Cerita Pagi

Inikah Rasanya Scaling

CIMG1399.JPG

PERINGATAN: TULISAN INI MENGANDUNG ADEGAN YANG KALAU DIBAYANGKAN BISA MEMBUAT MUAL. SEKIAN!

***

Siapa yang takut ke dokter gigi???

Kalau ada yang takut, berarti kalian sama kayak aku. Marilah kita toss bersama-sama!

Jadi 3 hari lalu sewaktu makan pizza yang agak keras, aku merasakan ada yang aneh di area gigiku. Rasanya kok kayak ada yang bolong, dan benar aja, begitu aku melongo, ada lubang yang cukup besar di gigi kanan atas.

Dengan kepanikan tingkat tinggi, aku datang ke dokter gigi dekat rumah keesokan harinya. Ternyata yang praktik adalah Ibu (sebut aja begitu), dokter gigi yang pada tahun 2013 lalu sempat merawat gigiku juga.

Aku duduk di deretan bangku paling depan, dan tersenyum saat Ibu lewat depanku. Ibu masuk ke ruangan itu duluan, sebelum akhirnya pintu ditutup. Mungkin Ibu dan asistennya sedang mempersiapkan ruangan.

“Silahkan mbak,” asisten Ibu mempersilahkan aku masuk. Aku pun masuk ke ruangan itu dengan deg-degan 100%. Padahal dari pas nunggu, Kang Garem udah ngajakin bercanda via whatsapp, tapi kan tetap aja…

“Mbaknya cantik ya, kayak Nikita Willy,” kata Ibu begitu melihat aku masuk.

Aku cuma senyum-senyum maluuu. Anu bu, sebenarnya aku lebih mirip Raisa sih daripada Nikita Willy. Tapi kalau Ibu bilang gitu, aku bisa apa?

Mungkin si Ibu hanya menghibur sesaat. Karena menit berikutnya gigiku di obrak abrik, kemudian ditambal sementara. Biasa aja sih rasanya, tapi sensasi sewaktu dengar suara bor-nya itu… Gggrrrrrrr.

“Waduh, gigi kiri kamu banyak karangnya tuh. Pasti jarang kamu pakai makan,” tebak Ibu sambil nambel gigiku.

Aku mengangguk pasrah.

“Besok balik lagi ya buat bersihin karang gigi. Baru abis itu ketahuan yang bolong mana lagi. Kan kalau bolong bisa ditambal, keburu kena syaraf kalau nggak kamu rawat.”

Aku kembali mengangguk pasrah, dan membayar Rp 80.000,- untuk tambal gigi sementara. Serta berjanji ke Ibu kalau besok sorenya aku akan kesana lagi.

***

Sebenarnya, ke dokter gigi tanpa menggunakan BPJS Kesehatan itu cukup menguras kantong. Kalau giginya normal sih murah kali yak, tapi kalau yang giginya butuh perawatan ekstra kayak aku kan repot. Etapi mana ada yang giginya normal dateng ke dokter gigi. Ah tau lah.

Jadilah kemarin pagi aku mulai pusing membayangkan bagaimana nasibku untuk pembersihan karang gigi alias scaling. Sebutlah aku perempuan penuh drama, karena nyatanya aku emang gemetar membayangkan hal itu.

Dari pagi sampai siang aku terus menerus googling tentang scaling. Ada yang bilang biasa aja, ngilu sedikit, sampai ada yang mengalami pendarahan selama 9 jam pasca scaling. Aku mulai membayangkan hal-hal seram. Kayak misalnya aku ikut mengalami pendarahan, atau gigiku bakal rontok semua.

Sejak siang itu juga Kang Garem dan Alinda (teman aku dari orok dan pernah scaling) ngasih aku semangat via whatsapp, dan menurut mereka sih rasanya biasa aja. Cuma ngilu dikit, sebentar, abis itu biasa lagi.

Lalu… Apakah hubungannya scaling sama gambar diatas?

