naik-naik ke trotoar pas macet. Kan ngeri.

Nggak keitung udah berapa kali kita mudik bareng. Dari yang namanya nebeng mobil Pakde, sampai Om beli mobil sendiri.

Setelah Om ganti mobil, kita makin sering jalan-jalan bareng dua keluarga.

Kita ke Anyer sewaktu Tahun Baru, yang bertepatan dengan tanggal kelahiran Om. Kali itu tumben Om nggak lembur, biasanya sih tiap 1 Januari Om bakalan lembur di tempat bosnya. Kita makan ikan bakar, es kelapa, terus pulang deh. Tapi di tengah jalan tol, tiba-tiba mobil mogok dan menyebabkan kita semua panik. Cuma keponakan aku aja yang ketawa karena dia baru berumur 7 bulan, masih polos. Dan akhirnya mobil jalan pelannnnn banget sampai nemu Pom Bensin untuk service. Kalau nggak salah sih, di Pom Bensin itu nggak bisa service juga, dan kami sepanjang jalan menuju rumah deg-degan karena mobil rusak.

Kita ke Curug Seribu, nyasar selama hampir setengah jam karena nggak lihat plank tulisannya. Sampai sana kita juga turun sampai air tejun pertama dikarenakan nggak kuat lagi. Kalau ke Curug kan, turunnya enak, tapi baliknya berupa tanjakkan semua.

IMG_46110496929919

Kita ke Bandung untuk nyari kebun stroberi, dan nemenin belanja Anak dan Istrinya yang kalau udah shopping bisa berjam-jam.

IMG_46171201137236.jpeg

“Selamat ya din, moga-moga dapet kerjaan enak,” peluk Om ketika aku lulus kuliah D3.

Yang peluk dan cium jidat aku selain Bapak, ya cuma Om. Apalagi sewaktu lebaran, Om juga yang ngasih duit lebaran lebih banyak dibanding sama saudara yang lain, bhahaha.

Setelah aku lulus kuliah, aku langsung kerja di sebuah Laboratorium daerah Jakarta Barat, Om juga yang selalu ngasih semangat. “Kalau kerja harus rajin, yang semangat, biar nyenengin Orang Tua.”

“Din, mana pacarmu? Sini kenalin ke Om,” kata Om waktu malam itu. Sewaktu kita lagi pada nongkrong di depan rumah.

“Jangan lama-lama din, kan kamu udah kerja. Mumpung Om masih sempet. Terus kalau cari cowok yang baik, yang rajin cari duit, yang nggak ngerokok, nggak minum-minum, yang sayang sama kamu lah pokoknya…” katanya lagi.

Aku yang baru banget mulai kerja cuma senyum-senyum aja, rasanya nikah masih jauh sih dari rencana aku. Aku masih kepengen jalan-jalan. Waktu itu ada cowok yang mau aku ceritain ke Om, tapi aku lupa siapa.

Semua terbungkus rapi, sampai akhirnya…

Om jatuh pingsan.

Om dirawat berbulan-bulan karena sakit Ginjal di Rumah Sakit PGI Cikini.

Kita semua kaget nggak ada habisnya. Om yang gemuk, sehat, nggak merokok, rajin badminton kalau malam, tiba-tiba sakit dan dirawat berbulan-bulan.

Dari tubuhnya yang gemuk dan putih bersih, menjadi kurus dan agak hitam. Dari yang perawatan biasa sampai cuci darah.

Sore itu sepulangnya dari cuci darah ke sekian kali, Om minta aku untuk pegang bagian atas dada yang di dalamnya terpasang semacam selang untuk cuci darah.

“Pegang deh din, kayak selang air yak?” tanya Om.

“Iya yak Om.”

“Ini juga nih,” kata Om lagi, sambil menunjukkan aliran dekat nadinya.

“Iya yak, kenceng banget alirannya.”

Saat itu aku melihat ada bekas plester yang nempel di kulit Om. “Kok kotor deh Om,” kataku sambil mengusap tangannya.

“Iya, bersihin dong din.”

“Oke.”

Aku membersihkan bekas plester itu dengan menggunakan tissue basah. Pelan, karena aku takut nyakitin tangan Om yang bekas cuci darah itu.

“Ngapain sih gitu aja minta bersihin orang! Kayak kakek-kakek, nggak bisa ngebersihin sendiri apa?!” bentak Tante dari ujung. Dalam bentakan itu, aku lihat rasa takut yang luar biasa. Takut ditinggal suami.

“Biarin ya din, kan Om minta bersihin juga jarang-jarang,” jawab Om santai.

