Cerita Pagi

Ranu yang Dulu vs Sekarang

30c81ac6-32d7-46bb-90c1-4f09697c4743

Sebenarnya, ada hasrat yang menggebu untuk menulis selama aku cuti melahirkan 3 bulan. Tapi ternyata tidak semudah itu ferguso, aku malas dan selalu gagal menulis. Seandainya ada, hanya tentang kelahiran Ranu dan anniv nikahan aku.

Padahal, ada banyak yang mau aku ceritain tentang Ranu, tentang bagaimana merawat bayi newborn yang spesial seperti Ranu. Yha sudah, kalau begitu sekarang aja ya curhatnya (kemudian dilempar batu sama netijen karena bertele-tele).

***

Sebelumnya aku udah curhat moment lahiran kemarin dan apa aja yang terjadi sama Ranu sewaktu baru lahir. Tenyata eh ternyata, pas usia Ranu 5 hari, aku harus balik lagi ke dokter anak sewaktu dia lahir untuk vaksin Hepatitis B yang belum dilakukan saat baru lahir karena berat badan Ranu yang dibawah standar rumah sakit tersebut.

Aku dapat antrian nomor 5 dan ke Rumah Sakit barengan Kang Garem dan Ibunya Kang Garem serta anak bayik yang lagi bobok anteng. Sampai sana aku ke bagian pendaftaran, kemudian Ranu dipanggil untuk di timbang dan di ukur.

Saat itu BB Ranu 2,1 kg, hanya naik setengah kilo mengingat saat pulang ke rumah BB Ranu 2,05 kg. Aku nggak tau sih, mungkin emang segitu terlalu ringan untuk kenaikan bayik.

Akhirnya aku masuk ke dalam ruang dokter anak yang datangnya ngaret itu barengan sama Nenek (untuk selanjutnya mari kita sebut Ibunya Kang Garem dengan panggilan Nenek). Dokter itu menatap kami berdua dengan wajah sebal, kemudian berkata dengan nada yang bagiku cukup menusuk.

“Aduh, anaknya lemas sekali, nggak ceria. Nggak bisa ini. Dia harus dirawat inap biar nggak lemas lagi. Begini saja, saya buatkan surat pengantar untuk ke RSUD. Kalau dalam waktu 3 hari anak ini masih lemas, kalian bisa bawa ke RSUD untuk dirawat.”

Setelah keluar dari ruangan itu, aku dan Nenek cuma bisa melongo. Anak bayik umur 5 hari kalau ceria itu gimana sih wujudnya? Heran.

Meskipun di jalan kami bertiga sempat ketawa membayangkan di ruangan tadi, begitu malam datang dan hanya ada aku serta Kang Garem, nggak terasa air mataku tumpah juga.

“Beb, menurut kamu Ranu bisa gede nggak?” tanyaku sambil menatap Ranu yang lagi bobok. Aku cuma bisa nangis dipelukan Kang Garem, rasanya sedih saat tau kalau anak bayik harus di rawat.

“Selow aja beb, anak aku tuh pinter. Nanti juga dia jadi gede. Kamu tenang aja apa, lagian kan kita punya Tuhan,” jawabnya yakin.

Meskipun begitu, aku sempat lihat (lebih tepatnya semoga nggak salah lihat) Kang Garem mengusap sudut matanya. Terima kasih Kang Garem yang sejak ada Ranu di perut selalu menenangkan.

Kami memutuskan untuk nggak membawa Ranu ke RSUD. Kami hanya memberi ASI dan susu S 26 LBW seperti saat Ranu di Rumah Sakit. Plis jangan berdebat lagi tentang pemberian ASI maupun SUFOR karena sesungguhnya itu sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Alhamdulillah 2 minggu kemudian BB Ranu naik jadi 2,5 kg dan bisa suntik Hepatitis B karena sudah memenuhi. Anehnya saat aku ke RSUD (saat itu aku masih mencari dokter spesialis anak yang dekat dan terjangkau dari rumah) dokter sana bilang kalau harusnya bayi yang lahir dengan BB 2 kg udah bisa di vaksin Hepatitis B. Dokter sampai menanyakan dimana tempat lahir Ranu, dan ternyata aku belum puas dengan beliau.

Aku masih merasa perkembangan Ranu belum meningkat pesat. Dia masih imut, masih merintih kalau nangis, masih ngempeng ke aku terus. Aku sampai bingung bagaimana agar Ranu cepat besar.

***

WhatsApp Image 2020-02-02 at 11.52.31 PM
Ranu yang dulu, usia 12 Hari

Dengan kekuatan bulan, aku dan Kang Garem pada akhirnya memutuskan untuk kontrol ke Dokter Apin yang hitz dikalangan buibuk Jak-Tim.

Alhamdulillah, sejak ditangai oleh Beliau, perkembangan Ranu semakin pesat dan dia mulai bertumbuh, nggak mengarah ke gizi buruk seperti diagnosa saat awal bertemu Dokter Apin.

WhatsApp Image 2020-02-02 at 11.52.31 PM (1)
Ranu yang sekarang, udah syemok

Lalu bagaimana cara Dokter Apin menyadarkan kami berdua tentang perkembangan Ranu? Nantikan episode selanjutnya, cmiw!

Yang jelas aku banyak bersyukur dengan Ranu yang sekarang. I LOVE YOU 3.000.000 NAK!

6 thoughts on “Ranu yang Dulu vs Sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s