Nggak ada hubungannya sih, wkwkwk.

Tapi sewaktu sampai di teras Klinik itu dan berpapasan serta senyum sama Ibu dan seorang perempuan yang tampak seperti anaknya Ibu (aku tebak dia adalah dokter yang akan menangani aku hari ini), aku merasa kalau Klinik berubah seperti hutan belantara. Aku nggak akan tau ada apa di dalam sana, dan apa yang akan terjadi disana.

Ya, Klinik dokter gigi sore itu benar-benar seperti hutan belantara.

AKU DEGDEGAN 😫😫😫

Yailah,Β Sans lah

“Silahkan mbak,” panggil satu suara dari dalam.

Aku yang lagi asik whatsapp sama Kang Garem terhenti karena satu panggilan. Dan jantungku semakin kencang berdetak. Aduh duh… gimana kalau keluar nanti mulut aku berdarah-darah. Ya Alloh…

Aku duduk di bangku, dan Dokter berjilbab entah siapa namanya itu yang kira-kira usianya 30-an (aku sebut aja Anak Ibu) mulai memakai sarung tangan dan membedah mulutku. Asisten yang bertugas masih sama kayak kemarin, jadi Mbak itu tinggal menyampaikan pesan Ibu aja.

“Kita bersihin karang giginya ya,” kata Anak Ibu ramah.

Ternyata setelah dijalani mah… Biasa aja.

Suara alatnya tetap menggetarkan hati, tapi nggak sakit sih. Ngilu iya, tapi nggak sengilu dibayangan aku. Dan benar aja, barisan gigi sebelah kiri numpuk bener karang giginya. Jadi sempat berhenti sebanyak 3x, lalu dilanjutkan lagi karena belum bersih banget.

Dari proses scaling, bagian yang nyebelin selain suara alatnya adalah… Ketika aku susah nahan mulut yang penuh itu. 2x aku melambaikan tangan minta berhenti sebentar untuk kumur. Aku yang emang gampang mual kalau ada yang masuk ke mulut selain makanan dan minuman (kayak adegan scaling, tambal gigi atau rambut yang nggak sengaja masuk) hampir aja keselek dan bisa-bisa nelen itu cairan kalau nggak segera melambaikan tangan.

Dan begitu aku mengeluarkan isi dari mulut, nyesss… darah kental dan serpihan-serpihan kotoran muncul, bikin grogi aku nambah. Beberapa kali aku kumur pakai air juga masih berwarna merah. Ya Alloh… kalau gigi aku rontok semua gimana ini (nangis dalem hati).

15 menit kemudian, proses scaling selesai. Lalu Ibu masuk ke dalam ruangan dan diskusi sama Anaknya langkah apa yang dilakukan dengan gigi kiri atas yang juga berlubang. Lalu mereka membahas sebaiknya kapan aku balik kesana untuk tambal gigi permanen. Aku yang gusinya masih pada perih cuma bisa ngangguk, pasrahhhhhhh.

Begitu aku berdiri, si Ibu kembali ngomong. “Cakep ya, kayak Nikita Willy,” kata Ibu sambil nunjuk aku.

Anaknya Ibu cuma cengengesan (mungkin dia merasa puas abis nyiksa mulut aku), dengan nada cuek membalas. “Iyasih, tapi kayaknya mancungan mbaknya. Kayak ada Arab-nya gitu ya?”

“Kamu emang ada keturunan?” tanya Ibu, kepo.

Aku menggeleng sambil senyum, masih perih rasanya ini mulut. Kemudian Ibu memberitahukan kalau biaya untuk scaling serta tambal sementara sejumlah Rp 330.000,-. Apa aku bilang, lumayan menguras kantong kan. Lalu aku janjian untuk kesana lagi pada Senin depan sambil nunggu obatnya menyerap (katanya sih begitu).

***

Langit mulai gelap. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Aku cuma cengengesan sambil bayangin scaling tadi. Nggak seseram yang aku bayangin sih, tapi kalau disuruh ulang dalam waktu dekat, kayaknya aku belum siap mental.

