Naik Gunung

Pertama Kali Bertemu Semeru

20141027_0532470

Sabtu, 25 Oktober 2014

Setelah debat panjang karena Rekta (teman Sheila) melarang aku dan Sheila untuk ke Ranu Kumbolo, akhirnya kami bertiga (Dini, Rekta, Sheila) duduk manis di dalam kereta Matarmaja menuju Malang.

Sore menjelang, tapi matahari masih terik.

Jujur ini pertama kalinya aku naik kereta bersama teman, biasanya sih sama keluarga dan tinggal melenggang masuk aja. Kalau ini mah boro-boro! Mana kami bertiga bawa tas segede alaihim gambreng. Ditambah pas lewat pengecekan tiket tadi kami sempat deg-degan karena… Rekta naik kereta pakai KTP-nya Wahyu!

Hah? Kok bisa Din?

Kayak yang aku bilang, jadi Rekta yang lagi pdkt sama Sheila melarang kami bertiga (Dini, Sheila, Wahyu) untuk pergi ke Ranu Kumbolo. Padahal Ranu Kumbolo aja lho ya, cuma sampai situ. Tapi dilarang. Alasannya karena kami bertiga belum pernah naik gunung. Emang kenapa sih kalau belum pernah? Masalah?! (langsung ditimpuk se-blog).

Aku dan Sheila tetap bersikeras kesana hingga akhirnya, beberapa minggu sebelum keberangkatan, Wahyu mengabarkan kalau dia kecelakaan. Padahal kita bertiga udah beli tiket kereta PP, kan sayang banget kalau dibatalin.

“Kita ke Bromo aja yuk Shel,” ajakku karena udah nyerah mikirin gimana ribetnya kalau kita beneran naik gunung berdua aja.

“Boleh deh kak,” sahut Sheila.

Maka, konsul lah Sheila pada Rekta. Tapi Rekta melarang lagi karena budget ke Bromo itu mahal. Ribet yak jadi cewek yang lagi kepengen jalan-jalan tapi nggak berdaya sama keadaan.

Akhirnya Sheila membawa Rekta kembali pada Semeru.

Intinya mah, biar nggak sayang sama tiket yang udah dibeli, si Rekta kita ajak ke Semeru dan pinjem KTP Wahyu untuk naik kereta. Penipu amat yak kita (sungkem sama penjaga tiket kereta). Padahal belum genap 2 bulan Rekta balik dari Semeru. Ya namanya juga cinta yekan, apa juga dijabanin sama Rekta.

Kereta mulai penuh. Kami duduk di bangku yang berisi 4 orang. Aku sebelahan dengan Sheila, dan Rekta sebelahan dengan Ibu yang usianya lebih dari separuh abad serta bertubuh besar.

“Nak…” begitulah sapaan Ibu itu setiap memanggil kami bertiga.

Sang Ibu mulai bercerita dan bertanya tentang banyak hal. Mengobrol emang jadi rutinitas yang biasa ketika bertemu dengan Orang Tua di kereta. Tapi namanya juga si Dini, nggak pernah ramah sama orang baru. Kalau Sheila dan Rekta udah terhanyut obrolan, aku cuma menanggapi dengan senyum-senyum.

Menjelang malam, kereta berhenti di Stasiun Cirebon. Ibu nitip makanan sama Rekta, dan tentu aja aku ikutan Rekta turun karena kalau Sheila yang turun takut larinya lama.

Buru-buru kami membeli makanan dan segera berlari saat kereta berbunyi.

Hap! Kami sampai di dalam kereta tepat sebelum kereta melanjutkan perjalanan.

Malam menjelang, aku yang mulai kesal pada bangku seberang cuma bisa manyun-manyun. Itu tuh di seberang ada segerombolan perempuan dan laki-laki yang kelihatan terawat (ngerti kan maksud aku apa). Mereka tuh kalau ketawa kenceng banget, bikin kepala aku pusing!

“Nak, kaki kalian di naikan ke bangku aja semua. Ibu mau numpang tiduran di bawah ya Nak. Soalnya kalau duduk terus punggung Ibu sakit,” tiba-tiba Ibu yang disebelah Rekta berdiri dan bersiap untuk tiduran di bawah.

“Sebentar Bu,” dengan sigap Rekta mengambil matras yang ada di keril, kemudian menggelarnya dan membereskan keril-keril kami yang awalnya berserakan hingga masuk semua ke kolong bangku.

“Makasih ya Nak, kalian anak-anak baik,” kata si Ibu lagi.

Kami cuma mesem-mesem malu campur geer. Ciyehhh, anak baik.

Aku dan Sheila sempat tertidur ketika suasana kereta mulai sepi. Geng seberang juga lagi pada molor. Tapi sekitar pukul 22.00 WIB, geng seberang bangun lagi dan malah semakin berisik.

Mereka kayak ngadainΒ games gitu. Jadi yang kalah disuruh cemongin wajah pakai bedak tabur, kemudian berjalan melenggok di sepanjang gerbong kami. Dan udah bisa ditebak kalau yang melenggak lenggok adalah para laki-laki.

