Cerita Pagi

Idul Adha 4 Tahun Yang Lalu

20131013_165314.jpg

“Dek, kayaknya kita pernah mudik pas Lebarah Haji deh. Kapan ya?” tanya Bapak sewaktu nganterin aku berangkat kerja, hari Kamis kemarin.

Aku mencoba flashback, owh… sepertinya aku ingat.

“Iya pernah, pas Almarhumah Lek Was meninggal…”

Lalu suasana motor jadi hening seketika.

Adakah yang lebih sendu selain mengingat salah satu kenangan menyedihkan didalam hidup?

***

Jum’at, 11 Oktober 2013

Malam itu, aku ketiduran di kamar atas dan merasa sedikit pusing karena sejak kemarin mendengar berita kalau Lek Was (adik Ibu yang tinggal di Desa Kepuh Sari, Wonogiri) tiba-tiba sakit.

Penyebabnya nggak terlalu jelas. Yang pasti kemarin sore setelah pulang ngarit (mencari makan untuk ternak) di alas, Lek Was didapati seperti gejala kejang oleh warga yang juga sedang berada di alas.

Lek Tik (adik perempuan Lek Was) yang tinggal di Desa Pijiharjo pun langsung kesana dan membawa Lek Was ke Klinik, lalu di oper ke RSUD Wonogiri. Maka, sejak kemarin pula keluarga yang di Jakarta terus menerus menghubungi Lek Tik.

Setelah dibawa ke RSUD, kondisi Lek Was mulai membaik, tapi tadi pagi Lek Tik mengabarkan kalau Lek Was sempat berontak ketika ditangani oleh Dokter. Kebetulan juga, Lek Nok (adik laki-lakinya Ibu) yang tinggal di Bekasi sedang dirawat di Rumah Sakit Cikini karena penyakit ginjalnya lagi kambuh.

Kami semua panik, kami semua sedih, hingga… Satu panggilan dari Ibu membuyarkan semuanya.

“Dek…” kata Ibu sambil duduk disebelahku.

Aku membuka mata dengan kepala yang masih sakit. Kemudian tiba-tiba merasa sedih setelah melihat mata Ibu. Ya Alloh… jangan 😦

“Lek Was, dek…”

Aku pun memeluk Ibu sambil terisak. Kembali teringat kejadian beberapa hari lalu sebelum ada kabar kalau Lek Was sakit, saat Ibu ngomel-ngomel karena nasi yang dimasak lembek dan nyaris basi, padahal nasi itu baru beberapa jam dimasak. Katanya, kalau nasi cepat basi, tandanya ada keluarga yang akan sakit atau bahkan meninggal dunia.

Semua keluarga yang di Jakarta saling berkomunikasi. Dan diputuskan bahwa malam ini kami akan pulang kampung, setelah mengambil mobil di Bekasi.

Sedangkan Lek Nok yang masih dirawat, merengek ke Dokter bahwa ia harus ikut pulang kampung! Ia mau mengantar kakaknya untuk yang terakhir kali, biarpun kondisinya masih belum stabil.

Tengah malam, kami semua berkumpul di Bekasi. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri dengan hati yang semuanya kacau balau.

Sepanjang perjalanan, aku hanya memejamkan mata sambil menutupnya dengan handuk ketika mengingat Lek Was. Karena biar bagaimanapun, para Orang tua di mobil ini tentu lebih merasa sedih daripada aku.

Lek Was adalah sosok perempuan yang ceria, hangat, dan agak tomboy.

Lek Was adalah adik Ibu yang nomor 2. Sedangkan Ibu adalah anak ke-5 dari 9 bersaudara.

Lek Was punya wajah dan tubuh yang mirip dengan Ibu sewaktu mereka masih muda. Jadi kalau mudik  pas SD dulu, aku sering salah peluk orang dari belakang.

Lek Was yang biarpun adik Ibu, tapi uban dirambutnya lebih banyak dari Ibu. Ia nggak pernah mau mengecat rambut, ia hanya menutupnya dengan dalaman kerudung ketika berada di rumah.

Lek Was punya hobi main voli dari SD sampai sekarang, dan aku ketawa ngakak sewaktu 17 Agustus-an (entah tahun berapa), Lek Was bersama tim melawan suaminya dan juga tim, lalu main bola voli dengan net yang ditutupi oleh karung. Kebayang dong gimana susahnya karena bola nggak akan terlihat datang dari arah mana. Lucunya permainan di Desa.

Lek Was suka naik sepeda anaknya kalau lagi ke rumah tetangga. Dan ia suka banget ninggalin itu sepeda di perempatan jalan, sedangkan ia melanjutkan ke rumah tetangga dengan berjalan kaki.

Lek Was selalu menunggu kami semua di depan rumahnya ketika tau kami akan mudik, dan dia yang selalu memeluk kami hangat sambil mencium pipi meskipun kami udah besar.

Lek Was kadang menyiapkan kembang api ketika kami datang, dan menyalakan api-nya di sebuah benda yang fungsinya menyerupai lilin agar kami nggak capek bolak balik menyalakan korek api.

Lek Was selalu membuatkan makanan untuk kami semua ketika pulang kampung. Dan yang paling rajin membantu pekerjaan rumah.

Lek Was yang selalu menemani kami ke toilet belakang rumah ketika malam, ia bilang nggak usah bangunin Mama, kasihan Mama pasti capek.

