Cerita Sore

Babak Kedua

img_33471851009254.jpg

Minggu, 02 Juli 2018

“Pokoknya bulan ini aku mau dateng ke rumah. Siap nggak siap. Kalau kamu nggak mau ya udah, aku belok ke rumah Pevita!” ancam Fahmi alias Kang Garem.

Pevita yang dimaksud adalah Pevita Pearce, artis yang cakepnya 11-15 sama aku itu lho, ihiw.

Aku hanya membalas dengan nada sinis. “Yaelahhh, kayak Pevita mau sama situ aja?!”

“Ya pokoknya begitu dah!” Fahmi kembali menyela.

Oke, jadi mulai sekarang aku akan hilangin sebutan Kang Garem ke Hairul Fahmi. Kenapa? Karena Mbak Mira (mbak aku satu-satunya) takut aku keterusan dan keceplosan manggil dia dengan sebutan ituΒ  di depan khalayak ramai.

Meskipun pembicaraan ini adalah yang aku tunggu, tapi dengar Fahmi ngomong dadakan gini, aku merasa agak kaget. Padahal sih dari bulan Juni kemarin Fahmi udah ngasih aku uit untuk nyicil barang-barang.

Sejak aku pulang dari main bawa barang belanjaan, Ibu Yani (Ibukku) selalu menatap aneh dan melayangkan kode-kode di udara tentang ‘Kapan?’.

Lalu malam itu, setelah kami balik dari beli seragam (yang nggak tau akan dipakai kapan) Fahmi memicingkan mata kemudian mengajak aku untuk makan di Ciledug aja. Padahal biasanya mah, dia mulangin aku di atas jam sepuluh malam. Lah ini baru jam setengah delapan malam udah heboh mau nganter balik.

Aku hanya bisa pasrah dan nurut, dalam hati deg-deg-an nggak karuan. Abisss, wajahnya Fahmi mencurigakan.

“Juli ini Bapak ada acara nggak?” tanya Fahmi sambil nonton tv. Si Bapak yang lagi asik mendadak nengok, kemudian mengingat ada jadwal apa aja di bulan ini.

Obrolan pun berlangsung, dengan aku yang jidatnya udah keluar keringat dingin.

Setelah Fahmi ijin datang ke rumah bersama keluarga untuk silaturahmi, dia pun balik ke Kemang dan masih menyisakan tanda tanya kapan hari tepatnya ke rumah.

Sesampainya Fahmi di Kemang, dia langsung ngeledek… Ciyeh seneng. Lu seneng eug dag dig dug takut dibilang gimana-gimana, kok selama ini blablabla, tapi malah bilang begitu… Kita mah nggak ngejar-ngejar yang penting kalian jaga diri. Tenang gimana gituuu πŸ™‚

Satu minggu sebelum acara, aku menghubungi beberapa teman dekat untuk meminta do’a. Ruth bilang kalau dia nggak bisa, sedangkan Bulan langsung mengiyakan saat aku ketemuan sama dia di Blok M Plaza. Nggak lupa juga, aku bilang pada Hanum. Tapi aku nggak ijinin Hanum untuk datang, mengingat perutnya yang semakin buncits dan acara yang kemungkinan diadakan pada malam hari. Yang penting Hanum tau, dan turut mendo’akan.

Ga’ ada cerita yg pgn gw denger/baca selain cerita ini.. mungkin yg lain jg sama

Hanum menutup obrolan pagi itu dengan kalimat yang membuatku terharu, kamu so sweet Han! Diantara beberapa teman, Hanum salah satu yang mengikuti cerita aku dan Fahmi sejak awal. Bahkan ketika Hanum lagi jaga toko, aku suka ngasih link tulisanku ke Hanum supaya dia nggak ngantuk, wkwkwk.

***

Minggu, 22 Juli 2018

Sejak pagi, rumahku udah ramai dengan beberapa Buibu kampung Gaga tercinta. Padahal mah cuman bikin lemper doang, pasukannya udah ada 4 orang. Begtulah kalau tinggal di kampung, ikatan kekeluargaannya masih kental.

Aku yang dari semalam udah mules-mules, cuma ngajak main keponakan aja. Sesekali bantuin juga sih.

Selesai adzan Maghrib, aku baru beranjak ke kamar mandi. Setelah Fahmi ngabarin kalau dia udah sampai di Cipulir, barulah aku berganti pakaian dan nggak lupa pakai bedak-maskara-lipstik. Ya maklum aja, aku nggak pakai jasa MUA untuk acara ini. Jangankan MUA dan EO kayak lamaran kekinian, tim suskes aku mah cuma Buibu Kampung Gaga tercinta, Bulan dan keluarga.

Berungtunglah aku nggak banyak dandan, karena setelah berganti pakaian keringat di jidat muncul terus, mungkin karena grogi. Aku pun berdiri di depan kipas angin, yang menurut pengakuan Bulan jadi kayak model kipas angin Cosmos Wadesta.

WhatsApp Image 2018-07-22 at 11.31.05 PM
Bedak pun udah mulai luntur!

Lagian itu kipas angin merk Quantum keleus, Bul. Bukan kipas angin Cosmos Wadesta! Btw, kenapa juga itu kipas angin warnanya matching sama baju aku, yeuuu.

Tepat pukul 20.15 WIB, rombongan dari Kemang datang dan bekumpul di rumah sebelah alias rumah tante aku yang lebih luas. Sedangkan rumahku untuk kumpul anak-anak kecil dan yang nggak ikut gabung sama para Orang Tua di sebelah.

Acara dimulai, aku pun semakin grogi dan mules-mules nggak karuan. Gimana ya, hubungan selama 2 tahun akan ditentukan dalam semalam.

wp-15329649815911949809585.jpg
Pertama kali Ibu Yani dan Ibu Wir bertemu

Dari foto yang aku temukan, sepertinya acara pertama adalah sambutan, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku yang sejak dulu pengen banget Fahmi kasih ke aku.

