Cerita Sore

Balada Dilan dan Milea

WhatsApp Image 2018-01-30 at 1.51.59 PM.jpeg

Tadinya aku nggak mau membahas hal-hal yang berbau Dilan, serius! Karena menurutku, segala hal tentang Dilan udah dibahas oleh banyak orang. Dan aku nggak mau jadi bagian dari orang-orang itu. Meskipun aku termasuk orang yang udah lama mengetahui Dilan. Bahkan sejak beberapa bulan setelah novelnya terbit, lalu ada issue mau diangkat ke layar lebar, sampai filmnya sekarang udah tayang.

Karena kemakluman aku itulah, aku nggak mau ikutan membahas Dilan. Biarin dah kalau pada heboh, yang penting aku enggak.

Tapi karena barusan ada Whatsapp dari Kang Garem yang menyangkut Dilan, akhirnya aku putuskan untuk ikutan membahas Dilan dan Milea.

DM: Kepala aku pusing *beneran pusing karena pas berangkat ngantor keujanan*

KG:Β Apalagi yg sakit? Biar lgsg ke rumah sakit aja. Atau klinik.. Dst ada klinik kn

DM: *langsung ngerasa bete* Oke, aku nggak wa lagi 😊

KG:Β Emg aku dokter? Aku gapunya solusi, solusinya ya minum obat klo nanya aku. Klo mau mesra, pacaran sm dilan

DM: Biarpun bukan dilan, emang kalo cuma dicurhatin nggak mau? Yaudah iya, aku mau sakit kayak apaan juga nggak ngeluh2 lagi. Lagian juga lau lebih sempet like2 di ig orang ketimbang baca wa aku dari tadi pagi 😊

KG: Yaudah sini aku perhatiin, nanti km ke kemang aja, nanti biar lgsg aku ksh pilihan, mau aku getok apa aku jambakin kepala kamu. Tuh aku udh mesra kyk dilan, tp ganteng an aku drpd dia

DM: Sehat?

Kurang asem apa coba percakapan di atas?!

Ini nih yang bikin aku kesel sampai detik ini. Kang Garem maksudnya apaan coba ngebahas-bahas Dilan? Padahal sekalipun aku nggak pernah ngebahas Dilan karena aku biasa aja. Juga nggak pernah punya cita-cita nyari cowok kayak Dilan. Maaf, aku nggak suka segala hal yang terlaluΒ mainstream.

Beneran deh, Dilan itu lagi mainstream banget! Ada banyak instastory atau postingan orang di Instagram yang berisi kalimat Dilan. Juga beberapa grup Whatsapp yang di dalam percakapannya mengutip kalimat Dilan.

Aku… Bosan 😦

Ya nggak salah juga sih sebenarnya. Apapun yang sedang hangat, pasti cepat jadi viral. Dan kalau udah jadi viral, maka orang-orang akan mengikuti. Positifnya jadi bisa mendongkrak film Dilan itu sendiri, bikin orang jadi penasaran se-romantis apakah kisah Dilan dan Milea.

Jadi, berikut ini adalah hal-hal yang ada dibenakku kalau ada yang membahas tentang Dilan dan Milea. Apa aja yang membuat aku memutuskan untuk biasa aja kepada mereka berdua.

1.Β  Berawal dari Galunggung

Pada bulan Juni 2015, aku pernah melakukan satu tindakan nekat… Yaitu pergi ke Tasikmalaya seorang diri! Seriusan din, sendiri? Iya kok, sen-di-ri. Tapi dari Jakarta aja sih sendirinya, sampai sana dijemput sama ex teman kantor (sebut aja Nino) yang udah balik lagi ke kampung halamannya di Tasik. Sebenarnya aku nggak mau berdua doang sama dia, tapi teman kantor aku yang satunya lagi ngebatalin rencana ke Tasik. Karena aku udah ngidam ke Galunggung, dengan polosnya aku minta anter si Nino. Dan nggak berpikir kalau dia bakal geer karena aku minta antar kesana.

