Cerita Pagi

10 Hari

CIMG0983.JPG

“Din, lu ditaksir sama Dede,” kata Ririn pada suatu hari.

“Dede itu siapa deh?”

“Itu lho, kakak kelas yang ada di atas ituuu,” kata Ririn lagi, sambil menunjuk kelas yang posisinya di atas dan menyilang dari kelasku. Justru dengan menyilang begitu, kelas kami jadi terlihat jelas satu sama lain.

Aku melirik ke atas, kemudian mendapati seorang laki-laki yang sedang tersenyum ke arah bawah. Tapi aku nggak yakin kalau dia.

“Itu, Rin?”

“Iya, ituuu.”

“Yang mana deh?” tanyaku bingung, karena ada beberapa laki-laki disana.

Ririn menatapku aneh. “Lah, kirain udah tau, tadi lu sotoy doang?”

Aku hanya mengangkat bahu. Lalu kembali menatap barisan laki-laki yang berdiri di atas sana.

“Itu yang pake poni samping,” kata Ririn.

Aku menatap sosok itu, yang sedang tersenyum tapi aku tau kalau matanya sesekali menatap kaca jendelaku. Sedangkan ketika aku menatapnya, dia malah (pura-pura) mengobrol dengan temannya.

Setelah Ririn sibuk mempromosikan dia, keesokan harinya udah nggak ada kabar apa-apa lagi. Ya udah, aku pun diam dan nggak menghiraukan tatapan beberapa orang yang terkadang menunjuk-nunjuk kelas kami.

Yayaya, namanya juga Kakak kelas, pasti suka lah ngegodain Adek kelas. Entah ngegodain karena suka beneran atau cuma iseng.

Aku pikir, Dede Dede itu udah selesai sampai disitu. Ternyata hari Minggu, Ririn mengajak aku ke Bintaro Plaza, dan ternyata disana kita berdua ketemuan sama Dede dan teman sekelas Dede. Udah canggung, pakai acara es krim aku numplek di baju. Akhirnya pertemuan ala cabe-cabean pun selesai sudah.

Esok hari, esoknya esok, Dede mulai intens ngedeketin aku dengan cara rajin nelpon tiap malam. Apa aja diobrolin. Padahal kalau di sekolah, kita berdua biasa aja. Kalau papasan juga nggak ada ngobrol. Cuma satu senyuman disudut bibir aja.

“Din, plis pacaran sama Dede,” rajuk Ririn.

“Enggak ah, males.”

“Plissssss, semingguuuuu aja. Kalau dalam waktu seminggu lu nggak sayang sama dia, ya udah deh boleh lu putusin. Plissssss, biar lu tuh ngerasain yang namanya pacaran,” desak Ririn terus menerus.

Entah kenapa, kayaknya pacaran sewaktu SMA emang selalu hits.

Dan aku bukan anak hits. Jadi aku mau-mau enggak-enggak wujudin permintaan Ririn. Tapi kok, lama-lama aku kasihan ya sama Dede. Ya udah lah.

Aku pandang lagi sosok yang suka banget berdiri di beranda atas. Orangnya nggak terlalu tinggi, dan tubuhnya cenderung kurus. Nggak terlalu putih, nggak terlalu hitam. Tapi kalau lagi senyum rada manis sih. Sisanya biasa aja.

Dan, dengan setengah hati aku menerima Dede. Dengan syarat nggak ada yang boleh tau kalau kami pacaran kecuali Ririn.

Hubungan kami setelah pacaran biasa aja. Nggak ada yang wah banget. Kalau pulang sekolah, Dede suka mengantar aku sampai menyebrang jalan sebelum aku naik angkot. Dan tiap kali tangannya mendekat ke tanganku, aku selalu menghindar.

Sampai di hari ke-5 kami pacaran, tiba-tiba ada gosip berhembus dari Isna (teman sekelasku). Padahal Isna ini satu SD denganku, tapi sejak SMA, dia kayak iri atau apalah namanya.

“Tau nggak? Kata cowok gue, ada temen sekelasnya yang lagi ngedeketin temen sekelas kita lho. Tapi dia ngedeketin cuma buat taruhan, kasihan ya itu cewek,” katanya nyinyir, sambil sesekali matanya melirik ke arahku.

Teman se-genk-nya Isna tampak antusias mendengar gosip receh. Aku masih memasang wajah kalem, sedangkan wajah Ririn udah merah padam. Kami berdua tau persis siapa yang dibahas oleh Isna.

Sesampainya rumah, seperti biasa aku menunggu Dede nelpon. Dan kebetulan telpon kali ini akan membahas gosip Isna tadi siang.

