Cerpen

#Cerpen: Perempuan Itu

“Aku pernah kenal satu perempuan, dia itu yang menurut aku paling siap nikah.”

Dari jok belakang, Dea cuma bisa bengong. Ini si Faiz lagi sawan apa gimana? Tiba-tiba nggak ada ujan, eh ngebahas perempuan entah siapa itu. Mungkin karena beberapa hari lalu mereka sedang membahas tentang “Menikah itu butuh kesiapan, bukan hanya karena omongan orang“.

“Siapa deh?” akhirnya Dea kepo.

“Namanya Nanda, lha bukannya aku udah pernah cerita ya?”

“Belum.”

Sambil memperhatikan tukang martabak mana yang buka, Dea mendengarkan Faiz yang bersiap untuk cerita. Tapi ada yang aneh, diantara semua perempuan yang pernah diceritakan oleh Faiz, baru kali ini ada nada yang terdengar berat. Seolah perempuan itu pernah jadi yang terbaik bagi Faiz.

“Namanya Nanda, dia itu dulu temen se-genk mantan aku. Anggita juga kenal sih sama Nanda.”

“Ohhh.”

“Dia itu adalah 1% di hati aku.”

Mata Dea agak sedikit panas, padahal cuacanya sedang teduh.

“Heumn, mulai dari mana ya. Gini, Nanda itu sekolahnya masih dibawah aku. Dulu pas masih sekolah kita suka nongkrong bareng gitu. Dia baik, dewasa, putih banget deh. Kita sama-sama tau kalau saling suka. Tapi, dari dulu aku itu selalu ngerasa kalau kita berdua nggak pernah jodoh. Misalkan dia jomblo, eh aku lagi punya pacar. Atau aku jomblo, eh dia lagi punya pacar. Selaluuu gitu, nggak pernah ketemu. Tapi selama itu juga, dia selalu ada di hati aku biarpun porsinya cuma 1%.”

“Heumn, gitu. Sekarang masih juga dong?” Dea berusaha menegarkan suaranya supaya nggak bergetar. Untuk urusan seperti ini, entah kenapa Dea selalu merasa cemen, payah. Setiap mendengarkan cerita Faiz tentang perempuan-perempuan itu, dia selalu merasa jadi yang terburuk.

“Enggak lah, itu dulu sebelum dia nikah. Pas dia mau nikah itu, dia dateng ke aku. Dia minta aku aja yang nikahin dia. Tapi ya mau gimana, aku belum siap. Lagian waktu itu aku lagi pacaran sama Endah,” jawab Faiz dengan nada santai.

“Kenapa kamu nggak mau nikahin? Kan menurut kamu dia udah siap banget nikah. Dan kamu suka banget kan sama dia?” tanya Dea dengan nada julid.

“Weitsss, selow lah nggak usah nge-gas wkwkwk. Aku dulu belom siap nikah, kerjaan belum tetap, lagian mahal bos kalau nikahin orang betawi asli. Apalagi keluarganya Nanda begitu. Lah mending aku mundur.”

“Kenapa dia minta nikahin kamu pas dia udah mau nikah? Kenapa dia nggak jujur aja dari dulu. Dan kenapa dia mau nikah sama cowok itu?”

“Orang tuanya udah sakit-sakitan. Makanya pas disuruh nikah sama cowok itu, dia mau aja. Ya karena cowok itu udah bisa nafkahin dia, keluarganya juga udah kenal. Dia juga mau liat orang tuanya lega liat anak bontotnya nikah. Tapi sampai sekarang dia masih suka ‘pantau’ aku. Jadi kamu sabar aja yak.”

Cerita ini terdengar terlalu drama, tapi emang kenyataannya begitu. Sedih juga ya kalau jadi Nanda, bingung harus bersikap bagaimana. Sebagai anak bontot, Dea juga paham kalau ada rasa takut di saat lihat orang tua sedang nggak dalam keadaan baik-baik aja.

“Bagaimana kalau sampai sekarang Nanda masih jadi si 1%?”

Yah, minder lagi kan Dea. Faiz sih nyeritain sisi baik orang-orang melulu. Giliran Dea selalu tampak kurang baik, huft.

Setelah berkeliling nyari tukang martabak yang ternyata nggak pada buka, Faiz kembali melajukan motornya ke rumah Ling Ling keponakannya dan hanya membawa ice cream serta ciki yang dibeli di minimarket.

“Turun, Neng.”

Dea baru sadar kalau udah sampai di depan pagar rumah Ling Ling. Rumahnya sepi dari luar, mungkin pada nonton tv. Sebelum masuk, Faiz mencegat langkah Dea, lalu mensejajarkan kepalanya dan memperhatikan raut wajah Dea yang sejak diceritain tentang Nanda tadi terlihat aneh, jelek deh pokoknya.

“Kenapa lu?” tanya Faiz tengil.

Dea buang muka, “Enggak apa-apa.”

“Masaaa???”

Dea cuma bisa ngeles, emang si Faiz itu paling nggak bisa dibohongin. Atau Dea aja yang sulit nutupin perasaannya?

Faiz menjitak kepala Dea pelan, lalu menepuknya beberapa kali. “Tenang aja, Nanda orangnya nggak aneh-aneh kok. Biarpun kadang masih suka ‘liat’ gimana orang yang lagi deket sama aku. Tapi kan tetep aja aku yang jalanin. Lagian aku cerita juga cuma keinget, kayaknya aku belum pernah nyeritain dia. Gitu.”

Dea senyum-senyum malu, mungkin suatu saat dia bisa mengikhaskan cerita Nanda. Dan semoga, Nanda nggak pernah jadi bagian di hati Fdaiz biarpun cuma 0,1%.

Dea mengamini do’anya.

2 tanggapan untuk “#Cerpen: Perempuan Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s