Selesai games, mereka akhirnya agak tenang. Aku pun duduk di bangkunya rekta sendiri karena sekarang jatah aku untuk selonjoran. Aku menutup wajah agar nggak terlihat merah kesal setiap dengar geng seberang berisik.

Malam semakin larut, mataku mulai terpenjam.

Setelah satu jam tidur, kakiku mulai terasa pegal. Begitu aku membuka mata, ternyata kakiku udah sampai di bangku seberang alias bangku geng rempong itu. Mereka udah pada molor, tapi laki-laki yang ujung bangkunya aku sabotase itu nggak protes sama sekali.

Degh! Aku langsung merasa nggak enak hati. Dari awal aku naik kereta dan lihat mereka, aku udah judes. Mereka senyum juga aku masa bodoh. Berkali-kali aku seperti itu. Sedangkan mereka? Biarpun rempong dan berisik tapi nggak protes sama sekali dengan kelakuanku.

Aku tukaran duduk sama Sheila dan Rekta. Begitu aja terus sampai kami tiba di Stasiun Malang.

***

Minggu, 26 Oktober 2014

Pagi hari, hawanya mulai dingin. Aku bangun tidur, lalu cuci muka dan duduk sambil nunggu matahari terbit dari balik jendela kereta.

Ibu juga udah bangun, kemudian nyemil sambil duduk lagi disebelah Rekta. Aku melirik plastik yang ada di gantungan. Tuh kan, makanan yang semalam beli di Stasiun Cirebon nggak dimakan.

Ibu bercerita bahwa ia sedang mengunjungi saudaranya di Jakarta, hal yang ia lakukan paling tidak sebulan sekali. Dan ternyata Ibu ini ada keturunan India, makanya gaya bicaranya nggak kayak Indonesia asli.

Pagi ini terasa ramai karena kami berempat banyak cerita. Aku yang awalnya canggung, kini udah bisa membuka diri dan ikut mengobrol. Bahkan si Ibu kadang menjawil pundak ketika aku bercanda. Ketika si Ibu pergi dari bangku, geng sebelah baru pada bangun. Kemudian mereka membuka sekotak brownies dan menawarkan pada kami dengan senyum tulus tapi canggung (mungkin karena masih merasa aku musuhi).

Degh! Aku kembali merasa nggak enak hati. Ternyata mereka masih baik ya, maaf banget karena sampai pagi ini aku masih judes.

Pemandangan di luar mulai terlihat indah. Jembatan, bukit, pepohonan. Akh… aku suka!

Si Ibu turun di Stasiun Malang Kota Lama, sedangkan kami turun di Stasiun Malang. Akhirnya Ibu berpamitan dan meminta kami mampir ke rumahnya kalau ke Malang lagi. Kami bersalaman dengan Ibu, dan Rekta membantu membawa barang bawaan Ibu sampai turun kereta.

Tidak lama kemudian, kami turun di Stasiun Malang.

Suasananya pagi itu sangat ramai. Kami galau antara sarapan dulu atau langsung cari angkutan. Tapi setelah Rekta menemui supir angkot dan kenalan dengan segerombolan pendaki dari Jogja, akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di Ranu Pani.

Kami berkenalan dengan para pendaki itu. Sepanjang jalan Rekta mengobrol dengan mereka, sedangkan aku dan Sheila berusaha menghubungi Orang Tua, mumpung sinyal masih ada.

Sampailah kami di Pasar Tumpang.

Sampai sana juga ramai banget. Aku dan Sheila diminta Rekta untuk belanja ke Pasar. Yaudah lah kami nurut. Sambil nungguin rombongan Jogja sarapan dan nungguin rombongan lain datang agar sewa jeep lebih murah.

Aku dan Sheila sotoy banget masuk-masuk Pasar, udah gitu cuma beli cabai, tempe dan kecap untuk masak di Ranu Kumbolo. Udah balik ke tempat jeep lagi, eh kami berdua disuruh foto kopi yang letaknya seberang Pasar. Kan jadi balik lagi. Kalau nggak salah aku dan Sheila sampai 2x bolak balik ke tukang foto kopian.

Rombongan Jogja udah kelar makan, kami juga udah dapat jeep. Kami bersiap untuk naik jeep. Tapi biasaaa, ke Tumpang tanpa foto sama jeep itu kayak makan sayur asem tanpa sambel, kurang greget.

IMG-20141030-WA0094.jpg

Perjalanan dimulai. Rekta udah tekin bangku depan buat aku dan Sheila sebelum diselak sama rombongan lain yang ada ceweknya. Eh tapi se-jeep itu emang kita berdua paling cantik sih, nggak ada ceweknya lagi.

Sepanjang perjalanan, aku dan Sheila banyak bercerita dan sesekali ngajak ngobrol Bapak Pengemudi. Tentang cuaca, tentang para pendaki lain yang udah sampai Ranu Kumbolo, tentang apapun.