“Halo, lagi ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain,” jawabku singkat.

Tanya, enggak… Tanya, enggak… Tanya, enggak… Oke, tanya!

“Emn… Tadi siang temen sekelas aku ngomong kalo kata cowoknya dia, di kelas aku tuh ada cewek yang lagi dideketin sama cowok buat taruhan.”

“Terus kenapa?”

“Emn… Cowoknya temen aku itu, sekelas sama lu.”

Iya udah, jangan ditanya kenapa sebutan Aku-Elu terjadi diantara kita berdua. Yang jelas aku nggak biasa aja dengan sebutan Aku-Kamu.

“Terus kenapaaa?” Dede mulai emosi jiwa dan mengulang kembali pertanyaannya.

“Ya… Aku ngerasanya tuh, yang di omongin sama temen aku itu ya aku. Soalnya pas ngomong gitu, mukanya nyindir aku,” akhirnya aku berkata yang sejujurnya.

“Besok tunjukin orangnya. Biar gue tanya ke dia langsung siapa yang dia maksud. Oke?”

Ditantang gitu, nyaliku jadi ciut. “Emn… Yaudah deh nggak usah. Iya aku nggak dengerin dia lagi,” daripada nanti dikira ke-geeran, akhirnya aku putuskan untuk menyudahi bahasan itu. Biarpun sampai sekarang aku masih penasaran, itu benar apa enggak ya?

Suatu hari, setelah beberapa lama pacaran sama Dede, akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk menyudahi semuanya. Dibilang sayang, enggak juga sih. Mungkin karena aku udah jenuh menuruti permintaan Ririn supaya aku pacaran. Dan lama-lama aku kasihan sama Dede. Dalam waktu kurang dari sebulan kenal aja, tagihan telpon rumahnya bisa 300k lebih. Yaiyalah mahal, orang tiap malam dia nelpon, wkwkwk.

“Din, lu putus sama Dede?” tanya Ririn pada suatu pagi. Setelah beberapa hari aku mutusin Dede, dan aku rasa Dede baru punya tenaga buat cerita ke Ririn.

“Ho’oh.”

“Serius? Kenapa?”

“Lah, katanya kalo seminggu bosen pacaran, gue boleh mutusin Dede. Lah itu malah gue lebihin 3 hari, jadinya 10 hari.”

“Sayang tau, padahal Dede baik banget gitu juga.”

Aku hanya mengangkat bahu, tanda kalau nggak mau memperpanjang bahasan ini.

Ririn hanya menggelengkan kepala dan berdecak sebal. Mungkin dia merasa aneh, kok ada ya orang sejahat Dini. Seaneh Dini. Sebegitu penagih janji kayak Dini.

Tapi aku nggak peduli. Aku berpikir, kalau aku nggak mau melanjutkan. Aku pun bicara apa adanya ke Dede, dan dia mau memaklumi. Hubungan kami selanjutnya nggak bisa dibilang akrab, hanya sesekali saling lempar senyum ketika berpapasan. Lalu beberapa bulan sesudahnya, Dede lulus SMA.

Bye pacar pertama sekaligus korban cinlok di sekolah…”

***

Huweeeeee, ini masih Agustus kan kan kan?

Setelah maju mundur kepengen ikutanย Obrolinโ€™s Monthly Challenge, akhirnya kesampaian juga untuk ikutan. Biarpun bikinnya rada mepet sih, tapi Alhamdulillah kelar.

Tapi setelah kelar, aku malah mau nanya… Ini termasuk cinlok bukan sih? Bingunggg. Tapi anggep aja cinlok, nggak mau tau! Pokoknya ini cerita tentang cinlok, titik! (maksa)

Selamat hari Selasa semua, sabar ya… Sebentar lagi libur kok. Mumpung belum ganti bulan, yang belum ikutan Challenge ini, yuk mari ikutan. Siapa tau jadi inget sama kenangan dulu. Tapi inget aja ya, jangan di baperin.

#Obrolin #OMCAgustus #YukMenulis

Advertisements

19 thoughts on “10 Hari

  1. Dan Dede pun berkata dalam hati, โ€œYah, Diniโ€ฆ Kok putus sih? Bikes deh. Bikes, bikes bikesโ€ฆ Bikin keseeeeel dwehโ€ฆโ€

    Tenang aja mbak Dini, ini teemasuk cinlok kokโ€ฆ

    Like

  2. Wah cuma 10 hari nggak dapat apa2 tuh si dede. Nggak punya kenangan manis atau momen2 tertentu. Tapi emang lebih baik putus sih klo nggak ada rasa. Tapi usaha dede juga patut diacungi jempol klo nelpon setiap malam ๐Ÿ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s