Om emang punya sifat tenang dan luar biasa sabar dalam menghadapi Istrinya.

Beberapa bulan setelah cuci darah, Om bilang mau pulang kampung. Mau jengukin Ibunya yang udah tua (kebetulan Om anak bungsu dan laki satu-satunya di keluarganya). Bapak langsung ngambil cuti kerja dan menemani Om mudik naik bus.

Karena Om lanjut berobat di Jawa, jadi Bapak pulang duluan ke rumah, diganti Istrinya Om yang mudik dan jagain di Jawa.

Sekitar seminggu di Jawa, entah kenapa pagi itu aku merasa nggak enak. Hati aku nggak tenang, kerja nggak fokus. Begitu jam pulang aku lihat hp dan ada sms dari Bapak.

Dek, bapak pulang kampung ya nemenin Mas Rio sama Ninda. Ini bapak lagi mau ke Bekasi jemput Lek Nok. Kamu jagain mama aja dirumah.

Aku langsung menelepon Bapak dengan mata merah.

“Bapak ngapain pulang kampung?”

“Nengokin Om,” jawab Bapak, berusaha tenang.

“Om kenapa?” tangisanku mulai pecah.

“Om udah nggak ada dek.”

Sepanjang jalan pulang, di dalam Metro Mini tercinta (tapi sekarang aku lebih cinta sama ojek onlineΒ dan jemputan pribadi) aku terus meneror Bapak supaya nungguin aku dengan mata merah dan isak tangis campur suara kencang yang jadi tontonan orang se-bus.

Sampai rumah, air mataku nggak berhenti ngalir. Ibu pun sama. Malamnya Mbak-ku datang dan menemani kami di rumah sebelah. Menjaga rumah kalau ada tetangga yang datang melayat, meskipun meninggal dan dimakamkan di Jawa. Setiap ada tetangga yang datang dan mengucapkan kalimat bela sungkawa, air mataku kembali mengalir.

Dua hari kemudian, aku mulai tegar.

Aku emang sedih. Tapi ada yang jauhhh lebih sedih daripada aku. Ibunya, Istrinya, kedua anaknya, serta Bapak dan Ibu-ku.

Sedari dulu, Om adalah sosok adik ipar dan teman untuk Bapak. Nyari duit dan kerja keras sampai bangun rumah bareng, teman gantian nyetir bareng kalau mudik, teman main catur bareng. Begitu semua keluarga kembali, aku lihat wajah Bapak yang amat sangat kehilangan. Makanya sejak itu, Bapak selalu berusaha untuk membantu keluarganya Om. Meski nggak dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk perhatian dan bantuan tenaga. Sampai saat ini pun sama, mata Bapak selalu terlihat kangen ketika mengunjugi makam Om.

Kini… Hanya ada foto, kenangan dan do’a untuk Om. Semoga Allah SWT melapangkan jalan Om, aamiiin.

***

Mau weekend kenapa nulis yang sedih-sedih begini sih din?

Ya mana aku tau, yang jelas rasa kangen itu tiba-tiba muncul gitu aja sih, wkwkwk. Cuma berbagi kenangan, karena pada dasarnya setiap orang juga pernah merasa kehilangan.

Lagian si dini mah suka gitu, kalau lagi kangen suka baper tiba-tiba dan bapernya berkepanjangan.

Oke, selamat liburan semua. Semoga selalu bahagia πŸ™‚

Advertisements

19 thoughts on “Kangen Om

  1. Diniiiiii tanggung jawaaaab.
    Aq ikutan mewek bacanya 😭😭😭😭
    Semoga om tenanh disana ya din.

    Ah soal ginjal, tiba2 keinget keadaan diri ini din klo ginjalku udh ga bagus keduanya

    Like

    1. Cupcupcup, jangan sedih dong kasyer πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚
      Emang udah ke dokter ya, jadi udah tau ginjalnya gitu? Yang sabar dan semangat ya kasyer 😚😚😚

      Like

  2. Innalilahi, aku turut berduka cita, I feel u. Perasaan bulan ini setelah Chester bunuh diri aku jd dapet bbrp kabar duka dr org terdekat. Pasti sedih banget. Sabar ya Din, om pasti udah tenang disana.

    Like

  3. Dini, aku sedih πŸ˜₯ bisa dianggap papah kedua sih itu mah dan pas baca ini mataku berkaca2, untung ga netes soalnya aku anaknya so kuat hahahaha. Butuh peluk gak? Apa sama mas nya aja peluknya? Yauda…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s