Lek Was selalu menyimpan rapi semua pakaian yang diberikan kakak kakaknya hingga sebanyak lemari besar.

Lek Was yang selalu menemani kami semua mendaki bukit di sekitar rumah Mbah, dan dengan semangat memanjat pohon untuk memetik buah Duwet (kalau di Jakarta sebutannya Jamblang), serta menepuk-nepuk punggungku ketika aku menelan biji buah itu (karena aku kira bijinya sekecil buah anggur, jadi langsung aku telan aja itu buah).

Lek Was yang begitu senang sewaktu diminta memelihara sapi untuk kurban tahun ini. Dengan semangat ia ngarit demi makan si sapi, yang katanya selalu teriak-teriak minta makan kalau lihat wajah Lek Was. Nyaris setiap hari Lek Was menelepon Ibu atau tante sebelah untuk bercerita tentang sapi.

Lek Was yang ternyata pergi lebih dulu, beberapa hari sebelum sapi yang ia pelihara dengan penuh kasih sayang menyelesaikan tugasnya sebagai hewan kurban.

***

Sampai di kampung, pemakaman Lek Was udah selesai. Aku sempat merasa asing ketika nggak ada lagi sosok yang menyambut kami di depan rumah.

Paginya kami mengunjungi makam Lek Was, serta ziarah ke makam yang lain karena memang berada di satu area.

Ketika membuka pintu samping, mataku tertuju pada kandang yang berada di belakang rumah. Aku pun berjalan ke arah sana. Ada seekor sapi, yang sedang terdiam dan nggak berisik sama sekali. Padahal Almarhumah bilang kalau sapi ini bawel.

20131013_114437

Di sekitarnya nggak ada rumput hijau, pasti dia lapar. Aku pun mengambil beberapa rumput yang ada di sebelah rumah Mbah dan memberikan pada sapi. Dia melahapnya dengan cepat namun tanpa mengeluarkan suara berisik.

20131013_160603.jpg

Keesokan harinya kami pergi ziarah ke makam Almarhum Om, kemudian berkunjung ke rumah Mbah Jaminem (Ibunya Om). View yang terlihat sebelum sampai di Desa Sumberejo adalah foto diatas. Bagus ya.

 

Selesai ke Desa Sumberejo, perjalanan dilanjutkan kembali menuju rumah Mbah Rejo untuk mengantarnya semuanya pulang. Sementara sorenya aku, Ibu dan Bapak membawa mobil Lek Nok ke Desa Ponjong di Gunung Kidul untuk menginap di rumah Bapak. Rencananya lusa setelah Sholat Eid, kami kembali lagi ke Kepuh Sari untuk melihat proses pemotongan hewan kurban.

20131014_050610.jpg

Pagi hari, aku berjalan-jalan di tengah sawah. Pemandangan disini emang hijau, beda dengan pemandangan di kampung Ibu yang tandus karena jarang air.

Siang hari, kami bertiga keliling rumah Mbah yang lain untuk bersilahturahmi. Ini bagian yang kadang bikin sedih, karena ada sebagian Mbah yang udah mulai lupa. Tapi ada satu Mbah yang ingat kalau aku anaknya Bapak Mijo (padahal Mbahnya lupa sama si Bapak). Katanya cuma aku yang kulitnya berwarna kuning (mungkin maksudnya nggak se-hitam orang kampung sana kali yak).

Begini deh jadi anak yang tinggal di Kota. Suka malas kalau diajak mudik, padahal setahun sekali doang. Kadang aku merasa terlalu banyak kerjaan lah, sibuk lah, tapi ketika melihat para Orang Tua di kampung, semuanya luruh. Yang tersisa cuma rasa egois yang tinggi. Mumpung Mbah masih pada sehat, begitulah kalimat yang selalu diucapin Ibu dan Bapak tiap mengajak anak-anaknya mudik.

Selesai Sholat Eid, kami kembali lagi ke Desa Kepuh Sari.

Aku suka perjalanan dari Wonosari – Wonogiri, jalannya berkelok-kelok dan dihiasi pemandangan hijau. Biasanya Bapak lewat jalur Semin kalau kesana. Dan ditengah-tengah antara kampung Ibu dan Bapak, terdapat tempat wisata Goa Pindul yang hits banget itu.

Akhirnya, sapi menyelesaikan tugasnya. Nggak ada amukan atau suara berisik sapi. Sesaat setelah direbahkan, sapi hanya menangis. Mungkin ia bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Almarhumah Lek Was.

Sehari setelah lebaran, kami pun kembali ke Jakarta. Sesekali di mobil kami tertawa ketika mengingat kembali kelakuan Lek Was yang terkadang lucu. Meskipun dalam hati, aku tau bahwa mereka akan amat sangat merindukan satu sosok itu, sama sepertiku.

***

Maaf ya kalau edisi Idul Adha malah sedih begini.

Cuma kenangan yang satu itu tiba-tiba aja muncul tanpa bisa aku tahan. Karena pada dasarnya, selain lihat hewan kurban disembelih, ada satu cerita lain yang bikin hati aku sedih tiap mengingat Idul Adha.

Semoga kita semua selalu dilimpahkan kebaikan dan keberkahan. Selamat Idul Adha bagi yang merayakan. Selamat liburan untuk semua 🙂

Advertisements

13 thoughts on “Idul Adha 4 Tahun Yang Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s