Sampai di Jemplang, Bapak Pengemudi menghentikan jeep dan mengizinkan kami semua untuk berfoto dengan latar bukit teletubies ala-ala… Yang lagi tandus.

IMG-20141030-WA0090.jpg

Tuh kan, bukitnya lagi pada gosong. Tapi dari Jemplang, kalau kita menoleh ke arah kanan, maka puncak Mahameru akan terlihat. Keren!

Perjalanan dilanjutkan kembali. Jalurnya tuh naik turun gitu, dan sebelahnya ada jurang menganga. Aku salut pada keahlian menyetir Bapak Pengemudi, belum lagi kalau ada jeep dari arah yang berlawanan.

Siang hari, kami sampai di Ranu Pani. Rekta mengurus SIMAKSI kami, kemudian kami berkumpul dan pamitan dengan rombongan lain karena kami mau makan siang dulu. Lagian mereka semua kan pada mau muncak, sedangkan kami cuma kemping di Ranu Kumbolo (ngetik pake nada iri).

Selesai makan dan beberes, kami berdo’a dan bersiap menyusuri jalan menuju Ranu Kumbolo. Tapi baru mau jalan, sepatu yang dipakai Sheila jebol saudara-saudara! Rekta marah, dan akhirnya memberikan sepatu sendalnya untuk dipakai Sheila. Tentunya sepatu sendal itu kegedean, dan membuat telapak kaki Sheila sakit.

Akhirnya, perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Jalur awal berupa turunan yang di sebelahnya terdapat perkebunan warga, lalu terdapat Gapura Selamat Datang. Barulah jalan mulai menanjak dan menanjak.

Sampai di belokan pertama, kami duduk sebentar sambil mengatur nafas. Sepanjang perjalanan itu juga, aku dan Sheila nggak bisa lihat robohan kayu sedikit, bawaannya mau istirahat aja. Rekta sampai marah-marah karena kebanyakan istirahat. Padahal perjalanan menuju Ranu kumbolo masih jauh dan waktu semakin cepat menuju malam.

IMG-20141031-WA0001.jpg

“Cepetan jalannya, nanti sampai di atas sana jajan semangka deh,” rayu Rekta. Tapi yang namanya capek mah capek aja, nggak ngaruh sama semangka.

Sampai di rumah-rumahan, ternyata semangkanya habis. Kami cuma bisa pasrah, pasrahhh.

Perjalanan dilanjutkan kembali. Menjelang Maghrib, kami sampai di Pos 3. Awalnya aku lihat Sheila cuma kedinginan, tapi lama kelamaan kok menggigilnya parah. Rekta langsung evakuasi Sheila dan memberikan minuman hangat serta jaket pada Sheila.

Ahkirnya perjalanan kami terhenti sementara, tapi nggak mungkin juga kami mendirikan tenda disini.

Sheila masih menggigil dan berusaha menghangatkan tubuh. Aku melihat Rekta diam, lalu aku ikut berdiri di sebelah Rekta.

“Jalur kita yang mana sih Ta?” tanyaku bingung. Disebelah kiri ada jalan sih, tapi kok kayak terputus gitu jalurnya. Sedangkan dihadapan kami cuma ada tanjakan curam securam curamnya, kayaknya nggak mungkin lewat sit…

“Nanti kita naik ke atas sana tau Kak,” kata Rekta memotong curhatan isi hatiku.

Setelah Rekta selesai ngomong, dari atas tanjakan ada beberapa orang yang turun, dan nggak nyantai karena turun disitu emang enaknya langsung lari.

Debu-debu berterbangan. Setelah segerombolan orang turun, kini saatnya rombongan yang tadi istirahat di Pos 3 bareng kami, naik. Mereka semua saling berpamitan dan mulai menaiki tanjakan itu.

“Nanti lu gitu ya Kak, naiknya langsung set set cepet gitu biar nggak pegel.”

Rekta ngomong enak amat yak, dia lupa kayaknya kalau kaki aku itu nggak jenjang.

Aku kembali melihat kondisi Sheila. Kayaknya kami harus berhenti disini agak lamaan karena Sheila semakin mengigil dan mulai bicara yang aneh-aneh.

“Udah aku disini aja deh, kalian aja yang naik. Aku nggak kuat Ta,” kata Sheila dengan suara gemetar.

“Jangan ngomong gitu ah. Kita tungguin kok, kamu semangat dong. Kan kita kesini bertiga, balik juga harus bertiga.”

Lalu Rekta-Sheila lagi ngedrama, sedangkan aku melipir lagi ke sebelah Pos 3 sambil menatap tanjakan itu.

Aku kira hanya tinggal kami bertiga disini, sampai datang dua orang yang terengah-engah dan langsung duduk selonjoran di depan Pos. Seorang perempuan dan laki-laki.

Rekta menyapa mereka (yang ternyata sepasang kekasih, tapi sekarang udah putus), kemudian mengajak mereka naik bareng kami karena ternyata mereka berdua baru pertama kali ke Ranu Kumbolo. Katanya mereka berdua cuma berbekal feeling, jangan ditiru plisss.

