Cerpen

#Cerpen: Satu Hari di Bulan September

20160504_064743

Sejak sore tadi, jantungku terus berdetak kencang membayangkan apa yang nanti malam akan terjadi. Sungguh, aku merasa takut.

“De, jadi nggak?” tanya Arlin via telepon.

Aku hanya menghela nafas, kemudian menjawab lirih. “Iya, jadi. Emang lu udah telepon tante?” aku balik bertanya.

“Udah kok. Kata tante barusan dia pergi naek motor, makanya tante minta kita kesana sekarang.”

“Oke, kita kesana.”

“Awas lu yak kalau dandannya lama! Abis maghriban gue samper. Inget, nggak pake lama!!!” Arlin yang paham dengan kebiasaanku mulai protes. Padahal wajar kan kalau perempuan dandannya lama.

Jantungku kembali berdetak kencang. Adzan maghrib berkumandang. Aku pun segeraΒ  mengambil air wudhu, kemudian sholat serta beberes dan sibuk memakai lotion (yang sebenarnya nggak terlalu bermanfaat karena nggak ada sinar matahari ketika malam) serta memakai parfum, hingga satu teriakan kencang menggema dari luar rumah.

“Assalamu’alaikum, Deaaaaaa!!!”

“Dek, itu si Arlin udah nyamper. Buruan!” Ibu berteriak dari ruang tamu.

Aku dan Arlin pamit ke Ibu, bilang kalau mau main ke rumah Tania. Aslinya, kami berdua memang mau menemui Tania, tapi bukan di rumahnya. Melainkan di rumah orang itu. Orang yang udah membuat aku dan Arlin pusing tujuh keliling.

“Lama banget kan lu dandan!” omelan Arlin seperti suara petasan, berisik.

“Iya, iya, maaf,” kataku sambil nyengir lebar.

Arlin melajukan motornya ke arah rumah yang kami tuju. Arlin tau letaknya, karena ia pernah mengantar Tania kesana, sekali. Sedangkan aku baru pertama kali kesana, itu juga dengan rasa takut yang teramat sangat.

Terbayang kejadian yang beberapa minggu ini menyiksa kami berdua. Ketika mendapati bahwa Tania, sahabat kami sejak kecil bertingkah aneh. Aku, Arlin, Tania dan Nanda sudah berteman sejak kecil. Kami satu sekolah sejak TK – SMP. Barulah saat SMA, kami berpencar. Namun itu nggak membuat kami berpisah. Nyaris setiap Sabtu malam kami main bareng. Apalagi semenjak mereka bertiga bisa mengendarai motor.

Semuanya berjalan normal-normal aja.

Sampai saat lulus SMA, Arlin nggak sengaja menemukan kejanggalan pada diri Tania. Arlin ngegepin Tania sering chatan dengan seseorang, kadang mengeluarkan uang demi membelikan benda-benda untuknya. Sialnya, seseorang itu adalah wanita!

Kenapa aku bilang sial, karena itu menunjukkan kalau Tania seperti memiliki kelainan. Padahal saat SMA dulu, Tania sama seperti kami, kadang bercerita tentang teman laki-lakinya. Tapi kenapa sekarang seperti ini?

Arlin yang nggak tahan memendam cerita itu sendiri pun, langsung menceritakan kecurigaannya padaku. Nanda kami skip karena kami tau bahwa ia orang yang berisik, bisa-bisa satu RT tau tentang masalah Tania.

Lalu aku dan Arlin main detektif-detektifan.

Kami menanyakan teman-teman sekolahnya. Bertanya tentang segala keanehan yang terjadi dirumahnya pada Tante (Ibunya Tania). Memang sih, belakangan ini rumah Tania seperti memiliki keanehan yang sulit dinalar. Kadang muncul boneka berbentuk aneh dari dalam laci, kadang seperti ada bisikan menggema. Dan begitu mendapati kalau apa yang kami duga benar adanya (tentang hubungan Tania dan wanita itu), kami merasa kalau ini mungkin ada hubungannya dengan hal-hal magis.

Sungguh, wanita bernama Diana itu minta dicekik!

Puncaknya, tadi sore Tante telepon Arlin sambil menangis. Meminta tolong pada kami berdua untuk membawa Tania pulang dari rumah wanita itu.

Cerita yang rumit ya?

Begitulah.

“Eh, ini bukan ya gang rumahnya?” tanya Arlin saat kami berhenti di depan gang yang nggak terlalu besar.

“Ih, mana gue tau. Kan gue belom pernah kesini.”

“Ya udah kita belok sini, pede aja dulu. Kalau salah ya tinggal puter balik, wkwkwk.”

