Buku

Labirin Tanpa Jalan Keluar, Akhirnya!

WhatsApp Image 2017-10-22 at 6.15.30 PM.jpeg

Sejak mengikuti blog-nya Bun Ida, aku selalu suka sama tulisan Beliau. Entah kenapa, menurutku Beliau adalah sosok Momi yang keren! Romantis iya, tegas iya, kadang bisa lebih childish daripada anaknya (mungkin ketika lagi galau, tapi ini cuma kesotoyoan aku sih, maafkan kalau salah).

Dan ketika suatu hari aku lihat tulisan yang berjudul ‘Ngaji ala Mas Nuchid’, tingkat ke-kepo-an aku langsung meningkat. Semacam ada jaminan kalau karya itu pasti bagus!

Aku terus kepo dan mencari siapakah sosok Mas Nuhid. Begitu dapat blognya, aku baca perihal buku tersebut, Labirin Tanpa Jalan Keluar. Ternyata oh ternyata, nggak diterbitin di Indonesia. Pantas Bun Ida bilang kalau ia baca lewat e-Book.

Sayangnya, aku tau hal tersebut di tanggal 13 Oktober, sehari setelah tutupnya tanggal permintaan e-Book via email. Iseng aku komen ‘Kang, mau juga’, sebuah kalimat ngarep-ngarep mana tau beruntung. Tapi nggak maksa, karena aku tau kalau aku harus mengikuti peraturan yang ada.

Yowis lah, lagian Mas Nuhid bilang kalau ia akan mengeluarkan buku baru. Dan aku pun sempat memberi ide agar bukunya dicetak ulang lagi aja, kalau bisa dijualnya paketan sama buku baru biar irit ongkir, wkwkwk (dasar perempuan nggak modal).

Sabtu pagi kemarin, aku ketemu lagi dengan ulasan Labirin Tanpa Jalan Keluar, kali ini dibuat oleh Kak Ikha. Setelah komen di pagi hari, siangnya aku sibuk main panas-panasan di daerah Sarinah, nungguin Bus Double Decker. Ternyata pas siang itu ada yang membalas komenku di tulisannya Kak Ikha. Namanya Nuhid. What! Mas Nuhid kan pengarangnya.

Dan… Mas Nuhid beneran ngirimin e-Book itu ke alamat email yang aku cantumin di komen. Alhamdulillah ya, rezeki malam minggu.

Malem minggu mulai baca sampai tengah malam. Minggu pagi dilanjut lagi, sempat kepotong buat nonton kartun Doraemon. Siangnya lanjut baca lagi sampe ketiduran. Sorenya aku berhenti karena mau main ke Pasar Santa yang lagi ada pembukaan Kedai Kopi Guyon kedua, dengan nama Jingga Toko Kopi. Dimana tempatnya seperti gambar diatas itu, yang ada e-Book Labirin Tanpa Jalan Keluar. Yang tinggal atau main dekat Pasar Santa, boleh kakak mampir 🙂

Berhubung aku main di Pasar Santa sampai tokonya tutup alias nyaris tengah malam (dengan maksud biar pulangnya diantar sama Kang Garem), sampai rumah aku pun ketiduran dan baru menyelesaikan bacaan itu pada Senin siang.

***

Labirin Tanpa Jalan Keluar

Memahami Nukid (tokoh utama di e-Book itu), sama aja kayak main tebak-tebakan, dan berakhir dengan… bikin sakit kepala.

Mumet!

Tapi asyik!

Bagian yang ndak begitu aku suka…

Meskipun bacanya asyik dan beneran terasa kayak lagi belajar mengaji, kelak kalau jadi Orang Tua (berandai-andai aja dulu), mungkin aku akan memberikan buku ini ketika anakku udah lulus SMA karena di dalamnya terdapat beberapa kalimat yang menurutku rada-rada gimanaaa gitu, bikin muka panas (pokoknya untuk 18++). Padahal udah dibingkai dengan kalimat yang sopan sih menurutku. Tapi tetap aja…

Bagian yang paling aku suka…

1.   Air Mata Tidak dari Mana-Mana

“Kas, air mata tidak dari mana-mana. Air mata itu dari
mata. Penyingkap segala rahasia. Dan, Tuhan Maha Bijaksana
atas segala.” – Nukid

Sesuai judulnya, saat baca ini air mataku merembes nggak karuan. Karena bicara tentang kehilangan, pasti setiap orang pernah merasakannya. Dan ada beberapa orang (atau malah semuanya?) punya feeling ketika orang terdekatnya pergi. Jangankan orang terdekat, kadang sama tetangga aja aku kayak punya semacam feeling. Entah lewat mimpi gigi tanggal atau senyuman yang terakhir diberikan ketika aku lewat.

Ya begitulah kira-kira.

Intinya, perasaan dalam cerita ini mengingatkanku pada kenangan disaat kehilangan orang-orang terdekat.

2.   Pernikahan Bukanlah Pembuktian Cinta

Pernikahan itu bukan main-main. Suami wajib menafkahi
istrinya lahir batin. Lah, kalau yang rokok saja masih njoin,
koreknya dapet minjem nggak dibalikin, lalu menjalin
pernikahan, mau dikasih makan apa istrinya? Memangnya
cinta bisa membuat kenyang?