Dengan adanya Yosrine yang telaten mengurus Sheila, akhirnya kami berlima memulai perjalanan kembali.

Sesuai instruksi Rekta, aku melewati tanjakan tersebut dengan cepat biarpun awalnya sempat nggak sampai dan dibantu oleh mas-mas entah siapa itu. Sheila dipegang Rekta, Yosrine dipegang Alfi. Da aku mah apa atuh, nggak ada yang nge-back up. jadi kalau tanjakan aku usaha sendiri, jalannya dipercepat sampai ujung. Sambil nunggu mereka aku duduk selonjoran hingga Adzan Maghrib selesai berkumandang.

Rekta bilang, selagi aku kuat jalan ya jalan terus aja. Aku pun nurut, karena tubuhku juga sudah mulai lelah. Tapi ketika aku semakin mempercepat langkah dan berada jauh dari mereka, Rekta malah teriak… “WOY, LIAT SPION!”

Kan aku jadi galau. Makanya sesekali aku menoleh ke belakang dan memastikan bahwa mereka semua berada tepat di belakangku. Hingga disuatu waktu sesudah aku mengikuti jalan yang berbelok, aku menoleh ke belakang dan… Kosong!

Aku panik dan berteriak memanggil nama mereka. Tapi di sekitarku nggak ada orang, hanya gelap dan gelap. Lalu ada burung jalak hitam yang berjalan pelan di depanku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lalu terbang.

Akhirnya mereka berempat muncul dengan wajah sama paniknya. Kan nggak lucu kalau aku sampai diculik, soalnya mahal jajanan si Dini mah.

“Hish, makanya kalau jalan tuh liat belakang!” omel Rekta.

“Iya, maaf.”

Aku tetap berjalan di depan, dan sempat melihat burung jalak hitam lagi ketika sedang berada dijarak yang cukup jauh dari mereka. Seolah, jalak hitam itu memberitahu kemana arah jalan yang harus aku tempuh.

Sampai di Pos 4, kami melihat Ranu kumbolo yang berwarna hitam pekat. Dengan beberapa pancaran lampu dari tenda di sekitarnya. Tapi kok di atas bukit sana, ada semacam cahaya api, kayak ada kebakaran.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, melewati turunan curam dan tiba-tiba… kaki Sheila kram. Aku yang berada di pertengahan turunan mulai mual dan pusing ngebayangin naik lagi. Untungnya Yosrine membantu Sheila dengan penuh kesabaran.

Setelah Sheila bisa berjalan lagi, kami menyusuri tepian Ranu kumbolo untuk mencari lapak dekat Shelter. Katanya sih kalau disitu anginnya nggak terlalu kencang.

Sesampainya di dekat Shelter, Rekta mulai nguring dan marah-marah nggak jelas. Padahal aku udah bantuin, tapi dia begitu. Mungkin dia panik karena Sheila semakin mengigil. Nyari pasak nggak ketemu, dia marah. Aku bantuin, salah. Akhirnya aku cuma diam sambil menahan dingin, nonton Rekta mendirikan tenda. Untungnya ada mas-mas tenda sekitar yang bantuin.

IMG-20141028-WA0017

Kami selesai makan, ganti pakaian dan buang air di ujung sana (dulu di Semeru belum ada toilet). Sewaktu kami mau membereskan sisa makanan, ada hewan kecil imut yang masuk ke tenda kami. Memastikan udah nggak ada hewan menyelinap lagi, kami pun tidur sambil menahan dinginnya Ranu Kumbolo yang kayaknya semakin malam semakin minus suhunya.

***

Senin, 27 Oktober 2014

“Selamat pagi duniaaa…” Aku berteriak kencang dengan memasang suara sok manis. Biarpun nggak ada yang nyautin tapi seneng aja gitu ngucapinnya (kasian amat si Dini). Padahal di luar langitnya masih gelap.

20141027_044005

Kami berempat mulai sesi foto-foto, sedangkan Rekta memilih untuk melanjutkan tidur.

CIMG06780.jpg

Hari pertama di Ranu Kumbolo, kami mendapatkan pemandangan sunrise yang cantik tanpa terhalang kabut. Langit lagi cerah banget deh pokoknya.

Langit mulai terang, kami bertiga diminta mencari air di ujung. Rekta juga nemenin sih, sambil bawa botol.

IMG-20141030-WA0036.jpg

Sambil mencari air, kami malah foto-foto. Mumpung masih di Ranu Kombolo, jadi stok foto dibanyakin aja sekalian.

Selesai mencari air, aku dan Sheila jalan-jalan berdua dan foto-foto sampai dibawahnya Tanjakan Cinta. Kalau Yosrine balik lagi ke tenda, takut dicariin sama pacarnya.

20141027_055642

Tenda-tenda di sekitar kami mulai sepi. Banyak yang lanjut untuk summit. Sebenarnya sayang kalau kesini tanpa summit. Tapi mau gimana lagi. Kami nggak mungkin maksa Rekta untuk membawa kami berdua kesana.

