Naik Gunung

Bromo: Sebuah Rencana Dadakan

CIMG1125.JPG

Jum’at, 07 Agustus 2015

Belum ada sebulan lalu, aku hanya berkata seperti ini ke teman kantor yang bernama Livana dan Rischa. “Ci, kayaknya Kawah Ijen bagus deh.”

Lalu, dengan gampangan Livana kepancing dan bersorak senang, serta membicarakan bahasan tentang Banyuwangi selama beberapa hari. ” OMG, kata temen gue kalo kesana tuh rasanya mau mati karena bau belerang!” jerit Livana dengan logat Inggrisnya itu.

Sehari ngomong ngeri, eh sehari kemudian mereka berdua malah mengajak aku untuk pergi kesana. Aku yang emang kepengan banget lihat Kawah Ijen pun setuju, tapi nggak nyangka kalau mereka bakal ngajak secepat kilat.

Hari ini ngajuin cuti, besoknya mereka udah pesen tiket PP untuk pesawat rute Jakarta-Surabaya, nggak sampai sebulan lagi. Dengan entengnya mereka bilang. “Donceee, lu udah kita pesenin tiket pesawat yak. Bayarnya nanti aja abis gajian juga boleh, wkwkwk.”

Dan disinilah aku berada, di dalam sebuah taksi yang membawaku dan Rischa dari kosan di daerah Tanjung Duren menuju Bandara Soetta. Jalanan masih relatif lancar, mengingat kami berangkat pada pukul 04.30 WIB.

Sampai disana, kami berdua janjian sama Livana dan antri bagasi bareng. Lebih tepatnya sih Livana yang antri, karena dia paling jagoan diantara kita.

Selesai memasukkan ransel, kami bertiga naik eskalator untuk menuju ke pesawat dengan lambang singa merah itu. Dalam pesawat masih rapi dan harum karena ini penerbangan pertama, dan aku diberi tempat duduk dekat jendela oleh kedua cici itu.

Aku pikir naik pesawat bakal semenakutkan apaaa gitu, ternyata biasa aja! Perjalanan yang memakan waktu 1,5 jam itu terasa biasa aja dan berlalu begitu cepat. Sampai mataku mulai mengantuk, justru 15 menit sebelum pesawat landing.

Akhirnya aku hanya menepuk pipi supaya nggak ketiduran. Sebelum mendarat, ada tetesan air yang membasahi jendela dan jalan dibawah sana. Surabaya menyambut kami dengan rintikan hujan dan langit yang berwarna gelap.

Berhubung kali ini judulnya jalan-jalan cantik (judul doang, muka mah standar) begitu sampai di Bandara kami udah dijemput oleh Bapak Supir yang sebelumnya telah kami hubungi. Dan saat kami masih menunggu tas kami datang, Bapak itu menelepon, tanda kalau udah sampai di depan.

Sewaktu meminta Bapak Supir, kami kira kami akan mendapatkan yang masih muda. Atau minimal yang masih om-om lah ya, eh ternyata si Bapak udah berumur. Mungkin sepantaran Bokap, tapi gayanya masih suka pakai celana pendek, hadehhh.

Oke, kalau masalah usia mah yaudah deh pasrah. Lah ini, pas kami baru naik mobil si Bapak curhat kalau belum pernah ke Banyuwangi. Jadi kami harus bagaimana???

Livana yang udah pasrah langsung buka aplikasi Waze untuk mendampingi Bapak nyetir. Sebenarnya Bapaknya tau kalau ke Banyuwangi harus lewat mana, tapi di Banyuwanginya nggak ngerti. Daripada kami nyasar yakan.

Karena diantara kami bertiga aku yang paling kecil (dari segi ukuran ataupun umur, biarpun nggak beda jauh sih), jadi aku yang dikorbankan untuk duduk di bangku depan buat nemenin si Bapak.

“Sudah pernah ke Bromo belum?” tanya Bapak.

Kami bertiga kompak menggeleng. Aku pernah ke Semeru, tapi waktu itu nggak sempat mampir Bromo. Sedangkan cici 2 ini emang belum pernah naik gunung atau explore Jawa Timur (kecuali Surabaya karena keluarga Livana ada yang tinggal disana).

“Ya udah, nanti tak mampirin Bromo dulu ya. Biar kalian bisa kesana sekalian. Mau ndak?” si Bapak menawarkan diri untuk mengantar kami ke Bromo.

KAMI SIH IYES!!!

