Cerita Pagi

Long Time No See

Berhubung jam segini aku masih melek dan ngayap di Jogja, aku akan curhat tentang yang hal yang bikin aku sedih kemarin.

Lha, lu pan lagi jalan-jalan Din, kok syedih???

Namanya ugha perempuan ye, jadi biarpun lagi jalan-jalan juga ada sisi sedihnya.

Kemarin siang, kita ramean berkunjung ke makam Mbah di deket rumah (rumahnya Mbah). Terus udahannya kita mampir ke makam Om yang letaknya di Desa Sumberjo, kurang lebih 20-30 menitan lah dari rumah Mbah.

Sampai di pertigaan, mataku mulai mengembang. Ya Alloh, rasanya masih sedih tiap ke makam ini. Rasa kangen mendadak muncul tanpa bisa di kontrol.

Masuk ke wilayah makam, air mataku semakin ngalir. Aku jongkok di dekat makam, sedangkan Baba Gan menaruh sepucuk bunga yang doi ambil di deket pintu masuk dan menaruhnya di atas makam, bunga untuk adik ipar sekaligus soulmate sedari muda.

Om… Dapet salam dari keluarganya Mbak Mira (Mbakku), dari Mas Rio (anaknya Om yang paling besar) sekeluarga. Kita semua kangen ngen ngen. Biarpun nama Om ada di dalam do’a kami, tapi tetap aja rasanya beda kalau udah di sini.

Dulu… Om pesan kalau cari laki itu yang baik, yang sabar, yang sayang sama aku, kalau bisa jangan yang merokok.

Alhamdulillah aku udah dapet Om. Yang kemarin aku bawa ke rumah terakhir Om. Insya Alloh, udah sesuai sama pesan Om.

Setelah ke makam, kami mampir juga ke rumah Mbah Jaminem. Ibu dari almarhum Om. Letak rumahnya nggak terlalu jauh dari makam.

Rumah itu tampak sepi, kami sempat melongok ke dalam, sampai muncul sesosok Mbah perempuan dari rumah seberang. Mbah itu bilang, kalau Mbah Jaminem ada di rumah sebelah. Aku tau Mbah Jaminem emang ada di sana. Aku mengikuti Mbah itu, dan mendapati Mbah Jaminem sedang tertidur dengan mata yang emang udah susah melihat.

Dan sejak itu… Air mataku nggak bisa berhenti mengalir. Sesekali aku masuk, kemudian keluar dan memilih untuk duduk di dalam mobil sambil mengusap wajah dengan tissue.

Sepeninggal Om, ada banyak hal yang berubah. Bukan hanya keluarga di Ciledug, tapi yang di kampung juga.

Kang Garem yang tadinya lagi ngediemin karena ulahku (emang si Dini mah demen amat cari perkara), kini mendekat dan mengusap bahu serta kepalaku.

“Uwuwwww, tayangggggg.”

Aku balas melotot.

“Kamarnya Mbah lagi dibenerin,” katanya.

Aku menggeleng kuat. Biarlah apa yang kemarin kami berlima (aku, Kang Garem, Bu Yani, Baba Gan, Budeh Tumi) rasakan hanya ada di dalam hati kami. Biar kami simpan agar nggak ada pihak yang terluka. Semoga Alloh SWT mengampuni apa yang terjadi di rumah itu.

“Kok lau negor aku? Kan lagi ngambek?” tanyaku disela-sela tangis.

“Gue nggak tega liat lu nangis,” balasnya.

Aku senyum-senyum sambil mengusap mata yang mulai mengering. Ternyata hal ini pun ada hikmahnya. Banyak banget malah hikmah yang bisa kami ambil.

“Kalo gitu nanti aku mau minta sepatu Vans sambil nangis ah, biar dibeliin,” kataku jujur.

Dan satu jitakan melayang di kepalaku.

Advertisements

10 thoughts on “Long Time No See

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s