Mungkin karena cinta nggak bisa dikunyah dan bikin kenyang, makanya sering ada ungkapan ‘Makan tuh cinta!’ untuk orang-orang yang sedang dimabuk cinta.

Tapi emang bener, kalimat ‘Aku Cinta Kamu’ kalau lagi laper nggak ada artinya dibandingin sama seporsi nasi goreng, ketoprak, roti bakar, atau apalah sesuai sama makanan kesukaan masing-masing.

Aku menemukan beberapa contoh nyata dari yang Mas Nuhid tulis tentang pernikahan itu. Suami wajib menafkahi istrinya lahir batin. Tuh, udah jelas kan! Nikah itu ribet. Harus punya ilmu, duit. Mau akad ngundang Pak Penghulu, butuh duit. Mau resepsi mewah atau sederhana, butuh duit. Selain nabung untuk acara, sesungguhnya biaya yang paling besar adalah setelahnya. Untuk jaga-jaga kalau istri melahirkan, kalau anak atau istri sakit, sekolah anak. Maka dari itu, sebelum nikah ya nabung dulu. Siapkan apa yang perlu dipersiapkan. Pelajari apapun yang harus dipelajari. Dekati dan sayangi orang-orang yang kelak akan menjadi bagian keluargamu.

Menabung berlaku bukan hanya untuk laki-laki. Kalau menurutku, perempuan juga penting untuk menabung. Kita nggak bakal tau ya di masa depan ada kejadian apa yang menimpa kita, jadi anggep aja itu untuk jaga-jaga. Lagian sebagai perempuan, pasti akan punya pemikiran ‘Untuk Ibu dan Bapak’ sampai kapanpun.

Betapa menyedihkan lihat anak zaman sekarang yang baru lulus sekolah udah minta dinikahin. Lakinya belum kerja, makan masih minta sama Orang Tua, tinggal numpang di rumah Orang Tua, ya gitu deh.

Eh tapi eh tapi eh tapiiiiiii… Buat yang tabungannya udah cukup, atau sekiranya udah siap menikah, ya segeralah menikah! Jangan jadikan tabungan untuk menunda. Toh uang juga nggak bisa membuat waktu yang terbuang kembali lagi.

3.   Rohayya dari Rohingya

“Mending tuku sate timbang tuku weduse
Mending gendaan timbang dadi bojone
Mangan sate ora mikir mburine
Ngingu wedus ndadak mikir sukete ….”

Rohayya, menurutku adalah salah satu tokoh yang penting dalam buku ini. Bahkan aku lebih tertarik pada perdebatan Nukid dengan Rohayya, ketimbang Dahlia.

Banyak perumpamaan (atau jawaban menyebalkan) yang Rohayya katakan pada Nukid, padahal ia hanya perempuan desa yang nggak memiliki pendidikan tinggi. Ia adalah gambaran perempuan korban lelaki yang mampu bertahan dengan pemikiran dan usahanya demi menghidupi anak-anaknya.

Pada cerita ini juga, pertama kalinya aku sadar kalau Nukid itu ‘agak aneh’. Dan tepat sesuai dugaan, wkwkwk.

***

Fiuhhh, kayaknya banyakan curhatnya ketimbang ulasannya. Maafkan, maafkan.

Tapi serius, bukunya Mas Nuhid ini keren! Ada banyak pelajaran di dalamnya. Merupakan e-Book yang paling cepat aku selesaikan (yaiyalah, dapetinnya susah, masa iya ngelarinnya lama).

Tapi dari semua kalimat panjang diatas, ada satu pertanyaan penting untuk Mas Nuhid…

Sebenernya penulisan namamu itu gimana toh Mas? Nuhid? Nuchid? Nukid?

Advertisements

23 thoughts on “Labirin Tanpa Jalan Keluar, Akhirnya!

  1. Saya jg telat mau minta ebooknya, krn sdh lama jarang buka blog dan kalau buka gak sempat baca2 postingan teman termasuk postingannya mas Nuhid dan mbak Ikha
    Tapi makasih ya mbak Dini, sebagian isinya sdh diulas di sini

    Liked by 1 person

  2. Din,kamu punya feeling ketika mau kehilangan seseorang?
    Aku juga kayaknya pernah kayak gitu.
    Dulu aku punya bos inisial “T”.Sehari sebelum bapak T meninggal aku sempat ketemu dia.
    Tapi ga sempat ngobrol cuma senyum aja,kira kira dari jarak 2meter.
    Tapi tiba tiba mukanya berubah jadi warna hitam semua.Aneh,tapi waktu kejadiannya siang hari.
    Aku takut banget pas ngeliat perubahan mukanya.
    Pengen cerita ke salahsatu temen kantor tapi ga berani.
    Sepanjang hari itu mulutku berasa dikunci.
    Besoknya dengar beliau meninggal karena serangan jantung.
    Sedih banget Din,dia tuh orangnya baik,suka becanda.
    Maaf kalo komennya panjang.

    Like

  3. Penulisan namaku di ijazah atau kartu pertanda berbeda-beda, baik yang ditulis dalam aksara Arab maupun Indonesia. Ada yang Nuhid, Nukhid, Nukid, Nuchid. Kalau Arab, ada yang Nuhīd (نحيد), ada yang Nūhīd (نوحيد), ada yang Nūhid (نوحد), ada juga yang Tauhīd (توحيد)
    Untung aku ndak punya cita-cita jadi PNS, jadi tidak terlampau galau.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s