Biarpun artinya… kami harus menambahkan waktu dan budget untuk ke Bromo. Yang tadinya budget udah dirinciin untuk jalan-jalan di Banyuwangi, eh ini nambah ke Bromo. Tau kan ya kalo ke Bromo itu mahal di sewa Jeep, wkwkwk.

Akhirnya kami memulai perjalanan dengan diiringi Waze. Bapak sih udah menyakinkan kami kalau dia paham rute mana aja menuju Bromo, tapi Livana tetap jaga-jaga.

Kami sarapan di sebuah restoran yang cukup sepi pengunjung (mungkin karena harganya yang rada mahal), lalu melanjutkan perjalanan dan melewati Tanggul Lumpur Lapindo. Baru kali ini aku lihat secara dekat.

20150807_083308.jpg
Tanggul Lumpur Lapindo

Entah berapa kota yang udah kami lewati. Kami sempat isi bensin juga, jajan juga. Lalu setelah beberapa jam perjalanan kami bertemu dengan pemandangan hijau. Katanya sih ini udah memasuki kawasan Bromo.

CIMG1102.JPG
Jalur menuju Bromo

Jalurnya berkelok-kelok, dan pemandangannya bagus deh. Jalan beraspal, pohon-pohon rindang, bukit-bukit.

Kami nyaris menyerempet motor ketika melewati jalan agak sempit sebelum belok kanan. Jadi pas di belokan itu ada bangunan yang bikin motor dari arah berlawanan nggak kelihatan. Untungnya Bapak cukup ahli menyetir, kalau enggak akan terjadi penyerempetan antara mobil dan motor di tikungan itu.

Selepas belokan, kebun sayuran milik warga setempat mendominasi pemandangan. Kalau lagi ketemu kebun sayur gini tuh, rasanya aku mau tinggal di desa terus bikin perkebunan. Pasti seru!

CIMG1114.JPG
Kebon sayur

Setelah melewati perkebunan, ternyata Bromo udah nggak terlalu jauh. PemandanganΒ  yang berupa bukit mulai terlihat dan aku senang!

CIMG1115.JPG
View sebelum gapura Selamat Datang

Sebuah Gapura terlihat di depan kami, si Bapak lalu menganjurkan kami untuk melapor ke sebuah bangunan yang memiliki loket karcis.

Untuk biayanya aku lupa berapa, tapi yang pasti sih untuk WNI kayak kami lebih murah ketimbang WNA. Kami membeli 3 tiket dan membayar parkir untuk mobil.

Bapaknya bilang, mau tunggu kami di parkiran aja. Ya udah, kami melihat pemandangan aja dulu, dari pinggir parkiran.

20150807_112503.jpg
View dari pinggir parkiran

Owhhh, ternyata Bromo tuh begini ini. Panas juga yak (lah pan emang perginya siang hari bolong neng, tampok nih!). Padang pasir yang luas ditambah debu berterbangan. Jujur, Bromo siang itu nggak secantik yang ada di Instagram.

Kami bertiga masih terpaku dan belum memutuskan pergi ke kawahnya atau enggak. Sebenarnya aku agak males sih, karena mataharinya lagi mentereng banget. Biarpun udah pakai lotion tetep aja. Kalau nggak inget Bromo itu jauh dari Ciledug, mungkin aku udah males.

Akhirnya kami berjalan ke arah kiri. Jalan yang cukup luas dan mengarah ke padang pasir itu. Kami penasaran sama di ujung sana, yang mungkin sebagai pintu masuk menuju padang pasir.

Saat kami baru mulai melangkah, ada Mas Mas yang menawari kami Jeep. Karena penawarnya kemahalan, kami memutuskan untuk jalan terus. Biasaaa, perempuan mah gitu, maunya dirayu. Kami jalan dikit, diikutin. Tapi harga sewa Jeep nggak mau kurang, gimana sih mas?!

Kesal karena kami nggak setuju dengan harga yang ditawarkan, Mas itu menyerah. Kami dapat harga 100.000/orang untuk PP. Ya namanya juga Jeep, semakin sedikit orang yang naik ya harganya semakin mahal.

Kamipun cuss menerjang padang pasir.

CIMG1119.JPG
Pemadangan dari dalam Jeep

Seperti biasa, aku yang selalu dikorbankan untuk menemani Pak Supir di depan. Ya nggak apa-apa juga sih, aku jadi lihat pemandangan dengan jelas. Meskipun beberapa kali pemandangannya dipenuhi sama pasir terbang.