2.Β  Ke Tasik adalah ide buruk

Begitu sampai Tasik, tadinya aku mau minta anterin ke Galunggung untuk lihat sunset, kemudian minta cariin penginapan supaya nggak ngerepotin keluarganya. Tapi pas di motor, aku ditakut-takutin dong. Katanya di Galunggung kalau malam itu seram. Enggak, bukan karena hal mistis, tapi karena udah jadi rahasia umum kalau suasana malam disana (katanya) dipenuhi sama orang-orang mesum. Aku sampai melongo sewaktu diceritain, karena anggapan aku Galunggung pasti sama kayak gunung-gunung lainnya yang dijaga sama orang-orang. Eh ternyata di dekat pintu masuk sana, yang dekat kolam pemandian air panas, suka ada orang-orang nakal. Aku pun ciut dan nggak jadi minta kesana malam itu. Akhirnya kami cuma nyari makan dan keliling Tasik, kemudian aku menginap di rumahnya karena menurut Ibunya, nyari penginapan yang aman itu susah. Karena merasa ngerepotin, dan sepanjang keliling Tasik itu Nino mulai aneh, aku merasa bahwa ke Tasik adalah ide buruk!

3.Β  Antara geer atau benar suka?

Seperti duo traveling lainnya, kami menjelajah Galunggung yang saat itu sedang ramai. Karena aku tahu diri, jadi aku ajak ngobrol lah si Nino selama perjalanan. Dan dia juga bercerita tentang keluarganya. Selesai Galunggung, kami mencari makan karena udah siang, dan aku pun minta antar ke Terminal karena aku harus kembali ke Jakarta. Masalah dimulai ketika sekembalinya dari Tasik. Nino yang makin gencar mendekati, dan aku pun cukup suka sama dia. Tapi suka aja nggak cukup yakan. Aku masih berpikir, sebenarnya diantara kami itu apa? Hanya geer atau benar suka?

4.Β  Awal mengenal Dilan

Saat itu juga, saat lagi gencar-gencarnya Nino melakukan pendekatan, aku berkenalan dengan tokoh Dilan. Adalah Hanum yang pertama kali jatuh cinta pada Dilan, kemudian aku mulai mencari tau. Sayangnya waktu itu novel Dilan sedang langka. Aku juga sempat curhat ke Nino kalau aku pengen banget novel itu. Tapi setelah aku mencari di Mall Puri, aku menemukan novel Dilan. Sewaktu aku cerita kalau aku udah menemukan Dilan, Nino cuma lesu gitu menanggapi. Tenyata eh ternyata, dia itu udah keliling toko buku di Tasik buat nyariin pesanan aku, tapi belum sempat bilang kalau udah beliin Dilan, eh aku keburu bilang kalau aku udah beli (ribet yak bahasanya).

5.Β  Balada novel Dilan

Aku, Hanum dan Nino lagi demam novel Dilan. Hanum bilang, Dilan romantis (romantis menurut Hanum ya kayak Dilan). Nino bilang, Milea itu cantik. Aku bilang, aku nggak terlalu bersemangat untuk baca novel Dilan karena mereka berdua udah spoiler, huft. Dan parahnya lagi, novel Dilan bukan kategori happy ending. Sebagai penganut happy ending, jelas aku jadi malas membaca novel itu. Bahkan sampai novel Milea muncul, dan sampai film Dilan jadi, aku masih belum kelar baca novel yang udah aku beli sejak 2,5 tahun lalu. Karena apa? Ya itu, karena nggak happy ending (langsung sungkem ke Ayah Pidi Baiq).

6.Β  Kisah Dilan dan Milea

Pernah suatu hari (karena masih musim novel Dilan), muncul percakapan seperti ini antara aku dan Nino.

“Gue mau jadi Dilan ah,” kata Nino.

“Kenapa?” tanyaku, gagal paham.

“Soalnya lu cantik kayak Milea, dan gue kagum sama lu. Persis kayak Dilan ke Milea,” kata Nino dengan gombalan tingkat tinggi.

Aku cuma bisa ngakak dan menanggapi. “Kalau gitu, nanti gue bakal nikah sama orang lain. Terus lu nikah sama orang lain juga.”

“Lah, kok gitu?”

“Lah, kan Milea akhirnya nggak sama Dilan.”