20141027_054703.jpg

Enaknya ngajak Sheila jalan-jalan, dia itu kalau foto hasilnya pasti bagus, wkwkwk. Sedangkan Sheila selalu protes karena hasil foto aku selalu jelek. Tapi yang bikin sedih, itu Tanjakan Cinta kenapa gosong sebelah sih. Mungkin cahaya semalam yang kami lihat berasal dari sini.

20141027_054106.jpg

Lihat sendiri kan perbedaannya? Bhahaha. Ya gimana dong Shel, aku kan bakatnya jadi model, bukan tukang foto.

“Udah puas kelilingnya?” tanya Rekta begitu melihat kami kembali ke tenda.

“Beloommm, masih kurang,” kata kami berdua, kompak.

“Kita jalan-jalan yuk, ajak Kak Yos sekalian noh. Nanti gue tunjukin pemandangan bagus,” Rekta seolah menghembuskan angin segar.

Aku dan Sheila langsung setuju. Sedangkan Rekta menyiapkan barang-barang penting, serta air minum untuk bekal dijalan.

Kami berempat mulai menapaki jalur di tengah Tanjakan Cinta. Capek dikit behenti, naik lagi, engap. Haduhhh, lumayan banget ini tanjakan.

IMG-20141030-WA0001.jpg

Miring juga yak tanjakannya, nggak usah ditanya se-engap aja untuk menuju atas. Debu-debu juga banyak bertebaran.

IMG-20141030-WA0003.jpg

Singkat cerita, kami sampai di ujung Tanjakan Cinta dan duduk sebentar untuk istirahat. Pemandangan dari sini cantik deh.

Kami lanjut jalan lagi, nggak lama kemudian… Oro-Oro Ombo menyapa.

IMG-20141029-WA0023.jpg

Kami lewat turunan yang di sebelah kiri karena nggak berani lewat Turunan Putus (sebutan dari Rekta).

IMG-20141029-WA0019.jpg

Mana Oro-Oro Ombo yang berwarna ungu? Manaaaaaa???!!! Ah palsu lah. Sampai disini, kami malah disambut oleh pemandangan seperti ini, macam lagi tour di ladang gandum Coco Crunch.

Ternyata kalau lagi kemarau, pemandangannya emang begitu, wkwkwk.

IMG-20141029-WA0016.jpg

Di Cemoro Kandang, kami berhenti dan istirahat sebentar sambil jajan semangka seharga Rp 10.000,- per 4 potong.

“Hayuk jalan terus,” Rekta terus mengajak kami menyusuri jalur yang semakin sempit entah menuju mana.

Kami bertiga hanya nurut aja. Tapi kok semakin lama, jalurnya semakin menanjak. Engap ini mahhh. Kami berkali-kali berhenti untuk istirahat dan harus menerima lambaian dari para pendaki yang mau summit.

“Ayok satu tanjakan lagi, nanti abis itu gue tunjukin mangkok terbalik,” kata Rekta terus menyemangati.

“Mangkok terbalik?” aku mengulang pertanyaan.

Setelah jalan berjam-jam lamanya, akhirnya kami melewati jalur yang mulai datar, pepohonan rimbun dan… Jambangan!

IMG-20141030-WA0015.jpg

Seperti yang kita semua ketahui bahwa dari Jambangan ini, Mahameru dan bunga Edelweis mulai terlihat, aku senang!!!

Jadi mangkok terbalik yang Rekta maksud adalah Mahameru.

20141027_124014.jpg

Cakep banget banget banget kan? Duh, kalau udah gini rasanya mau naik sampai Puncaknya aja.

20141027_131001.jpg

Kami berfoto dan nggak lupa untuk jajan semangka lagi, dengan harga yang sama kayak di Cemoro Kandang.

Kalau dagang di Cemoro Kandang masih wajar lah yak, tapi kalau dagang disini tuh aku udah bayangin betapa capeknya naik kesini. Biarpun warga lokal pasti punya jalur khusus, tapi kan tetap aja.

20141027_130852.jpg

Puas berfoto, Rekta mengajak kami kembali. Aku sempat penasaran dengan pemandangan dibalik lorong pepohonan itu. Akhhh, kapan bisa ke Semeru lagi? Semoga kami masih bisa berjodoh, aamiiin.

Perjalanan turun, kami lebih riang dan banyak foto-foto di sepanjang jalur.

IMG-20141030-WA0038.jpg

Drama dimulai ketika Yosrine seperti mendengar suara Alfi berteriak, dan dia dengan wajah menahan takut ikut Rekta melewati Tanjakan Putus (karena baliknya jadi tanjakan, aku sebut aja begitu).

Mungkin Yosrine merasa bersalah karena nggak pamit sama Alfi, sedangkan hari ini jadwal mereka turun gunung. Dan ternyata, Alfi nggak ada di atas.

IMG-20141030-WA0025.jpg

Sampai di atas Tanjakan Cinta, pemandangan bawah terlihat ramai. Ternyata setelah kami sampai tenda, ada Pendakian Massal untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda esok hari. Kami beruntung yak, padahal nggak disengaja lho.