Aku lihat ada orang asing yang berjalan kaki melewati padang pasir tersebut. Gila! Kuat amat kakinya! Padahal jalan di pasir kan lama, karena kadang bikin kaki terpendam. Juga matahari siang itu sedang panas-panasnya.

CIMG1121.JPG
Pura dan Gunung Batok

Kami sampai di dekat Pura, tempat semua Jeep berhenti. Ternyata perjalanan tadi sebentar, nggak sampai setengah jam.

Katanya kalau mau ke kawah, kami harus berjalan ke arah kiri dan mengikuti jalur yang ada. Menuju kawah bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau naik kuda. Demi menghemat budget dan biar lebih sehat, kami memilih jalan kaki.

Jalur awal masih berupa jalan datar, terusss berjalan sampai terlihat Gunung Batok di sebelah kanan jalur.

IMG-20150809-WA0028.jpg
Livana, Rischa, Orang Ndak Cakep

Lalu ada cekungan atau mirip lembah ala-ala sebelum tanjakan.

Nah, selepas cekungan itulah… Tanjakan berujung kawah dimulai. Kami yang pakai sepatu dibawah mata kaki berkali-kali melepas sepatu karena pasir pada masuk. Belum lagi susah jalan karena kaki kependem pasir. Tanjakan diatas juga masih panjang.

CIMG1130.JPG
Kami lelah bang…

Kami mah gitu, capek dikit berhenti, foto-foto. Gitu aja terus sampai kawah.

Akhirnya kami sampai batas penurunan kuda. Emn, maksudnya kalau naik kuda ya batasnya sampai situ aja. Dilanjut lagi jalur berpasir sampai di bawah tangga. Ada perasaan lega, tapi campur mager. Gimana nggak mager kalau tangganya sepanjang itu. Belom lagi tangganya ada yang nggak rata gitu.

IMG-20150807-WA0000.jpg
Pusing yak lihatnya!

Setelah melewati tangga yang nggak habis-habis, sampailah kami di ujung tangga. Kami bertiga duduk selonjoran sambil nepuk-nepuk kaki, pegel!

CIMG1133.JPG
Kawah Bromo

Karena di Bromo habis ada acara, jadi tepi kawahnya masih banyak kotoran. Eh bukan kotoran juga sih, mungkin semacam sajen atau apa gitu (nggak ngerti namanya). Melirik ke kawah, ada semacam sensasi ngeri-ngeri syedap.

Terus, kami bertiga nggak foto pas lagi di kawah dong. Oneng!

Nggak lama kemudian, kami memutuskan untuk turun lagi. Matahari masih mentereng, angin pun semakin kencang. Selain pasir yang membuat kami susah berjalan, angin pun membuat pasir terbang dan membuat kami kelilipan berkali-kali.

CIMG1139.JPG
Mereka berdua seneng banget pas jalur turun

Setelah main perosotan sambil kelilipan, kami sampai lagi Pura. Kami segera kembali ke Jeep setelah foto-foto, dan sampai lagi di parkiran mobil.

Kami melanjutkan perjalanan dari Gunung Bromo menuju Gunung Ijen. Aku lupa sih lewat jalur mana (kayaknya lewat Probolinggo), tapi kami melewati kayak pembangkit listrik yang gede banget. Lalu sesudahnya adalah pesisir Pantai (dan aku nggak tau Pantai apaan, wkwkwk).

Pantainya biasa aja. Nggak cakep-cakep amat. Tapi moment munculnya sunset kala itu membuat semuanya kelihatan cantik!

mtf_LUyyC_170.jpg.jpg

Advertisements

20 thoughts on “Bromo: Sebuah Rencana Dadakan

  1. Yang dibuang di kawahnya itu biasanya sesajen plus sedekah hasil bumi mbak, kayak sayur mayur, buah2 gt.

    Pembangkit Listrik Probolinggo itu namanya PJB Paiton. Gede banget. Kalau mbak lewat pas malam, bagus banget, lampu-lampunya menyala. Pabriknya seperti kapal besar yang terdampar dipinggir pantai.
    Nah, kalau pantainya itu aku lupa namanya. Hehehe

    Liked by 1 person

  2. Demi ya din, siang panas panasan pun djabanin ke bromo πŸ˜‚ tp walaupun liat sunrise tetep aja susah banget ngedapetin foto cantik bromo kayak di instagram,kebanyakan orang πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

  3. Bener-bener ajuan cuti secepat kilat hahaha dan temen2nya seru banget sampe bilang bayarnya tar aja kalau gajian. Padahal kan gajian yang mana dia gatau, bisa aja gajian yang taun depan πŸ˜›

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s