Arlin memarkirkan motornya pada tanah kosong di depan rumah berpagar hijau. Mataku mencari sosok Tania, dan aku menemukannya sedang duduk dipojok tembok, dengan wajah dan mata yang memerah.

Aku dan Arlin berjalan ke dalam teras rumah itu. Nafasku memburu, menahan kesal melihat Tania menangis demi wanita yang saat itu sedang bersama prianya. Ya, Tania seperti orang bodoh yang selama ini hanya dimanfaatkan oleh Diana!

“Ngapain sih lu kesini? Ayo balik,” Arlin berbicara dengan nada lembut.

Tania mulai menangis kencang dan berteriak dengan nada terisak. “Gue mau minta dia tanggung jawab Lin, gara-gara dia Bokap gue sampai sakit vertigo!” ujarnya sambil menunjuk Diana.

Ayahnya Tania sakit beberapa waktu lalu, dan hasil pemeriksaannya adalah terkena penyakit vertigo. Tania menganggap bahwa penyakit yang diderita ayahnya berasal dari pikiran, yaitu pikiran tentang hubungan antara Tania dan Diana.

“Tau tuh temen lu, ajak pulang gih sana!” usir Diana dengan wajah judes sambil berdiri di sebelah prianya.

Aku yang awalnya tenang, kini nggak bisa menahan amarah! Diana adalah wanita paling jahat di jagat raya ini. Setelah dia mendekati Tania, meminta dibelikan barang-barang mahal dengan hanya bermodalkan kasih sayang palsu (atau entah apa sebutannya), kini ia mengusir Tania dengan kalimat seperti itu. Seolah selama ini Tania lah yang memiliki kelainan dan mengejar Diana.

“Ayo pulang!” aku mengajak Tania dengan suara tertahan.

“Enggak!” Tania masih bersikeras.

“Tuh tuh, bawa deh tuh temen lu!” Diana kembali mengoceh.

“DIEM LU!” aku membentak Diana dengan suara nyaring.

Seketika teras rumah itu terasa sepi, hanya ada isak tangis Tania yang terdengar dan Diana yang masih memasang wajah menyebalkan. Semua mata terlihat melebar, mungkin terkejut karena bentakanku barusan.

“AYO PULANG!” aku menarik tangan Tania dan kembali berteriak.

Banyak orang yang mengatakan kalau seseorang yang ceria dan terlihat jarang marah, akan amat sangat menakutkan ketika sedang marah sungguhan. Dan aku adalah contohnya. Semua ini terjadi karena aku udah tidak tahan dengan perbuatan mereka berdua.

Akhirnya Tania menurut. Ia berhenti bicara dan ikut ke luar rumah itu. Karena aku dan Arlin takut Tania melakukan hal-hal bodoh seperti menabrakkan diri ke truk yang melintas, atau sengaja menyerempet motor orang lain, maka diputuskan kalau balik ke rumahnya aku membonceng pada Tania.

Mata Arlin terus mengawasi kami berdua, sedangkan aku udah pasrah. Jika memang Tania mau bertindak bodoh dengan menabrakkan motor, semoga hanya betisku yang lecet, jangan dengkul, karena kalau dengkul yang lecet lama sembuhnya.

Sesampainya di rumah Tania, ia langsung masuk ke dalam kamar. Sedangkan Tante memandang aku dan Arlin dengan tatapan ingin tahu. Sayangnya kami berdua udah lelah dengan drama malam ini.

“Makasih ya,” ucap Tante dengan mata memerah.

Kami berdua mengangguk, kemudian pamit kepada Tante dan Om.

Arlin berkata lirih saat mengantarku pulang yang jaraknya hanya 2 menit dari rumah Tania. “De, kira-kira Tania bisa sembuh nggak? Kok barusan kita horor banget sih.”

Aku mengangkat bahu. “Semoga aja ya.”

“Aamiiin.”

***

Huweeeeeew…

Alhamdulillah ya bisa bikin cerpen lagi. Temanya apaan din? Alurnya apaan sih din? Duh, aku juga bingung ini masuk kategori apaan, wkwkwk.

Maaf ya kalau tulisannya kacau balau dan alurnya aneh. Aku mah suka gitu, bikin cerpen tapi isinya suka-suka, sesuai sama apa yang lagi dipikirin saat itu juga.

Oh iya, semua tokoh di atas bisa berupa fiksi maupun nyata, kalau ada yang mengalami kejadian serupa… Jangan-jangan kamu adalah dia?

Advertisements

20 thoughts on “#Cerpen: Satu Hari di Bulan September

  1. Wah ceritanya ngambang. Kayak belum selesai sepenuhnya nih cerpen. Kirain bakalan dibalik dan bukan lesbian. Entahlah karena soal apa gitu sehingga semua orang salah paham. πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s