Benar aja, begitu sampai Yosrine dimarahin sama Alfi, Rekta berusaha menengahi tapi tau kalau kondisi masih panas.

Aku dan Sheila hanya duduk ngedeprok di depan tenda sambil mendengar drama pertengkaran dua sejoli.

20141027_1502270.jpg

Emosi Alfi mulai mereda, dan mereka lanjut menginap semalam lagi karena hari udah sore dan perut kami mulai berbunyi, lapeeerrr. Sisa logistik kami makan bersama karena Alfi hanya membawa stok makanan untuk semalam.

20141027_163323.jpg

Langit mulai gelap, kami kembali tidur setelah perut kenyang. Drama hari ini pun selesai. Terima kasih untuk Rekta yang udah membawa kami sampai Jambangan. Bonusnya manis banget deh.

***

Selasa, 28 Oktober 2014

Sejak langitnya masih gelap, di luar udah berisik banget. Sampai tengah malam pun masih kedengaran suara orang nyanyi.

Aku bangun dan mengintip pemandangan luar yang masih gelap. Dan… Aku menemukan Ranu Kumbolo yang tampak magis di selimuti kabut.

IMG-20141028-WA00080.jpg

“Ta, Ta, Rakum ada kabutnya!!!” aku berteriak heboh sementara Rekta dan Sheila baru membuka mata.

Rekta ikut memandang luar, dan dia tersenyum. “Beruntung banget lu berdua. Dua malem di Rakum dapet sunrise sama kabut.”

Aku dan Sheila saling berpandangan. Rekta bilang, Ranu Kumbolo emang begitu. Jadi kalau ada sunrise, kabutnya nggak muncul. Sebaliknya juga seperti itu. Jadi… adakah yang lebih bahagia dari aku dan Sheila?

Aku langsung menarik Sheila untuk keluar tenda, serta memanggil Yosrine yang kebetulan udah siap foto-foto sambil bawa tongsis.

IMG-20141030-WA00240.jpg

Setelah lihat hasil foto ini, entah kenapa aku baru ngeh kalau aku cuma pakai sandal jepit tanpa kaos kaki. Pantes aja dingin banget. Macem kayak jagoan neon, padahal tadi pagi sampai ada butiran embun mirip es di atas tenda.

IMG-20141028-WA0005.jpg

Langit mulai terang dan suasana sangat ramai. kayaknya sebentar lagi bakalan ada upacara Sumpah Pemuda deh. Aku, Sheila dan Yosrine masih asik foto-foto, barulah balik lagi ke tenda.

Aku melihat banyak orang yang berbaris, tapi belum mulai upacara. Akhirnya Rekta meminta aku dan Sheila untuk mengambil air di tempat biasa. Nggak tau kenapa, aku risih kalau harus melewati keramaian gitu.

Karena mengambil airnya cukup lama, aku dan Sheila akhirnya nggak ikut upacara. Kami hanya mendengar instruksi dari depan sana, kemudian pembukaan, lalu pembacaan do’a dengan suara yang… Subhanalloh… Merduuu banget!

Buatku, Ranu Kumbolo pagi itu terasa syahdu.

Selesai mengambil air, aku dan Sheila berjalan di belakang barisan peserta upacara, lalu kami mendekat ke Rekta. Ternyata dia udah foto-foto, dan upacara juga udah mulai.

IMG-20141028-WA0011.jpg

“Kampret, bagus lagi tendanya!” Rekta mengumpat ketika lihat tenda berwarna hijau dan hitam pada foto tersebut diatas, yang memiliki teras luas. Posisinya sebelahan dengan tenda kami. Tapi sepertinya mereka baru datang semalam atau kemarin sore. Saat kami sampai di Ranu Kumbolo sih, mereka belum ada.

Selesai upacara, kami kembali ke dalam tenda dan masak untuk sarapan. Agak mager sih bebenah, tapi kami harus kembali ke Jakarta nanti sore. Dengan perut kenyang kami membersihkan tempat makan dan bebenah.

Sekitar pukul 08.00 WIB, kami berdo’a sebelum menyisir sisi Ranu Kumbolo. Dan Sheila berganti memakai sepatu Rekta yang biarpun kegedean juga tetapi terasa lebih nyaman daripada pakai sepatu sendal.

IMG-20141030-WA0006.jpg

Gunung rasa Pantai, aku menyebut Ranu Kumbolo seperti itu. Pasirnya yang putih, lembut, namun hawanya dingin karena memang Ranu Kumbolo berada di dataran tinggi.

Kami kembali melewati tanjakan tempat Sheila terkilir, lalu berhenti di dekat Pos 4, memandang Ranu Kumbolo dari ketinggian.

IMG-20141028-WA0026.jpg

Bagus kan???

IMG-20141028-WA0004

Buat yang hobi naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali, kayaknya wajib deh ke Semeru, paling nggak sekali seumur hidup.