Kok lu boros sih din?

Ya nggak boros banget juga sih. Anggep aja anggaran belanja bulan ini aku alihkan ke perawatan gigi. Seenggaknya sebelum aku berumah tangga dan pasti bakal ngerasa sayang ngebuang dana segitu (yang bisa buat tambahan beli susu sama pampers), jadi dipakai buat diri sendiri dulu deh ya. Apalagi demi kesehatan, bukan buat jalan-jalan kayak yang aku lakuin setahun lalu.

Salah juga sih, dulu lebih mikir jalan-jalan ketimbang hal yang bermanfaat (nangis sambil garuk-garuk tembok). Makanya mulai sekarang, yang belum rajin ke dokter gigi, yuklah dirajinin. Kalau mau yang lebih hemat, bisa juga ke Puskesmas.

Sekian pengalaman pertama aku tentang scaling. Semoga bermanfaat dan kalian jadi percaya kalau aku beneran mirip Nikita Willy.

SELAMAT MALAM MINGGU πŸ™‚

Advertisements

40 thoughts on “Inikah Rasanya Scaling

  1. Ehm…. itu buat scaling lumayan mahal. Dibeliin bakso dapat berapa itu wkwkwk…. dan… masih ada pertemuan selanjutnya. Total kerusakan sementara 410 ribu buat ke dokter gigi dan berpotensi bertambah minggu depan. Yang sabar πŸ˜€

    Liked by 1 person

      1. Kan mirip Nikita katanyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ duh itu avatarnya adep sini dong mbak. Biar aku tahu wajahnya.

        Lah itu, aku takut darah apalagi yg ngalir dr diri sendiri πŸ™ˆ semoga nanti kuat hatinya.

        Like

  2. hmmm ….memang mahal kalau urusan dengan dokter gigi, TP kalau ikut BPJS lumayan sih nyabut gigi, tambal dan kontrol gak bayar, tp kalau tambalnya/cabutnya sulit dan jg bersihkan karang gigi memang tetap dibayar krn gak masuk BPJS

    Like

  3. Berhubung berobat di kantor gratis, jadi malah ketagihan scaling, hahaha, rasanya abis scaling tuh gigi tipis gimana gitu, bersih banget. Tapi kalau udah pernah operasi gigi tindakan perawatan gigi yang lain jadi malah ngga nakutin sama sekali πŸ˜…

    Like

  4. scaling memang malesin … ehn btw .. jasa giginya termasuk ekonomis lho .. saya di beberapa tempat perawatan gigi .. ongkosnya di atas itu, pernah satu waktu tambal gigi ternyata ongkosnya bikin sakit jantung .. belum ketemu yang kualitas hotel bintang lima harga kaki lima .. hehe

    Like

  5. aku bacanya nelat lagi mbak dini pacarnya mas garem hihi
    aku juga paling takut ke dokter gigi. kmren sbelum puasa juga pertama kali ke dokter gigi, bersihin karang gigi juga. ngumpulin niat nya juga, takut macem . juga beberpa kali angkat tangan, soalnya numpuk di mulut. darah juga banyak keluar, karang karang juga. tapi lega semriwing mbak hihi . pngen lagi, tapi kmren.nggak dibersihkan semua , gegara ada yg berlubang. ini msh ngumpulin kekuatan hi

    Like

  6. Pernah sekali scaling dan akhirnya tahu banyak gigi bolong yang ketutup. Ngeri2 sedap sih memang tapi cuma bentar ngilunya. Dan kata ibu dokter langganan saya, usahain setahun sekali cek lagi karang giginya. Kalau ada dibersihin sekalian biar gak numpuk

    Like

      1. Ya jangan dilihat. Merem aja kalau kumur mbak. πŸ˜€πŸ˜€ Bisa jadi scaling berikutnya tidak separah pertama. Sama kayak bayar cicilan. Dikit2 enak kalau numpuk, alamaaak…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s