Ini pertama kalinya keluarga kami bertemu. Selama ini hanya kedua anaknya yang berhubungan. Jadi biarpun aku sering main ke Kemang dan Fahmi sering main ke Ciledug, ini pertama kalinya kedua keluarga kami berhubungan dan bertemu langsung.

Nggak lama kemudian, aku dipanggil ke sebelah untuk perkenalan. Dengan salaman ke keluarga Kemang (yang perempuan aja), serta pemakaian cincin oleh Ibu Wir sebagai simbol untuk acara lamaran ini.

IMG_3341
Aku deg-deg-an lho Bu

Kami adalah dua suku yang berbeda, meskipun kami nggak mempermasalahkannya, namun cara penyampaian dari kedua keluarga agak berbeda. Aku hanya duduk di sebelah Ibu Wir sambil mendengarkan.

IMG_3338
Nanti mau punya anak laki banyak ah, biar awet muda kayak Ibu Wir

Misalkan Pakde yang mewakili keluargaku, beliau lebih menceritakan silsilah keluarga secara panjang lebar, dan kadang diselingi lupa urutan karena Pakde beradik banyak.

Sedangkan Abi (Gurunya Fahmi) yang mewakili keluarga Kemang, lebih simpel dan langsung menyampaikan tujuan utama datang kemari. Masalah perkenalan keluarga, nanti bisa dilanjutkan lagi.

IMG_3358
Kalau dari tinggi badan, ketebak lah ya keluargaku yang mana aja

Selesai acara inti, kami ber-enam foto bersama dan kami sungguh-sungguh mirip pasukan upacara bendera di Istana Merdeka untuk 17 Agustusan nanti, wkwkwk.

Sementara yang lain makan malam, aku masih berkutat dengan kemulesan yang nggak kunjung reda. Makan juga belom napsu, bekas groginya masih ada.

IMG_3372
Ketika jariku nggak se-instagramable jari Mbak yang lamaran lainnya, huft!

Nggak lupa, kami berfoto dengan Njun Njew. Keponakannya Fahmi (anak dari sahabatnya) yang sejak pertama kenal udah bikin aku jatuh cinta. Anggi yang udah dianggap adik oleh Fahmi, adalah seseorang yang membuatku banyak belajar. Baik tentang kehidupan rumah tangga maupun tentang sifat nyebelin pria-pria Kemang yang kalau lagi ngambek minta di geragot banget.

IMG_3378
Kami berdua sayang kalian

Rombongan Kemang pun pamitan dan berjalan ke gang depan setelah acara selesai. Aku mengajak Bulan untuk kesana karena aku belum salaman.

Ketika dadah-dadah, aku nggak sengaja pakai tangan kiri dan langsung mendapat surakan dari Fahmi… “Shombong amat luh, mentang-mentang jari kirinya udah ada cincin, dadah aja pake tangan kiri, wkwkwk…”

Asem!!!

***

Buatku, lamaran adalah babak kedua. Setelah babak pertama terjadi pada 2 tahun lalu. Pada malam itu, aku lupa tanggal berapa. Sewaktu Fahmi mengantar aku pulang, di atas motor dia bisik-bisik pelan… Tungguin aku yak, 2 tahun.

Aku yang demen protes, langsung protes. “Ogah ah, kelamaan. Pokoknya 1,5 tahun titik!”

Berani-beraninya aku bikin penawaran, padahal saat itu aku dan Fahmi baru kenal 3 bulanan. Fahmi pun hanya bisa garuk-garuk kepala, mungkin dia pusing sama aku.

Tapi setelah dijalani… 2 tahun terasa cepat (iya iya, akhirnya 2 tahun juga pan). Aku udah nggak minta apa-apa lagi, biar aja Fahmi yang mengatur segalanya. Makanya pas Fahmi bilang mau ke rumah, aku iyain aja. Aku pikir… Mungkin waktu yang tepatnya adalah sekarang.

Jadi begitu ceritanya… Manteman.

Maafin aku yang curhat panjang lebar seperti ini yak. Bukan ada maksud gimana-gimana, sebenarnya aku curhat tentang lamaran pun, masih bikin deg-deg-an. Karena ya, baru lamaran doang hellowww.

Tapi aku punya maksud lain. Karena aku ingin berbagi pada teman-teman blog yang selama ini menjadi salah satu bagian yang tau cerita antara aku dan Fahmi. Do’akan kami biar lancar yak, terima kasih πŸ™‚

Advertisements

26 thoughts on “Babak Kedua

  1. Uhuuuuuuuuy… barakallahu Din. Semoga lancar jaya sampe hari H. Btw lihat foto kamu dan si akang, bagaikan jari telunjuk dan jempol berdiri bersisihan :D.
    Gimana rasanya di lamar? Gemetar gak? Tunggu ajah pas pengucapan ijab kabul, rasanya kayak mau salto belakang. Daaaaan pada saat malam *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit*
    .
    .
    .
    Udah ah komennya, ntar eyke kena UU ketidaksholehah-an *kibaspashmina*

    Liked by 1 person

    1. Aamiin, makasih kak. Aku gede bener dong kalo jempol, ya abis aku lupa naek kursi pas foto πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Malam apaaaaaaa????? Duh, ntar bahaya nih kalo aku kepo πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

  2. Pas liat postingannya di home, kukira cuma kebetulan aja foto deket kipas angin. Taunya bakalan dibahas loh πŸ˜€ πŸ˜€

    Barakallah Dinii, semoga lancar, dimudahkan dan selalu diiring kebaikan dalam persiapan hari baiknya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s