Ya emang sih, saat pertama kali aku kesana, lagi musim kemarau. Debu dimana-mana, langitnya cerah, tumbuhan pada mengering. Sekedar info aja sih, kalau mau lihat view kayak gini, datang aja pada bulan Oktober. Kalau mau lihat pemandangan hijau seperti iniΒ Bertemu Lagi Dengan Semeru (Bagian 1)Β dan ini Bertemu Lagi Dengan Semeru (Bagian 2), maka datanglah pada awal tahun, maksimal sebelum bulan Juni. kalau menurut pengamatan aku sih begitu (sotoy lu Din, sotoy!!!).

Sepanjang perjalanan turun, banyak hal yang membuat aku sadar. Terutama tentang rasa saling menjaga. Aku akan mengulurkan tangan ketika Yosrine menahan tangis saat melihat tanjakan. Begitupun ketika aku melihat turunan, Yosrine akan mengulurkan tangan padaku.

Aku dan Yosrine terus berjalan hingga Rekta berteriak. “Tunggu, gue duluan yang turun!”

Ternyata di hadapan kami adalah turunan di sebelah Pos 3 yang curam banget itu. Nggak terasa udah sampai sini aja. Pantesan Rekta nggak ngebiarin kami berdua turun duluan. Dan aku super duper gemetar saat turun.

Kami terus turun, hingga sampai di Pos 2. Ketika aku dan Sheila menurunkan tas untuk beristirahat, ada Bapak Bapak (yang sepertinya Ranger Gunung Semeru) menatap kami heran. Kemudian berkata… “Iki baru jenenge anak wedok.”

Kami sempat bercanda dan mengobrol dengan Bapak Bapak itu.

“Capek ndak bawa tas gede gitu?” tanya si Bapak berjenggot.

“Capek lah Pak.”

“Mau tak bawain ndak? Atau kalau mau ndak capek, nanti biar tas Mbaknya tak bawain semuanya, ndak usah jalan kaki juga. Tapi ada syaratnya…”

“Apaan tuh Pak?”

“Mbaknya ilang dulu di Semeru, nanti tak evakuasi, hahahahaha.”

Lah, si Bapak bercanda ae.

“Nggak usah Pak, makasih. Kita berdua masih kuat gendong tas kok,” jawabku dan Sheila kompak, sambil ikut tertawa.

Selama melanjutkan perjalanan menuju Pos 1, kami balap-balapan dengan Bapak Bapak tadi. Lalu aku melihat rumah-rumahan kecil di ujung sana. Aku semakin mempercepat langkah, kemudian membeli semangka (akhirnya ketemu semangka lagi).

“Sheila, buruannn!!!” aku berteriak sambil menunjukkan semangka yang ada di kedua tanganku.

Kami istirahat sambil duduk di batang pohon dan nyemilin semangka. Saat duduk itu, aku sebelahan dengan seorang laki-laki berkacamata hitam. Badannya tinggi, tegap, berhidung mancung, senyum yang manis.

Duh… Bang, neng lemah kalau lihat yang model begini.

Aku lagi asik menikmati pemandangan disebelah, sampai ada beberapa laki-laki yang mendekat ke arahku. Kemudian mereka berkata… “Misi, boleh foto bareng nggak?”

Alisku mengeriting. Etdah, dikata artis kali!

Belum sempat aku menjawab, Sheila dan Rekta udah sibuk berteriak. “Iya bang, ajak foto aja. Sekalian minta nomor hapenya juga gapapa. Jomblo kok dia!”

Aku menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan setajam silet dan memiliki arti ‘LU BERDUA MAU GUE BACOK ATAU GUE CEBURIN KE KAWAH?!’.

Tapi tetap aja aku ikut mereka foto. Cuma dua kali klik sih. Pas aku foto itu, si abang ganteng entah siapa namanya itu pergi dari situ. Yah…

Selesai foto dan membayar semangka, aku mengambil tas yang aku taruh di dalam rumah-rumahan.

“Iki air minum Mbak bukan?” tanya Bapak berjenggot yang entah sejak kapan muncul lagi disini.

“Bukan kok Pak, saya nggak tau itu punya siapa,” kataku heran.

“Jelas bukan punya Mbak, lha wong iki minumanku, hahaha.”

Hadeh, si bapak ngajk bercanda lagi.

Kami kembali berpamitan pada semua yang sedang beristirahat disitu. Berjalan terus, sampai melewati Pos 1. Perjalanan turun terasa menyenangkan hingga kami sampai di jalur dekat perkebunan warga. Kemudian Gapura Selamat Datang menyapa kembali.

IMG-20141030-WA0012.jpg

Rekta dan Alfi ke Pos Ranu Pani, laporan kalau kami udah turun gunung dengan selamat. Sedangkan aku, Sheila dan Yosrine saling berpelukan. Kami bertiga amat sangat terharu begitu mengingat apa aja yang udah kami alami, dan ternyata Tuhan Maha Baik, kami bisa sampai lagi di Ranu Pani tanpa kekurangan apapun.