Kemudian Nino jedotin kepalanya ke tembok, gagal gombal.

***

Beberapa bulan setelah (sebut aja) cinta sesaat itu, hubunganku dan Nino merenggang. Penyebabnya karena apa, aku juga lupa sih. Yang jelas kami jarang komunikasi dan akhirnya memilih jalan hidup masing-masing (caileh bahasanya, padahal mah cuma naksir-naksiran doang). Lagian beda kota, ribet kalau mau jadian.

Sekarang kalau ada yang membahas Dilan, kenangan akan kejadian itu terulang lagi. Bukan untuk disesali, tapi untuk diketawain. Kok dulu aku bisa se-alay itu yak? Bhahaha.

Jadi buat Kang Garem, plis jangan bahas Dilan di depan aku. Cukup orang-orang di Instagram dan grup Whatsapp aja yang ngomongin Dilan, Dilan dan Dilan. Kamu jangan!

Lagian aku nggak mau punya cerita kayak Dilan dan Milea. Karena gini lho, seromantis-romantisnya Dilan dan Milea, mereka nggak berakhir di pelaminan. Mereka hanya sebuah kisah pemanis di masa muda.

Aku lebih memilih jadi Riani di novel 5 cm (novelnya lho ya, bukan filmnya). Selain karena nama Riani mirip kayak nama Ibuku dan nama presenter Jejak Petualang yang aku idolain, Riani di 5 cm adalah sosok yang tegar karena berhasil menahan rasa sukanya ke Zafran selama bertahun-tahun. Bersyukur Riani dan Zafran berakhir dengan happy ending. Ihiwww (ye, kalau 5 cm nggak happy ending juga lu kagak suka din!).

Begitulah.

Tapi selain karena alasan tersebut, aku tetap menikmati kehebohan Dilan kok. Karena ngerasa lucu aja tiap baca plesetan-plesetan yang dibuat warganet, jadi hiburan tersendiri. Sungguh, Dilan menginspirasi warganet untuk lebih kreatif.

Salam Dilan!

Advertisements

39 thoughts on “Balada Dilan dan Milea

      1. Haha itu mah, orangnya yang bermasalah. Tapi kayaknya itu penyakit umum orang indonesia. Sampek ada pepatah bilang, “Kalau mau cepet ngantuk dan tidur, baca buku saja”. #tidakbaik

        Liked by 2 people

  1. Btewe percakapannya bikin sebel, huhu πŸ˜‚ gak maksud mau kompor-komporin kak din, cuma klo lg sakit digituin jadi sebel 😫, pengen rasanya ku hukum, beliin sate padang πŸ˜…

    Liked by 2 people

    1. Emang minta di sleding itu orang! Tapi tenang kak kunu, spesial untuk kang garem utangnya selalu dalam bentuk es kopi di kopisop hitz, ya minimal 2 gelas sih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

  2. Lagi heboh ya ini film? Tapi, aku ga tertarik sama sekali!! πŸ€—
    Mendingan nonton drama korea, penasaran akan jalan ceritanya. Walaupun orang2 udah ga pada demam korea. πŸ˜„πŸ˜„
    Aku terkena virusnya istriku..πŸ˜†πŸ˜†

    Liked by 1 person

  3. Baru baca tweet orang juga yang ga terlalu suka dilan, bapernya udah tingkat dicekokin drama korea mulu, jadinya nonton dilan pun biasa aja πŸ˜‚. Selain bikin baper daya tariknya film ini apa lagi ya

    Liked by 2 people

  4. Saya sebenarnya pengen heboh Dilan juga, Din. Tapi, apa kata dunia?
    Saat ikutan heboh AADC aja, teman2 pada ngakak ngetawain.
    Kesimpulannya, tahu Dilan dan Milea hanya dr kehebohan warganet aja *berharap dilempar novelnya sm Pidi Baiq 😳 *

    Liked by 2 people

  5. Gapapa demam Dilan Milea juga, lama kelamaan juga mereda sendiri hahaha. Aku udah baca 3 novelnya, tapi belum nonton filmnya. Alasannya, sibuk πŸ™‚

    SOSOAN SIBUK SEBEL BET EMANG.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s