Tanpa berganti pakaian, kami segera mencari truk sayur yang mengantarkan Yosrine dan Alfi saat berangkat. Ternyata menyewa truk sayur jauh lebih murah, tapi sepanjang jalan ya begitu, kami sibuk menutup wajah dengan kain apapun yang ada. Mentereng banget mataharinya.

Pasar Tumpang masih ramai. Kami berganti pakaian disana dan bersih-bersih. Karena jam keberangkatan kereta udah mepet, kami segera naik angkot menuju Stasiun.

Aku, Sheila dan Rekta duduk sebaris, di depan kami ada segerombolan laki-laki. Dan begitu kami menoleh ke belakang, kebanyakan adalah Pendaki yang baru turun dari Semeru juga. Didepan kami ada Azmi dan teman-temannya. Si Azmi ini, adalah orang pertama yang bilang kalau aku mirip Nikita Willy (yaelah, muncul lagi ini nama). Padahal wajahku saat di kereta itu udah kebakar dan gosong karena habis berjemur di Semeru dan truk sayur.

Di seberang kami, ada perempuan berambut bondol yang kesan awal sombong tapi lama-kelamaan mulai banyak bercerita, namanya Selfi. Lalu di depan Selfi ada segerombolan Bapak Bapak okem, ada yang panggilannya Bang Ateng. Lalu banyak lagi.

Kami mulai saling bercerita tentang pengalaman di Semeru, dan saling bertanya tinggal dimana, kegiatannya apa, juga saling berbagi pengalaman.

“Nih ya gue bilangin, kalau di gunung itu jangan sombong. Jangan pernah yang namanya menentang alam. Temen gue aja, yang udah berkali-kali ke gunung, bisa nyasar dan meninggal disana.”

Bang Ateng menceritakan kejadian yang dialami oleh temannya di Gunung Ciremai, sewaktu si Azmi mulai agak sombong. Dan sejak saat itu, aku rada takut untuk ke Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

***

Rabu, 29 Oktober 2014

Pagi menyapa, pemandangan masih berupa sawah. Dan begitu kami semua melek, kami kembali melanjutkan perbincangan.

Hingga kereta memasuki Jakarta, kemudian masing-masing turun sesuai dengan Stasiun tujuan mereka. Sedangkan aku, Sheila, Rekta dan Selfi turun di Stasiun Pasar Senen. Kami bertiga berpamitan dengan Selfi, dan kembali ke rumah Rekta di daerah Tanah Abang.

Aku dan Sheila menyenderkan tubuh sambil selonjoran, kemudian Amih (Ibunya Rekta) muncul dan meledek kami. Setelah ke rumah Sheila (rumah Sheila dan Rekta jaraknya nggak terlalu jauh), aku naik ojek menuju rumah dengan muka dekil.

Sampai di rumah, Ibu mulai heboh dan menatapku horor. “Dek, kamu abis naik gunung?” tanya Ibu.

“Emn… Iya,” jawabku sambil cengengesan.

Masalahnya adalah, sewaktu pamit diawal aku hanya bilang mau kemping di danau, tapi nggak cerita kalau danaunya di ketinggian 2000-an mdpl karena takut nggak dibolehin.

Aku baru sadar ketika melihat dp whatsapp yang aku ganti sewaktu di kereta kemarin. Pantesan Ibu tau, kan di whatsapp itu aku temenan sama saudara sebelah rumah. Oneng amat sih lu, Din!

Dan malam itu aku berkali-kali dicubit sama Ibu karena bohong. Dicubit, tapi sesekali di pijetin Ibu juga, mungkin Ibu kasihan. Makasih ya Bu Yani cantik πŸ™‚

***

Capek ya bacanya?

Panjang ya?

Iya tau, maaf ya kalau kepanjangan. Tapi aslinya emang panjang begini ceritanya. Dan ini penting karena ini adalah pendakian pertamaku. Jadi wajarlah ya kalau masih rada oneng dan penuh drama.

Sebenarnya ini cerita versi lengkap dari tulisan ini 5 Sifat Menyebalkan Pada Pendakian Pertama. Dimana-mana yang namanya ‘Pertama’ emang selalu berkesan ya. Makanya tulisan ini dibuat dengan sepanjang-panjangnya (alasan!).

Oke, selamat hari Rabu dan semoga bisa ngerasain naik gunung juga buat kalian-kalian yang kepingin naik gunung tapi belum kesampain sampai sekarang. Semangat ya!!!

Advertisements

29 thoughts on “Pertama Kali Bertemu Semeru

  1. Aku baca ini tiga sesi, saking panjangnya mbak. πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ih, tapi seruu. Berasa nostlagia lagi.

    Itu semangka 10.000 per 4 biji pasti tebelnya sesenti. Wkkwkw.

    Oh ya mbk, bapak2 yg tadi itu kalau blh tahu bapaknya kecil rambutnya gondrong ga ? *penasaran karena disebut ranger.

    Like

  2. Panjang banget tapi habis dibaca. Keren banget sih din, salut sama perempuan perempuan kuat yang mendaki gunung gitu, ngebayanginnya aja udah serem, apalagi kalau mendaki beneran 😫

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s